Ahlus-Sunnah Adalah Sifat dan Pengamalan, Bukan Sekadar Nama dan Pengakuan

Ahlus-Sunnah adalah orang-orang yang berpegang teguh pada Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam masalah akidah, ibadah, ataupun mu’amalah.

al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

والسنة هي الطريقة المسلوكة، فيشمل ذلك التمسك بما كان عليه هو وخلفاؤه الراشدون من الاعتقادات والأعمال والأقوال، وهذه هي السنة الكاملة، ولهذا كان السلف قديما لا يطلقون اسم السنة إلا على ما يشمل ذلك كله.

“as-Sunnah adalah jalan yang ditempuh. Maka, maknanya mencakup berpegang teguh pada apa yang Nabi dan para Khulafa’ Rasyidin berada di atasnya, baik itu berupa akidah, amalan, dan perkataan. Inilah makna Sunnah yang lengkap. Itu mengapa para salaf (generasi terdahulu) tidaklah mengucapkan kata Sunnah kecuali mencakup hal itu semua.” [1]

Tidaklah dikatakan bahwa seseorang berada di atas Sunnah, kecuali bahwa dia mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam akidahnya, perkataannya, dan perbuatannya.

Qiwamus-Sunnah Abul-Qasim at-Taimiy al-Ashbahaniy rahimahullah berkata,

فقولهم: فلان على السنة، ومن أهل السنة، أي: هو موافق للتنزيل والأثر في الفعل والقول، ولأن السنة لا تكون مع مخالفة الله ومخالفة رسوله.

“Perkataan mereka, ‘Fulan di atas Sunnah, atau termasuk Ahlus-Sunnah,’ maknanya adalah bahwa dia sesuai dengan wahyu dan atsar dalam perbuatannya dan perkataannya. Dan karena Sunnah tidak akan mungkin diiringi dengan penyelisihan terhadap Allah dan Rasul-Nya.” [2]

Oleh karena itu, kita katakan bahwa Ahlus-Sunnah adalah sifat dan pengamalan, bukan sekadar nama dan pengakuan.

Jika seseorang lebih mendahulukan akal dan hawa nafsunya daripada al-Qur’an dan as-Sunnah, maka pada realitanya dia bukanlah Ahlus-Sunnah, walaupun bisa jadi dia mengucapkan klaim bahwa dia adalah Ahlus-Sunnah.

Sebaliknya, jika seseorang memiliki sifat selalu berusaha untuk berpegang teguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah dan selalu berusaha mengamalkan apa yang sesuai dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia adalah seorang Ahlus-Sunnah, walaupun bisa jadi tidak pernah terucap dari lisannya istilah “Ahlus-Sunnah”.

Jika ada yang bertanya: Setiap firqah akan membuat klaim bahwa merekalah yang merupakan Ahlus-Sunnah, sedangkan setiap orang yang menyelisihi mereka akan disebut sebagai orang yang menyimpang dari al-haqq. Maka, dari mana kita bisa mengetahui siapakah yang sebenarnya mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Atau, apakah seluruh firqah itu semuanya berada di atas kebenaran, karena setiap firqah memiliki penafsirannya masing-masing terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah, dan tiap-tiap penafsiran tersebut dibenarkan oleh syari’at?

Maka kita katakan: Adapun klaim bahwa seluruh firqah itu semuanya berada di atas kebenaran, maka ini adalah kesalahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan kepada kita bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan; semuanya berada di Neraka kecuali satu golongan, yaitu golongan yang selamat.

Dari ‘Abdullah ibn ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة، كلهم في النار إلا ملة واحدة، قالوا: ومن هي يا رسول الله؟ قال: ما أنا عليه وأصحابي.

“Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya berada di Neraka kecuali satu golongan.” Kemudian para sahabat bertanya, “Siapakah satu golongan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau lalu menjawab, “Apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.” [3]

Lihatlah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini telah menyebutkan bahwa umat beliau akan terpecah menjadi 73 golongan. Dari 73 golongan tersebut, semuanya berada di Neraka dan hanya ada satu golongan yang selamat. Ini menunjukkan bahwa tidak seluruh firqah dalam Islam itu berada di atas al-haqq. Jika setiap penafsiran mereka terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah itu adalah kebenaran, maka tidak mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam 72 golongan tersebut dengan Neraka.

Kemudian jika ada yang bertanya: Dari mana kita bisa mengetahui siapakah yang sebenarnya berada di atas al-haqq? Siapakah yang sebenarnya mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman dan penafsiran yang shahih?

Maka kita katakan: Pertanyaan ini telah ditanyakan dalam hadits di atas oleh para sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menjawab, “Apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.” Ini menunjukkan bahwa kita harus mengikuti apa-apa yang telah dituntunkan dan diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesuai dengan pemahaman dan pengamalan dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Itulah mengapa kita harus mengikuti manhaj salaf dalam beragama. Yakni, mengikuti manhaj atau cara beragamanya para as-salafush-shalih (generasi terdahulu), dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in. Tidak boleh bagi kita untuk menggunakan pemahaman dan penafsiran dengan akal logika kita sendiri, sehingga itu bertentangan atau menyelisihi pemahaman dan penafsiran dari para ulama’ generasi terdahulu.

Bahkan mengikuti manhaj salaf atau cara beragama generasi terdahulu ini adalah bagian dari Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena telah disebutkan dalam hadits di atas bahwa orang-orang yang berada di atas al-haqq adalah mereka yang berpegang teguh pada apa yang Nabi dan para sahabat beliau berada di atasnya. Jangan sampai lisan kita membuat klaim bahwa kita adalah Ahlus-Sunnah, sementara pada hakikatnya kita enggan untuk mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فمن رغب عن سنتي فليس مني.

“Barangsiapa yang benci untuk mengikuti Sunnahku, maka dia bukan bagian dariku.” [4]

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Catatan Kaki:

  1. Jami’ul-’Ulum wal-Hikam, karya ‘Abdur-Rahman ibn Ahmad al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbaliy (2/120). []
  2. al-Hujjah fiy Bayanil-Mahajjah wa Syarh ‘Aqidati Ahlis-Sunnah, karya Isma’il ibn Muhammad Qiwamus-Sunnah Abul-Qasim at-Taimiy al-Ashbahaniy (2/384). []
  3. Hadits shahih, diriwayatkan oleh at-Tirmidziy (no. 2641). []
  4. Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 5063) dan Muslim (no. 1401). []

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top