Carok, Tradisi Madura yang Harus Ditinggalkan karena Bertentangan dengan Islam

Ketika seseorang mengucapkan kalimat syahadat, bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah, maka dia wajib untuk senantiasa tunduk dan taat kepada apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah (wahai Rasul), ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb dari semesta alam.’” [1]

Demikian pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita untuk masuk Islam secara kaffah, yakni secara keseluruhan dan tidak setengah-setengah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaffah (secara keseluruhan), dan janganlah kalian mengikuti jejak langkah syaithan, karena sesungguhnya dia bagi kalian adalah musuh yang nyata.” [2]

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk meninggalkan segala bentuk tradisi, budaya, dan adat-istiadat, jika itu tidak sesuai dan bertentangan dengan Islam. Tidak boleh bagi kita, di satu sisi melaksanakan perintah Allah seperti shalat, zakat, dan puasa Ramadhan, dan menjauhi larangan Allah seperti makan babi dan minum khamr, tetapi di sisi yang lain justru bangga, melakukan, dan melestarikan tradisi-tradisi yang tidak sesuai dengan Islam tersebut.

Di antara tradisi yang bertentangan dengan Islam adalah carok, yaitu tradisi di Madura untuk menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan harga diri dengan cara berkelahi menggunakan senjata tajam yaitu celurit.

Pada banyak kasus carok yang terjadi, salah satu pihak yang berduel bahkan sampai tewas terbunuh. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, dia kekal di dalamnya, dan Allah murka kepadanya, melaknatinya, dan mempersiapkan ‘adzab yang besar baginya.” [3]

Perhatikan ayat ini! Seharusnya balasan terhadap dosa pembunuhan itu adalah kekal di Neraka Jahannam, Allah murka kepadanya, Allah melaknatinya, dan Allah mempersiapkan ‘adzab yang besar baginya. Akan tetapi, karena rahmat dari Allah, maka Allah tidak sampai menjebloskan pelaku pembunuhan ke dalam Neraka Jahannam secara kekal di dalamnya, karena dalil-dalil lain menunjukkan bahwa pelaku pembunuhan itu tidak sampai pada derajat kafir, sehingga dia tidak akan kekal di Neraka selamanya. Tetapi, cukuplah ayat di atas untuk menunjukkan betapa besar dosa pembunuhan itu di Sisi Allah!

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena dia telah membunuh orang lain (yakni, bukan dalam rangka menerapkan hukum qishash), dan bukan karena dia berbuat kerusakan di muka bumi, maka dia seolah telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.” [4]

Ini sekali lagi menunjukkan betapa besar dosa pembunuhan itu di Sisi Allah, yaitu bahwa pelakunya seolah membunuh manusia seluruhnya. Dengan kata lain, nyawa manusia walaupun satu orang itu tidak ternilai harganya. Ayat di atas kemudian menyebutkan dua pengecualian terhadap hukum ini. Yang pertama adalah jika orang tersebut dikenakan hukum qishash oleh ulil-amri karena dia telah membunuh orang lain sebelumnya. Pengecualian yang kedua adalah jika orang tersebut berbuat kerusakan di muka bumi, seperti orang kafir yang memerangi kaum muslimin, orang yang melakukan zina, perampokan, dan begal.

Di satu sisi, kita mengatakan bahwa kita mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi, di sisi lain, apakah kita telah mendengarkan dan taat kepada sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berikut,

اجتنبوا السبع الموبقات. قالوا: يا رسول الله، وما هن؟ قال: الشرك بالله، والسحر، وقتل النفس التي حرَّم الله إلا بالحق، وأكل الربا، وأكل مال اليتيم، والتولي يوم الزحف، وقذف المحصنات المؤمنات الغافلات.

“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan.” Para sahabat lalu bertanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh nyawa manusia yang Allah haramkan kecuali secara haqq, makan riba, makan harta anak yatim, kabur dari medan peperangan, dan menuduh wanita yang menjaga kehormatannya, beriman, dan jauh dari zina, bahwa dia telah berbuat zina.” [5]

Bahkan walaupun carok tersebut (atau duel dan perkelahian secara umum) tidak sampai berujung pada pembunuhan dan kematian, maka ini tetap saja merupakan perkara yang besar, perkara yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari al-Ahnaf ibn Qais rahimahullah, bahwa beliau berkata,

ذهبت لأنصر هذا الرجل، فلقيني أبو بكرة، فقال: أين تريد، قلت: أنصر هذا الرجل، قال: ارجع، فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إذا التقى المسلمان بسيفيهما، فالقاتل والمقتول في النار، فقلت: يا رسول الله، هذا القاتل، فما بال المقتول؟ قال: إنه كان حريصا على قتل صاحبه.

“Aku pergi untuk membantu seseorang (untuk berperang), lalu Abu Bakrah menemuiku dan berkata, “Ke mana engkau akan pergi?” Aku menjawab, “Aku hendak menolong orang tersebut.” Lalu Abu Bakrah berkata, “Kembalilah, sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika dua muslim bertemu dengan kedua pedangnya, maka yang membunuh dan yang dibunuh itu di Neraka.’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, itu bagi yang membunuh. Lalu mengapa dengan yang dibunuh?’ Beliau lalu menjawab, ‘Sesungguhnya dia juga ingin membunuh temannya tersebut.’[6]

Oleh karena itu, buang jauh-jauh pepatah yang telah mendarah daging di antara kita orang-orang Madura, “Ango’an pote tolang etembang pote matah,” yang bermakna, “Lebih baik putih tulang daripada putih mata,” yakni lebih baik mati daripada malu, karena harga diri yang terinjak-injak tetapi kemudian tidak mampu atau tidak berani melawan dengan melakukan carok.

Buang jauh-jauh pepatah di atas dan tradisi carok ini, karena keduanya tidak sesuai dan bertentangan dengan Islam, dan ia adalah perkara yang dimurkai dan dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Justru yang seharusnya menjadi pepatah kita adalah, “Ango’an olle ridha’nah Se Kobasah, etembang ekello’ apoy neng Nerakah,” yang bermakna, “Lebih baik mendapatkan ridha’ dari Yang Maha Kuasa, daripada terbakar api di Neraka.” Yakni, ketika ada masalah, lebih baik bagi kita untuk bersabar karena Allah dan menahan diri karena Allah, walaupun bisa jadi dicela dan diremehkan oleh orang lain, daripada kita melakukan tindakan yang mengundang murka dari Allah dan dapat menjerumuskan kita ke dalam Api Neraka.

Janganlah kita berbangga-bangga dengan sesuatu yang tidak sesuai dan bertentangan dengan Islam. Tetapi, banggalah dengan Islam! Carilah kejayaan, keperkasaan, dan kemuliaan dengan Islam, bukan dengan budaya, tradisi, adat-istiadat, dan pepatah yang tidak sesuai dengannya.

Ingatlah perkataan ‘Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang amirul-mu’minin, seorang yang sangat disegani oleh kawan dan lawan karena ketakwaan dan keperkasaannya,

إنا كنا أذل قوم فأعزَّنا الله بالإسلام، فمهما نطلب العزة بغير ما أعزَّنا الله به أذلَّنا الله.

“Kita dulu adalah kaum yang paling hina, tetapi Allah lalu memberikan kita kejayaan dengan Islam. Maka, jika kita sekarang justru mencari kejayaan dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita.” [7]

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memudahkan kita untuk istiqamah dalam meraih keridhaan-Nya dan juga menjauhkan kita dari hal-hal yang membuat-Nya murka.

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Catatan Kaki:
  1. Surat al-An’am: 162. []
  2. Surat al-Baqarah: 208. []
  3. Surat an-Nisa’: 93. []
  4. Surat al-Ma’idah: 32. []
  5. Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 2766, 6857) dan Muslim (no. 89). []
  6. Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 31, 6875) dan Muslim (no. 2888). []
  7. Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitab beliau, al-Mustadrak ‘alash-Shahihain (no. 207). []

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top