Orang yang Paling Jauh dari Perbuatan Terorisme dan Kezhaliman

Jika seseorang beriman kepada Allah dan berusaha untuk istiqamah di atas agama Allah dengan dilandasi oleh ilmu dan pemahaman agama yang benar dan tidak setengah-setengah, maka dia akan menjadi orang yang paling jauh dari perbuatan terorisme dan kezhaliman.

Dia akan menjaga nikmat aman dalam suatu negeri, karena dia mengetahui bahwa nikmat aman adalah salah satu nikmat yang Allah berikan kepada para hamba-Nya yang tidak boleh untuk disia-siakan begitu saja, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَقَالُوا إِن نَّتَّبِعِ الْهُدَىٰ مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ أَرْضِنَا ۚ أَوَلَمْ نُمَكِّن لَّهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَىٰ إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِّزْقًا مِّن لَّدُنَّا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan mereka berkata, ‘Jika kami mengikuti petunjuk bersamamu, maka sungguh kami akan diusir dari negeri kami.’ Apakah Kami tidak menjadikan untuk mereka negeri yang aman, yang didatangkan ke tempat itu segala macam buah-buahan untuk menjadi rezeki bagimu dari Sisi Kami? Akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.” [1]

Demikian pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَ

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan negeri mereka sebagai negeri yang aman, sedangkan manusia di sekitarnya saling bunuh-membunuh satu sama lain? Maka mengapa mereka justru beriman kepada yang bathil dan kufur kepada nikmat Allah?” [2]

Jika seseorang memiliki perhatian kepada ilmu agama yang lurus, maka dia akan menjadi orang yang paling jauh dari perbuatan kezhaliman, sebagaimana dalam sebuah hadits qudsiy yang diriwayatkan oleh Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يا عبادي، إني حرَّمتُ الظلم على نفسي، وجعلتُه بينكم محرَّما، فلا تظالموا.

“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas Diri-Ku sendiri, dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling berbuat kezhaliman.” [3]

Dia akan menjadi orang yang paling jauh dari perbuatan membunuh orang lain tanpa hak, sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Ahnaf ibn Qais rahimahullah, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا التقى المسلمان بسيفيهما فالقاتل والمقتول في النار. فقلت: يا رسول الله، هذا القاتل فما بال المقتول؟ قال: إنه كان حريصا على قتل صاحبه.

“Jika dua orang muslim bertemu dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang dibunuh sama-sama di Neraka.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, ini yang membunuh. Lalu mengapa dengan yang terbunuh?” Beliau kemudian menjawab, “Sesungguhnya dia memiliki keinginan untuk membunuh temannya tersebut.” [4]

Dia akan menjadi orang yang paling jauh dari mengambil harta orang lain tanpa hak, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta di antara kalian secara bathil, kecuali melalui jalan perniagaan secara ridha’ di antara kalian. Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allah itu Maha Penyayang kepada kalian.” [5]

Merusak harta orang lain secara bathil itu juga termasuk dalam larangan di atas. Oleh karena itu, seseorang yang beriman kepada Allah dan memiliki ilmu agama yang lurus, maka dia tidak akan melakukan aksi pengeboman, yang konsekuensinya adalah ada nyawa yang dibunuh secara tanpa hak dan harta yang dirusak juga secara tanpa hak.

Bahkan ayat di atas juga melarang kita untuk melakukan bunuh diri, sehingga ayat di atas juga mencakup larangan melakukan aksi bom bunuh diri sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para teroris!

Demikianlah sebagian sifat dari orang yang beriman kepada Allah dan memiliki ilmu dan pemahaman agama yang lurus. Dia memahami bahwa agama Islam ini adalah agama yang penuh rahmat bagi semesta alam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Tidaklah Kami mengutusmu (wahai Rasul), kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam.” [6]

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Catatan Kaki:

  1. Surat al-Qashash: 57. []
  2. Surat al-’Ankabut: 67. []
  3. Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 2577). []
  4. Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 31 dan 6875) dan Muslim (no. 2888). []
  5. Surat an-Nisa’: 29. []
  6. Surat al-Anbiya’: 107. []

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top