Salah Ilmu dalam Bahasa Arab Bisa Mengakibatkan Penyimpangan dalam Masalah Akidah

Salah satu prinsip dari manhaj Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah adalah belajar ilmu syar’iy hanya kepada orang-orang yang berilmu dan terpercaya ilmunya, yaitu yang lurus akidahnya dan manhajnya. Tidak boleh bagi kita untuk belajar kepada orang yang menyimpang dan orang yang diragukan keilmuannya, walaupun itu dalam bidang-bidang ilmu syar’iy yang secara zhahir tampaknya tidak berkaitan langsung dengan akidah dan manhaj, seperti ilmu nahwu dan sharaf.

Itu karena setiap bidang ilmu syar’iy memiliki keterkaitan satu sama lain. Dalam ilmu nahwu, terdapat beberapa kaidah yang memiliki hubungan yang erat dengan masalah akidah. Barangsiapa yang salah dalam kaidah Bahasa Arab tersebut, maka itu akan membuatnya tergelincir ke dalam penyimpangan dalam masalah akidah, na’udzu billahi min dzalik.

Contohnya adalah dalam masalah apakah makhluk dapat melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Merupakan akidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah bahwa kaum mukminin akan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di Padang Mahsyar dan juga di Surga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ * إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah yang pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat.” [1]

Dari Jarir ibn ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata,

كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم، فنظر إلى القمر ليلة البدر، فقال: إنكم سترون ربكم كما ترون هذا القمر، لا تضامون في رؤيته.

“Kami sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau melihat bulan pada malam bulan purnama. Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan berdesak-desakan dalam melihat-Nya.’[2]

Inilah akidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, yaitu bahwa kaum mukminin akan melihat Allah di Padang Mahsyar dan kemudian di Surga. Akan tetapi, orang-orang yang menyimpang dari kalangan ahlul-bid’ah mengingkari akidah ini. Misalnya, Mahmud ibn ‘Umar az-Zamakhsyariy, salah seorang gembong Mu’tazilah, mengingkari akidah ini dan membawakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut sebagai dalil,

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَانِي

“Dan ketika Musa datang pada waktu yang telah ditentukan, dan Rabb-nya berfirman kepadanya, maka dia (Musa) berkata, ‘Wahai Rabb-ku, tampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Allah berfirman, ‘Engkau tidak akan melihat-Ku.’ [3]

az-Zamakhsyariy berkata bahwa kata lan (لن) pada ayat ini berfungsi untuk menafikan secara selamanya. Yakni, “Engkau tidak akan melihat-Ku,” maksudnya adalah, “Engkau tidak akan melihat-Ku selamanya, termasuk juga di Padang Mahsyar dan di Surga.” Jika Nabi Musa ‘alaihis-salam saja tidak akan melihat Allah selamanya, baik di dunia dan juga di akhirat, maka demikian pula dengan orang-orang lainnya selain beliau. Inilah akidah yang menyimpang dari Mu’tazilah dan orang-orang yang bersama mereka.

Dengan kata lain, az-Zamakhsyariy mengingkari akidah yang haqq dari Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dengan membuat klaim bahwa ada kaidah berikut ini dalam Bahasa Arab,

أن (لن) تفيد النفي في الاستقبال والتأبيد.

“Bahwa lan itu berfungsi untuk menafikan di masa mendatang dan untuk menafikan secara selamanya.”

Padahal, dalam Bahasa Arab, kaidah yang benar adalah sebaliknya, yaitu

أن (لن) تفيد النفي في الاستقبال ولا تفيد التأبيد.

“Bahwa lan itu berfungsi untuk menafikan di masa mendatang dan tidak bermakna menafikan secara selamanya.”

Ibnu Malik rahimahullah berkata,

ومن رأى النفي بلن مؤبدا // فقوله اردد وسواه فاعضدا

“Barangsiapa yang meyakini bahwa penafian dengan lan itu adalah secara selamanya // maka perkataannya itu tolaklah, dan perkataan lainnya peganglah kuat-kuat.”

Demikian pula, ingatlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman di dalam al-Qur’an,

قُلْ إِن كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِندَ اللَّهِ خَالِصَةً مِّن دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ * وَلَن يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

“Katakanlah (wahai Rasul), ‘Jika kalian menganggap bahwa Negeri Akhirat (Surga) di Sisi Allah itu khusus untuk kalian dan bukan untuk selain dari kalian, maka inginkanlah kematian, jika kalian adalah orang-orang yang benar.’ Mereka tidak akan menginginkan kematian itu selamanya, karena dosa-dosa yang telah diperbuat oleh tangan-tangan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang berbuat zhalim.” [4]

Jika orang-orang Yahudi itu memang yakin bahwa Surga Allah khusus hanya untuk mereka, maka silakan inginkan kematian tersebut yang hanya dengannyalah mereka bisa sampai ke dalam Surga, di mana menurut klaim mereka Surga itu khusus hanya untuk mereka saja. Akan tetapi, Allah menyebutkan bahwa mereka tidak akan menginginkan kematian selamanya, dengan menggunakan redaksi لن يتمنوه أبدا (tidak akan menginginkan kematian selamanya).

Para ulama’ berkata bahwa jika memang lan itu berfungsi untuk menafikan secara selamanya, maka tidak perlu ada kata أبدا (selamanya) dalam ayat tersebut.

Kemudian, faktanya adalah ternyata orang-orang Yahudi nanti, dan seluruh orang kafir lainnya di Neraka Jahannam, pada akhirnya akan menginginkan kematian ketika mereka sudah masuk Neraka Jahannam!

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُم مَّاكِثُونَ

“Mereka (orang-orang kafir di Neraka Jahannam) berseru, ‘Wahai Malik, biarkanlah Rabb-mu membunuh kami saja.’ Dia menjawab, ‘Kalian akan tetap tinggal.’” [5]

Yakni, para penghuni Neraka Jahannam akan berkata kepada Malaikat Malik, penjaga Neraka Jahannam, agar Allah membunuh mereka saja. Mereka menginginkan kematian karena mereka tidak tahan dengan dahsyatnya ‘adzab Allah di Neraka Jahannam! Ini menunjukkan bahwa penafian dengan menggunakan lan tentang orang-orang Yahudi, yaitu bahwa mereka tidak akan menginginkan kematian selamanya, maksudnya adalah penafian selama di dunia. Adapun di Akhirat, maka justru mereka akan menginginkan kematian tersebut dengan dalil ayat yang telah kita jelaskan di atas.

Ini menunjukkan bahwa untuk bisa istiqamah di atas akidah yang lurus, yaitu akidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, maka wajib bagi kita untuk menggunakan kaidah الجمع بين الأدلة, yaitu menggabungkan seluruh dalil yang membicarakan tentang suatu permasalahan. Tidak boleh bagi kita untuk mengambil hanya sebagian dalil, lalu melupakan sebagian dalil yang lain. Apalagi jika mengambil hanya sebagian dalil, lalu menggunakan kaidah yang salah dalam Bahasa Arab, untuk mengingkari akidah yang lurus dan mendukung akidah yang menyimpang. Maka, ini lebih-lebih lagi bisa membuat seseorang akhirnya terjerumus ke dalam penyimpangan dalam masalah akidah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kita hidayah dan petunjuk agar selalu bisa istiqamah di atas akidah dan manhaj yang lurus.

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Catatan Kaki:
  1. Surat al-Qiyamah: 22-23. []
  2. Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 554, 573, 4851, 7434, 7436) dan Muslim (no. 633). []
  3. Surat al-A’raf: 143. []
  4. Surat al-Baqarah: 95. []
  5. Surat az-Zukhruf: 77. []

2 thoughts on “Salah Ilmu dalam Bahasa Arab Bisa Mengakibatkan Penyimpangan dalam Masalah Akidah”

  1. عبد الله

    جزاكم الله خيرا جزيلا على العلم تكتبه
    هذا مثل “لن” التي يضلّ مؤتزلي بها
    فهل شيء آخر التي يضلّ الناس البدعي اليومَ؟

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top