Bagaimana Cara Menghindari Waswas ketika Melakukan Wudhu’, Shalat, dan Amalan Ibadah Lainnya?

Di antara hal yang wajib untuk kita hindari ketika melakukan amalan ibadah adalah waswas.

Penyakit ini dapat muncul, misalnya, ketika seseorang melakukan wudhu’. Dia merasa ada bagian dari anggota wudhu’-nya (seperti wajah, atau tangan, atau kakinya) yang belum terkena air, sehingga dia terus-menerus dan berulang kali membasuh anggota wudhu’ tersebut.

Penyakit ini juga dapat muncul ketika seseorang melaksanakan shalat, seperti ketika dia melakukan takbiratul-ihram. Dia akan melaksanakan takbiratul-ihram sekali, kemudian dia batalkan shalatnya tersebut dan kembali melakukan takbiratul-ihram. Sebagian orang ada yang melakukan takbiratul-ihram karena waswas ini sebanyak dua kali, tetapi sebagian lainnya bahkan bisa tiga kali atau lebih.

Memang ada kewajiban dalam syari’at untuk melaksanakan amalan ibadah dengan tata cara yang sempurna, sesuai dengan tuntunan dan ajaran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Misalnya, ketika wudhu’, maka wajib bagi kita untuk membasuh anggota wudhu’ dengan sempurna. Tidak boleh ada bagian dari anggota wudhu’ yang belum tersentuh air, padahal anggota wudhu’ tersebut harus dibasuh dengan air.

Misalnya juga, ketika shalat, maka wajib bagi kita untuk memiliki niat dalam hati sebelum shalat, dan wajib bagi kita untuk mengucapkan takbiratul-ihram “Allahu akbar” dengan baik, agar shalat kita sah.

Akan tetapi, jika semangat seseorang untuk melaksanakan amalan ibadah tersebut sampai pada tingkatan takalluf atau taraf yang berlebihan, sehingga dia sampai menghabiskan waktu yang lama untuk berwudhu’, atau melakukan takbiratul-ihram sampai berulang kali seperti yang telah kita sebutkan di atas, maka ketahuilah bahwa orang tersebut telah terjangkit penyakit waswas yang itu dilarang oleh syari’at dan juga dapat merugikan dirinya sendiri.

Ada beberapa obat agar kita terhindar dan juga sembuh dari penyakit waswas ini bi-idznillah. Di antaranya adalah:

Pertama: Berdoa dan meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari penyakit waswas. Itu karena waswas adalah godaan dari syaithan, dan Allah telah memerintahkan kita untuk berlindung kepada-Nya dari godaan syaithan yang terkutuk.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَٰهِ النَّاسِ * مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ * الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ * مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

“Katakanlah (wahai Rasul), ‘Aku berlindung kepada Rabb-nya manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia, dari keburukan waswas dari syaithan yang bersembunyi, yang membisikkan sesuatu ke dalam dada manusia, dari kalangan jin dan manusia.’” [1]

Kedua: Ketika muncul waswas di dalam dirinya, maka wajib baginya untuk melawan waswas tersebut dengan cara meyakinkan dirinya bahwa waswas yang muncul tersebut tidak benar.

Misalnya, jika muncul waswas bahwa ada bagian dari wajah, tangan, atau kakinya yang belum terkena air ketika wudhu’, maka selama dia sudah membasuh wajah, tangan, dan kakinya tersebut dengan baik sebanyak satu kali, dua kali, atau bahkan yang paling sempurna adalah tiga kali, maka segera yakinkan dirinya dengan cara menegaskan di dalam hatinya bahwa wajah, tangan, dan kakinya tersebut sudah semuanya terkena air.

Jika muncul waswas bahwa niat shalatnya tadi belum benar atau bacaan takbiratul-ihram-nya belum benar, padahal dia sudah melakukan takbiratul-ihram, maka segera yakinkan dirinya dengan cara menegaskan di dalam hatinya bahwa niatnya tadi sudah benar dan bacaan takbiratul-ihram-nya juga sudah benar. Dia harus berusaha keras melawan waswas tersebut dengan cara melanjutkan shalatnya, jangan mengulangi takbiratul-ihram-nya, dan fokus pada bacaan shalatnya atau bacaan shalat imam.

Ketiga: Pahamilah bahwa kita harus berada di pertengahan, yaitu wara’. Tidak boleh bagi kita untuk meremehkan, tetapi tidak boleh juga bagi kita untuk berlebihan, di mana ini penyebabnya adalah penyakit waswas.

Agar kita berada di pertengahan, maka kita harus mengetahui bahwa syari’at itu mudah, tetapi kita tidak boleh bermudah-mudahan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” [2]

Walaupun konteksnya adalah tentang ibadah puasa, kaidah yang tersurat dalam ayat di atas berlaku secara umum dalam seluruh bab-bab syari’at.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Allah tidak menjadikan kesulitan untuk kalian dalam agama.” [3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.” [4]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” [5]

Ayat ini memiliki dua kandungan. Pertama, bahwa Allah tidak membebani kita melebihi kemampuan kita. Kedua, bahwa kita wajib untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan kemampuan maksimal kita. Jadi makna dari frasa “semampu kalian” ini bukan berarti kita tidak mengerahkan kemampuan maksimal kita. Dari sinilah kita simpulkan bahwa syari’at itu mudah, tetapi kita tidak boleh bermudah-mudahan.

Oleh karena itu, jika seseorang telah mencapai taraf yang berlebih-lebihan ketika beramal, seperti menghabiskan waktu yang lama untuk membasuh satu anggota wudhu’ dan berulang kali melakukan takbiratul-ihram, maka itu berarti dia sudah tidak di pertengahan. Wajib baginya dalam kondisi seperti ini untuk memerangi penyakit waswasnya tersebut.

Keempat: Sadarilah bahwa penyakit waswas jika terus dituruti dan tidak diperangi maka itu hanya akan merugikan dirinya sendiri.

Misalnya, seseorang yang telah datang ke masjid sejak sebelum iqamah dikumandangkan, dan dia telah mendapatkan takbiratul-ihram bersama imam, tetapi karena waswasnya tersebut dia akhirnya mengulangi takbiratul-ihramnya berulang kali sehingga takbiratul-ihram terakhir yang dia lakukan adalah ketika imam sudah membaca surat al-Fatihah atau bahkan membaca surat pendek. Maka, itu berarti dia bisa jadi tidak mendapatkan takbiratul-ihram bersama imam.

Padahal, terdapat keutamaan yang besar ketika seseorang mendapatkan takbiratul-ihram bersama imam.

Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من صلى لله أربعين يوما في جماعة، يدرك التكبيرة الأولى، كُتبت له براءتان: براءة من النار، وبراءة من النفاق.

“Barangsiapa yang shalat kepada Allah selama empat puluh hari secara berjama’ah, dia mendapatkan takbir yang pertama (yakni, bersama imam -penj.), maka dituliskan baginya dua kebebasan: bebas dari api neraka, dan bebas dari kemunafikan.” [6]

Lihatlah betapa meruginya orang yang terus-menerus mengikuti penyakit waswas dan tidak memeranginya. Bisa jadi dia tidak bisa mendapatkan keutamaan yang besar ini karena dia selalu mengulangi takbiratul-ihram-nya atau melakukan wudhu’ terlalu lama, walaupun selama ini dia selalu datang tepat waktu ke masjid dan tidak pernah terlambat!

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melindungi kita dari penyakit waswas. Hanya kepada-Nya kita meminta perlindungan.

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Catatan Kaki:
  1. Surat an-Nas: 1-6. []
  2. Surat al-Baqarah: 185. []
  3. Surat al-Hajj: 78. []
  4. Surat al-Baqarah: 286. []
  5. Surat at-Taghabun: 16. []
  6. Dihasankan oleh al-Albaniy, diriwayatkan oleh at-Tirmidziy (no. 241). []

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top