Akidah & Manhaj

Kunci Kebahagiaan Pertama: Bersyukur ketika Mendapatkan Nikmat – Syarh al-Qawa’id al-Arba’

وَأَنْ يَجْعَلَكَ مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ، وَإِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ، وَإِذَا أَذْنَبَ اسْتَغْفَرَ، فَإِنَّ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَ عُنْوَانُ السَّعَادَةِ. “Dan menjadikanmu termasuk orang yang jika diberi maka dia bersyukur, jika dia diuji maka dia bersabar, dan jika dia berdosa maka dia memohon ampunan, karena sesungguhnya tiga hal tersebut adalah kunci kebahagiaan.” Ini […]

Menjadi Orang yang Senantiasa Diberkahi di Mana pun Dia Berada – Syarh al-Qawa’id al-Arba’

وَأَنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُنْتَ “Menjadikanmu orang yang senantiasa diberkahi di mana pun engkau berada” Ini adalah doa kedua yang penulis rahimahullah panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk para pembaca kitab beliau. Doa ini adalah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan perkataan Nabi ‘Isa ‘alaihis-salam, وَجَعَلَنِى مُبَارَكًا

Penjagaan dan Perlindungan Allah terhadap para Hamba-Nya – Syarh al-Qawa’id al-Arba’

أَنْ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ “Agar Dia menjaga dan melindungimu di dunia dan akhirat” Doa pertama yang penulis rahimahullah panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah agar Allah menjaga dan melindungi para pembaca kitab beliau. Ketahuilah bahwa sesungguhnya wilayah (penguasaan, penjagaan, dan perlindungan) dari Allah terhadap para hamba-Nya terbagi menjadi

Adab dalam Berdoa kepada Allah – Syarh al-Qawa’id al-Arba’

أَسْأَلُ اللهَ الْكَرِيمَ، رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ “Aku memohon kepada Allah al-Karim, Rabb dari ‘Arsy yang agung” Sebelum memasuki tema utama, penulis rahimahullah mendoakan orang yang membaca kitab beliau ini dengan memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikianlah seharusnya seorang pengajar ilmu syar’iy dan seorang yang berdakwah di jalan Allah.

Makna Basmalah – Syarh al-Qawa’id al-Arba’

Syaikhul-Islam Muhammad ibn ‘Abdil-Wahhab rahimahullah berkata, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ “Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.” Penulis rahimahullah mengawali kitab beliau dengan basmalah, dalam rangka mengikuti al-Qur’an, di mana surat-surat di dalam al-Qur’an diawali dengan basmalah kecuali surat at-Taubah, dan juga mengikuti surat-surat yang ditulis oleh

Tidak Boleh Sembarangan Menerapkan Hadits-Hadits Fitnah Akhir Zaman kepada Tokoh Tertentu atau Kejadian Kontemporer Tertentu

Di antara kaidah yang dijelaskan oleh para ulama’ mengenai hadits-hadits yang berisi tentang fitnah atau huru-hara akhir zaman adalah: Tidak boleh bagi kita untuk sembarangan menerapkan hadits-hadits tersebut kepada tokoh tertentu atau kejadian kontemporer tertentu yang sedang terjadi saat ini. Itu karena kita tidak memiliki hujjah yang benar-benar kuat bahwa

‘Ain Itu Nyata – Bantahan kepada Nouman Ali Khan

Ketika ditanya tentang apa makna ‘ain dalam salah satu sesi tanya-jawab, Nouman Ali Khan mengatakan bahwa penafsiran yang selama ini banyak digunakan untuk memahami hadits العين حق (‘Ain itu nyata) itu tidak benar. Dia kemudian menggunakan argumentasi akal, yaitu bahwa jika ‘ain itu pengaruhnya nyata, maka kita tinggal melihat orang

Syi’ah Mengingkari Keaslian dan Kemurnian al-Qur’an

Di antara pemahaman menyimpang Syi’ah tentang al-Qur’an adalah mereka mengingkari keaslian dan kemurnian dari al-Qur’an. Disebutkan dalam kitab rujukan mereka al-Kafiy, وإن عندنا لمصحف فاطمة عليها السلام، وما يدريهم ما مصحف فاطمة؟ مصحف فيه مثل قرآنكم هذا ثلاث مرات، والله ما فيه من قرآنكم حرف واحد. “Sesungguhnya di sisi kami

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi dan Hijriyyah

Haram hukumnya bagi seorang muslim untuk merayakan tahun baru, baik itu tahun baru Masehi ataupun tahun baru Hijriyyah, karena tidak ada dalilnya dari syari’at dalam perayaan-perayaan tersebut. Ketahuilah bahwa yang pertama kali merayakan tahun baru Masehi adalah orang-orang Nashrani. Itu mengapa para ulama’ menyebutkan bahwa merayakan tahun baru Masehi adalah

Scroll to Top