Adab dalam Berdoa kepada Allah – Syarh al-Qawa’id al-Arba’

أَسْأَلُ اللهَ الْكَرِيمَ، رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Aku memohon kepada Allah al-Karim, Rabb dari ‘Arsy yang agung”

Sebelum memasuki tema utama, penulis rahimahullah mendoakan orang yang membaca kitab beliau ini dengan memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikianlah seharusnya seorang pengajar ilmu syar’iy dan seorang yang berdakwah di jalan Allah. Dia senantiasa mengharapkan kebaikan untuk orang lain sebagaimana dia mengharapkan kebaikan untuk dirinya sendiri.

Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه.

“Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” [1]

Perhatikan bahwa penulis rahimahullah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyebut al-Asma’ul-Husna, yaitu Nama-Nama yang Paling Baik. Ini adalah adab ketika berdoa kepada Allah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَلِلهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا

“Hanya milik Allah al-Asma’ul-Husna (Nama-Nama yang Paling Baik), maka berdoalah kepada-Nya dengan Nama-Nama tersebut.” [2]

Demikian pula, di antara adab berdoa kepada Allah adalah mengawali doa kita dengan pujian-pujian kepada-Nya, yaitu dengan menyebutkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah yang sempurna, sebelum masuk ke dalam inti doa. Ini sebagaimana yang diajarkan dalam surat al-Fatihah, di mana sebelum masuk kepada inti doa, kita menyebutkan terlebih dahulu pujian-pujian kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

بِسْمِ ٱللهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ * ٱلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ * ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ * مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ * إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Yang menguasai Hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” [3]

Setelah memuji dan mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan menyebutkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya yang sempurna seperti pada beberapa ayat pertama dari surat al-Fatihah di atas, maka barulah kita masuk pada inti doa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ * صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” [4]

Maka, inilah petunjuk dan bimbingan dari al-Qur’an tentang bagaimana seharusnya adab dalam kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam doa dari penulis rahimahullah di atas, Nama Allah yang pertama kali beliau sebutkan adalah Lafzhul-Jalalah “Allah”. Inilah Nama Allah yang paling agung yang dimaksudkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Buraidah ibn al-Hushaib radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata,

سمع النبي صلى الله عليه وسلم رجلا يدعو وهو يقول: اللهم إني أسألك، بأني أشهد أنك أنت الله، لا إله إلا أنت، الأحد الصمد، الذي لم يلد ولم يُولَد، ولم يكن له كفوا أحد، قال فقال: والذي نفسي بيده، لقد سأل الله باسمه الأعظم الذي إذا دُعي به أجاب، وإذا سُئل به أعطى.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang berdoa dengan berkata, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada tuhan yang berhak untuk diibadahi kecuali Engkau, al-Ahad (Dzat Yang Maha Esa), ash-Shamad (Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu), yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya.’ Maka Nabi bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh dia telah memohon kepada Allah dengan Nama-Nya yang paling agung, yang jika kita berdoa dengannya maka Allah akan menjawab, dan jika kita meminta dengannya maka Allah akan memberi.’[5]

Setelah menyebutkan Lafzhul-Jalalah “Allah”, penulis rahimahullah kemudian menyebutkan Nama Allah “al-Karim”, yang mengandung Sifat Karam (الكرم), yang bermakna bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mulia, Yang Maha Dermawan, yang memiliki seluruh Sifat yang sempurna, yang tidak memiliki sifat-sifat kekurangan dan kelemahan, yang memberikan karunia dan nikmat kepada makhluk-Nya, yang memberikan karunia kepada makhluk-Nya tanpa membutuhkan balasan dari mereka, dan tidak akan membiarkan begitu saja orang yang berdoa kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّى غَنِىٌّ كَرِيمٌ

“Barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya syukurnya tersebut adalah untuk manfaat dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang kufur, maka sesungguhnya Rabb-ku adalah Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Dermawan.” [6]

Setelah menyebutkan Nama Allah “al-Karim”, penulis rahimahullah menyebutkan Nama Allah “ar-Rabb”, yang mengandung Sifat Rububiyyah (الربوبية), yang bermakna bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan alam semesta dan seluruh makhluk yang ada di dalamnya, yang memberikan rizki kepada seluruh makhluk-Nya, yang menghidupkan dan mematikan, yang memberikan manfaat dan madharat, yang memelihara alam semesta, dan mengatur seluruh apa yang ada di dalamnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ٱلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” [7]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Katakanlah (wahai Rasul), ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku adalah hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.” [8]

Dan banyak sekali dalil-dalil lainnya yang menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabbul-‘alamin, Rabb semesta alam.

Adapun perkataan penulis rahimahullah bahwa Allah adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung, maka di antara dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

ٱللهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ

“Allah, tidak ada tuhan yang berhak untuk diibadahi kecuali Dia, Rabb dari ‘Arsy yang agung.” [9]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُلْ حَسْبِىَ ٱللهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ

“Jika mereka berpaling, maka katakanlah (wahai Rasul), ‘Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan yang berhak untuk diibadahi kecuali Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal. Dan Dia adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung.'” [10]

Kita lihat bahwa dalil-dalil ini menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung, sementara dalam dalil-dalil lainnya disebutkan bahwa Allah adalah Rabb dari semesta alam seluruhnya.

Maka, penyebutan bahwa Allah adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung itu bukanlah sebuah pembatasan. Dengan kata lain, disebutkannya bahwa Allah adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung itu bertujuan untuk menunjukkan keistimewaan dan keutamaan ‘Arsy di antara makhluk-makhluk Allah lainnya di alam semesta, bukan bermakna bahwa Allah adalah Rabb dari ‘Arsy saja dan bukan merupakan Rabb dari makhluk-makhluk lainnya di alam semesta.

Di antara keutamaan ‘Arsy adalah bahwa ia adalah makhluk yang Allah ciptakan pertama kali, menurut pendapat jumhur ulama’.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُۥ عَلَى ٱلْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Dialah Dzat yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan ‘Arsy-Nya di atas air, untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang paling bagus amalnya.” [11]

Diriwayatkan dari ‘Imran ibn Hushain radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كان الله ولم يكن شيء قبله، وكان عرشه على الماء، ثم خلق السموات والأرض، وكتب في الذكر كل شيء.

“Allah ada, dan tidak ada sesuatu apa pun sebelum-Nya. Dan ‘Arsy-Nya di atas air. Kemudian Dia menciptakan langit dan bumi, dan menuliskan segala sesuatu dalam adz-Dzikr (yakni, al-Lauhul-Mahfuzh).” [12]

Di antara keutamaan ‘Arsy lainnya adalah bahwa ia adalah makhluk Allah yang paling besar dan merupakan atap dari seluruh apa yang ada di alam semesta.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فإذا سألتم الله فسلوه الفردوس، فإنه أوسط الجنة وأعلى الجنة، وفوقه عرش الرحمن.

“Jika engkau meminta kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya Surga al-Firdaus, karena sesungguhnya ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi, dan di atasnya adalah ‘Arsy dari ar-Rahman.” [13]

Ketika menjelaskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَهُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ

“Dia adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung.” [14]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

هو مالك كل شيء وخالقه، لأنه رب العرش العظيم الذي هو سقف المخلوقات، وجميع الخلائق من السموات والأرضين وما فيهما وما بينهما تحت العرش مقهورين بقدرة الله تعالى، وعلمه محيط بكل شيء، وقدره نافذ في كل شيء، وهو على كل شيء وكيل.

“Dia adalah Penguasa dan Pencipta dari segala sesuatu, karena Dia adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung, yang merupakan atap dari seluruh makhluk. Seluruh makhluk berupa langit dan bumi, dan apa yang ada di dalamnya dan di antara keduanya, semuanya berada di bawah ‘Arsy dan tunduk terhadap Kekuasaan Allah Ta’ala. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, Ketetapan-Nya berlaku atas segala sesuatu, dan Dia adalah Pengatur atas segala sesuatu.” [15]

Di antara keutamaan ‘Arsy lainnya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala beristiwa’ di atas ‘Arsy. Makna dari kata istiwa’ di sini dalam bahasa Arab adalah العلو والارتفاع, yaitu tinggi. Oleh karena itu, makna dari kalimat “Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy” adalah bahwa Allah tinggi di atas ‘Arsy.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ

“ar-Rahman beristiwa’ di atas ‘Arsy.” [16]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ

“Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia beristiwa’ di atas ‘Arsy.” [17]

Wajib bagi kita untuk mengimani Sifat Istiwa’ dari Allah ini, sebagaimana wajib bagi kita untuk mengimani seluruh Nama dan Sifat Allah lainnya yang disebutkan dalam dalil-dalil yang shahih. Tidak boleh bagi kita untuk mengingkari Nama dan Sifat Allah yang disebutkan dalam dalil-dalil yang shahih dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Tidak boleh pula bagi kita untuk menanyakan atau memikirkan cara atau bagaimananya dari Sifat Allah, karena itu tidak pernah disebutkan dalam dalil, dan hal ini adalah perkara ghaib sehingga akal kita tidak bisa menjangkaunya.

Dan tidak boleh pula bagi kita untuk menyamakan atau menyerupakan Sifat Allah dengan sifat makhluk, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu apa pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” [18]

Ketika ada seseorang yang bertanya kepada Imam Malik rahimahullah tentang bagaimana Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy, beliau menjawab,

الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة.

Istiwa’ bukanlah sesuatu yang tidak diketahui maknanya. Cara atau bagaimananya tidak bisa dijangkau oleh akal. Mengimaninya adalah wajib. Dan bertanya tentang bagaimananya adalah bid’ah.” [19]

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Footnotes:
  1. Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 13) dan Muslim (no. 45). []
  2. Surat al-A’raf: 180. []
  3. Surat al-Fatihah: 1-5. []
  4. Surat al-Fatihah: 6-7. []
  5. Hadits shahih, diriwayatkan oleh at-Tirmidziy (no. 3475), Abu Dawud (no. 1493), dan Ibnu Majah (no. 3857). []
  6. Surat an-Naml: 40. []
  7. Surat al-Fatihah: 2. []
  8. Surat al-An’am: 162. []
  9. Surat an-Naml: 26. []
  10. Surat at-Taubah: 129. []
  11. Surat Hud: 7. []
  12. Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 7418). []
  13. Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 2790, 7423). []
  14. Surat at-Taubah: 129. []
  15. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, karya Isma’il ibn ‘Umar ibn Katsir ‘Imadud-Din Abul-Fida’ ad-Dimasyqiy (4/377). []
  16. Surat Thaha: 5. []
  17. Surat al-A’raf: 54. []
  18. Surat asy-Syura: 11. []
  19. al-Asma’ wash-Shifat, karya Ahmad ibn al-Husain al-Baihaqiy (no. 867, 2/1010). []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top