Jenis-Jenis Mabniy – Syarh Qathrin-Nada

[Artikel ini adalah bagian dari seri artikel Syarh Qathrin-Nada]

كَـ(هَؤُلَاءِ) فِي لُزُومِ الْكَسْرِ، وَكَذَلِكَ حَذَامِ وَأَمْسِ فِي لُغَةِ الْحِجَازِيِّينَ، وَكَـ(أَحَدَ عَشَرَ) وَأَخَوَاتِهِ فِي لُزُومِ الْفَتْحِ، وَكَقَبْلُ وَبَعْدُ وَأَخَوَاتِهِمَا فِي لُزُومِ الضَّمِّ إِذَا حُذِفَ الْمُضَافُ إِلَيْهِ وَنُوِيَ مَعْنَاهُ، وَكَمَنْ وَكَمْ فِي لُزُومِ السُّكُونِ وَهُوَ أَصْلُ الْبِنَاءِ.

seperti هؤلاء (ha’ula’i) yang selalu berakhiran kasrah, demikian pula حذام (hadzami) dan أمس (amsi) dalam dialek penduduk Hijaz, seperti أحد عشر (ahada ‘asyara) dan kata-kata sejenisnya yang selalu berakhiran fathah, seperti قبل (qablu) dan بعد (ba’du) dan kata-kata sejenisnya yang selalu berakhiran dhammah jika mudhaf ilaihi dihilangkan tetapi maknanya masih diniatkan, dan seperti من (man) dan كم (kam) yang selalu berakhiran sukun, di mana itu adalah asal dari bina’.

Berdasarkan bagian akhirnya, mabniy terdiri atas empat jenis:

Pertama: Mabniy ‘alal-Kasr (مبني على الكسر), yaitu mabniy yang selalu berakhiran kasrah.

Penulis mengisyaratkan bahwa mabniy ‘alal-kasr terdiri atas dua jenis:

Pertama: Jenis yang disepakati bahwa ia merupakan mabniy.

Contohnya adalah هؤلاء (ha’ula’i), yang termasuk أسماء الإشارة (asma’ul-isyarah).

Seluruh orang Arab menjadikan akhir dari kata هؤلاء (ha’ula’i) selalu kasrah.

Contoh kalimat:

جاء هؤلاءِ الطلابُ.

“Para santri ini datang.”

رأيت هؤلاءِ الطلابَ.

“Aku melihat para santri ini.”

سلَّمت على هؤلاءِ الطلابِ.

“Aku mengucapkan salam kepada para santri ini.”

Asma’ul-isyarah adalah kelompok kata yang selalu merupakan mabniy.

Kedua: Jenis yang diperselisihkan apakah ia merupakan mabniy atau tidak.

Contoh pertama: Setiap nama perempuan dengan wazn فَعَالِ (fa’ali), seperti حذام (hadzami), قطام (qathami), سجاح (sajahi), dan رقاش (raqasyi).

Dalam dialek penduduk Hijaz: Kelompok kata ini selalu mabniy ‘alal-kasr.

Contoh kalimat:

جاءت حذامِ.

“Hadzami datang.”

رأيت حذامِ.

“Aku melihat Hadzami.”

سلَّمت على حذامِ.

“Aku mengucapkan salam kepada Hadzami.”

Dalam dialek Banu Tamim: Sebagian kecil dari mereka menjadikan kelompok kata ini sebagai mu’rab, yaitu termasuk dalam kelompok kata الاسم الممنوع من الصرف (al-ism al-mamnu’ minash-sharf) atau الاسم غير المنصرف (al-ism ghairul-munsharif).

Contoh kalimat:

جاءت حذامُ.

“Hadzami datang.”

رأيت حذامَ.

“Aku melihat Hadzami.”

سلَّمت على حذامَ.

“Aku mengucapkan salam kepada Hadzami.”

Akan tetapi, sebagian besar dari Banu Tamim membedakan: Jika bagian akhir kata tersebut adalah huruf ر (ra’), seperti ظفار (zhafari), yaitu nama daerah di Yaman, سفار (safari), yaitu nama mata air milik Banu Mazin ibn Malik, نوار (nawari), yaitu nama perempuan, maka ia selalu mabniy ‘alal-kasr.

Contoh kalimat:

ظفارِ مدينة قديمة.

“Zhafari adalah kota tua.”

زرت ظفارِ في الصيف.

“Aku mengunjungi Zhafari pada musim panas.”

سافرت إلى ظفارِ للتجارة.

“Aku bepergian ke Zhafari untuk berdagang.”

Adapun jika bagian akhir kata tersebut bukan huruf ر (ra’), seperti حذام (hadzami), قطام (qathami), سجاح (sajahi), dan رقاش (raqasyi), maka ia selalu mu’rab ghairu munsharif, seperti yang telah disebutkan di atas.

Dari pembahasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa:

Pertama: Untuk kata dengan wazn فعال (fa’ali) yang bagian akhirnya adalah huruf ر (ra’), seperti ظفار (zhafari), سفار (safari), dan نوار (nawari), maka kata tersebut adalah:

  • Mabniy ‘alal-kasr. Ini adalah dialek penduduk Hijaz dan sebagian besar Banu Tamim.
  • Mu’rab ghairu munsharif. Ini adalah dialek sebagian kecil Banu Tamim.

Kedua: Untuk kata dengan wazn فعال (fa’ali) yang bagian akhirnya selain huruf ر (ra’), seperti حذام (hadzami), قطام (qathami), سجاح (sajahi), dan رقاش (raqasyi), maka kata tersebut adalah:

  • Mabniy ‘alal-kasr. Ini adalah dialek penduduk Hijaz.
  • Mu’rab ghairu munsharif. Ini adalah dialek seluruh Banu Tamim.

Contoh kedua: Kata أمس (amsi).

Dalam dialek penduduk Hijaz: Kata ini selalu mabniy ‘alal-kasr, dengan syarat:

  • Bukan merupakan ظرف (zharf), yaitu keterangan waktu.
  • Tidak ditambah أل (al).
  • Bukan merupakan mudhaf.
  • Menunjukkan kepada hari kemarin, yaitu satu hari tepat sebelum hari ini.

Contoh kalimat:

مضى أمسِ بما فيه.

“Hari kemarin berlalu beserta apa yang terjadi di dalamnya.”

تأمَّلت أمسِ وما فيه.

“Aku merenungkan hari kemarin dan apa yang terjadi di dalamnya.”

ما رأيته مذ أمسِ.

“Aku tidak melihatnya sejak kemarin.”

Dalam dialek Banu Tamim: Sebagian kecil dari mereka menjadikan kata ini sebagai mu’rab ghairu munsharif.

Contoh kalimat:

مضى أمسُ بما فيه.

“Hari kemarin berlalu beserta apa yang terjadi di dalamnya.”

تأمَّلت أمسَ وما فيه.

“Aku merenungkan hari kemarin dan apa yang terjadi di dalamnya.”

ما رأيته مذ أمسَ.

“Aku tidak melihatnya sejak kemarin.”

Akan tetapi, sebagian besar dari Banu Tamim membedakan: Jika dalam kondisi raf’, maka mu’rab ghairu munsharif. Jika dalam posisi nashb dan jarr, maka mabniy ‘alal-kasr.

Contoh kalimat:

مضى أمسُ بما فيه.

“Hari kemarin berlalu beserta apa yang terjadi di dalamnya.”

تأمَّلت أمسِ وما فيه.

“Aku merenungkan hari kemarin dan apa yang terjadi di dalamnya.”

ما رأيته مذ أمسِ.

“Aku tidak melihatnya sejak kemarin.”

Adapun jika kata أمس tersebut merupakan zharf, yaitu menunjukkan keterangan waktu, maka ia selalu mabniy ‘alal-kasr menurut kedua belah pihak. Karena ia adalah zharf, maka ia selalu dalam posisi nashb.

Contoh kalimat:

سافر زيد أمسِ.

“Zaid melakukan safar kemarin.”

Jika kata أمس tersebut ditambah أل (al), maka ia merupakan mu’rab.

Contoh kalimat:

الأمسُ عبرة للعاقل.

“Masa lalu adalah pelajaran bagi orang yang berakal.”

إن الأمسَ لا يعود أبدا.

“Sesungguhnya masa lalu tidak akan pernah kembali.”

خذ الموعظة من الأمسِ.

“Ambillah pelajaran dari masa lalu.”

Jika kata أمس merupakan mudhaf, maka ia merupakan mu’rab.

Contoh kalimat:

مضى أمسُنا بما فيه.

“Masa lalu kita telah berlalu beserta apa yang terjadi di dalamnya.”

تذكَّرت أمسَنا.

“Aku mengingat masa lalu kita.”

لا تبك على أمسِنا.

“Jangan menangisi masa lalu kita.”

Ketika kata أمس ditambah أل atau merupakan mudhaf, maka ia merupakan mu’rab. Dalam banyak kalimat seperti contoh-contoh di atas, maknanya sering kali meluas menjadi masa lalu secara umum.

Akan tetapi, kata أمس yang ditambah أل atau merupakan mudhaf juga tetap bisa digunakan untuk menunjukkan kepada satu hari tepat sebelum hari ini, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَأَصْبَحَ فِى ٱلْمَدِينَةِ خَآئِفًا يَتَرَقَّبُ فَإِذَا ٱلَّذِى ٱسْتَنصَرَهُۥ بِٱلْأَمْسِ يَسْتَصْرِخُهُ

“Keesokan harinya, Musa berada di kota itu dalam keadaan cemas dan penuh kewaspadaan. Tiba-tiba orang yang kemarin meminta pertolongannya kembali berteriak meminta bantuan kepadanya.”

Adapun jika kata أمس tersebut tanpa tambahan apa pun menunjukkan suatu hari di masa lalu secara umum (nakirah), bukan satu hari tepat sebelum hari ini secara khusus, maka ia merupakan mu’rab munsharif.

Contoh kalimat:

مضى أمسٌ بما فيه.

“Telah berlalu suatu hari di masa lalu dengan apa yang terjadi di dalamnya.”

كل غد سيصبح أمسًا.

“Setiap hari esok akan menjadi suatu hari di masa lalu.”

طوينا صفحة عن أمسٍ قديم.

“Kami telah menutup lembaran suatu hari di masa lalu yang sudah usang.”

Kedua: Mabniy ‘alal-Fath (مبني على الفتح), yaitu mabniy yang selalu berakhiran fathah.

Contoh dari kategori ini adalah angka 11-19 dalam bahasa Arab.

Bilangan 11, yaitu أحد عشر (ahada ‘asyara), memiliki dua bagian yang merupakan mabniy yang selalu berakhiran fathah.

Kedua bagian dari bilangan 11 selalu sama jenisnya dengan ma’dud.

  • Jika ma’dud adalah mudzakkar, maka kedua bagian dari bilangan 11 tersebut adalah mudzakkar, yaitu أحد عشر (ahada ‘asyara).
  • Jika ma’dud adalah mu’annats, maka kedua bagian dari bilangan 11 tersebut adalah mu’annats, yaitu إحدى عشرة (ihda ‘asyrata).

Contoh kalimat jika ma’dud adalah mudzakkar:

جاء أَحَدَ عَشَرَ طالبا.

“11 santri datang.”

رأيت أَحَدَ عَشَرَ طالبا.

“Aku melihat 11 santri.”

سلَّمت على أَحَدَ عَشَرَ طالبا.

“Aku mengucapkan salam kepada 11 santri.”

Contoh kalimat jika ma’dud adalah mu’annats:

جاءت إِحْدَى عَشْرَةَ طالبة.

“11 santriwati datang.”

رأيت إِحْدَى عَشْرَةَ طالبة.

“Aku melihat 11 santriwati.”

سلَّمت على إِحْدَى عَشْرَةَ طالبة.

“Aku mengucapkan salam kepada 11 santriwati.”

Bilangan 13-19, yaitu ثلاثة عشر (tsalatsata ‘asyara) hingga تسعة عشر (tis’ata ‘asyara), memiliki dua bagian yang merupakan mabniy yang selalu berakhiran fathah.

Bagian pertama dari bilangan 13-19 selalu beda jenisnya dengan ma’dud, sedangkan bagian keduanya selalu sama jenisnya dengan ma’dud.

  • Jika ma’dud adalah mudzakkar, maka bagian pertamanya adalah mu’annats sedangkan bagian keduanya adalah mudzakkar, sehingga untuk bilangan 13 kita gunakan ثلاثة عشر (tsalatsata ‘asyara).
  • Jika ma’dud adalah mu’annats, maka bagian pertamanya adalah mudzakkar sedangkan bagian keduanya adalah mu’annats, sehingga untuk bilangan 13 kita gunakan ثلاث عشرة (tsalatsa ‘asyrata).

Contoh kalimat jika ma’dud adalah mudzakkar:

جاء ثَلَاثَةَ عَشَرَ طالبا.

“13 santri datang.”

رأيت ثَلَاثَةَ عَشَرَ طالبا.

“Aku melihat 13 santri.”

سلَّمت على ثَلَاثَةَ عَشَرَ طالبا.

“Aku mengucapkan salam kepada 13 santri.”

Contoh kalimat jika ma’dud adalah mu’annats:

جاءت ثَلَاثَ عَشْرَةَ طالبة.

“13 santriwati datang.”

رأيت ثَلَاثَ عَشْرَةَ طالبة.

“Aku melihat 13 santriwati.”

سلَّمت على ثَلَاثَ عَشْرَةَ طالبة.

“Aku mengucapkan salam kepada 13 santriwati.”

Adapun bilangan 12, yaitu اثنا عشر (itsna ‘asyara), maka bagian keduanya adalah mabniy yang selalu berakhiran fathah, sedangkan bagian pertamanya adalah mu’rab dengan tanda i’rab-nya adalah alif untuk kondisi raf’, dan ya’ untuk kondisi nashb dan jarr.

Kedua bagian dari bilangan 12 selalu sama jenisnya dengan ma’dud.

  • Jika ma’dud adalah mudzakkar, maka kedua bagian dari bilangan 12 tersebut adalah mudzakkar, yaitu اثنا عشر (itsna ‘asyara).
  • Jika ma’dud adalah mu’annats, maka kedua bagian dari bilangan 12 tersebut adalah mu’annats, yaitu اثنتا عشرة (itsnata ‘asyrata).

Contoh kalimat jika ma’dud adalah mudzakkar:

جاء اثْنَا عَشَرَ طالبا.

“12 santri datang.”

رأيت اثْنَيْ عَشَرَ طالبا.

“Aku melihat 12 santri.”

سلَّمت على اثْنَيْ عَشَرَ طالبا.

“Aku mengucapkan salam kepada 12 santri.”

Contoh kalimat jika ma’dud adalah mu’annats:

جاءت اثْنَتَا عَشْرَةَ طالبة.

“12 santriwati datang.”

رأيت اثْنَتَيْ عَشْرَةَ طالبة.

“Aku melihat 12 santriwati.”

سلَّمت على اثْنَتَيْ عَشْرَةَ طالبة.

“Aku mengucapkan salam kepada 12 santriwati.”

Ketiga: Mabniy ‘aladh-Dhamm (مبني على الضم), yaitu mabniy yang selalu berakhiran dhammah.

Contoh dari kategori ini adalah قبل (qablu) dan بعد (ba’du) pada situasi tertentu.

Ketika kita menggunakan kata قبل dan بعد dalam sebuah kalimat, maka terdapat beberapa kemungkinan.

Kemungkinan pertama: Kata قبل dan بعد tersebut adalah mudhaf, di mana mudhaf ilaihi disebutkan secara lafazh. Maka, kata قبل dan بعد tersebut adalah mu’rab, yaitu berada dalam kondisi nashb karena ia adalah ظرف الزمان (zharf zaman). Ia tidak diucapkan dengan tanwin, karena ia adalah mudhaf.

Contoh:

جاء محمد قبلَ زيد وبعدَ خالد.

“Muhammad datang sebelum Zaid dan setelah Khalid.”

Bisa jadi ditambahkan kata من (min) sebelum قبل dan بعد, sehingga kondisi i’rab-nya adalah jarr.

Contoh:

جاء محمد من قبلِ زيد ومن بعدِ خالد.

“Muhammad datang sebelum Zaid dan setelah Khalid.”

Kemungkinan kedua: Kata قبل dan بعد tersebut adalah mudhaf, di mana mudhaf ilaihi tidak disebutkan, tetapi lafazhnya diniatkan. Maka, kata قبل dan بعد tersebut adalah mu’rab, yaitu berada dalam kondisi nashb karena ia adalah ظرف الزمان (zharf zaman). Ia tidak diucapkan dengan tanwin, karena ia masih merupakan mudhaf.

Contoh:

جاء محمد قبلَ.

“Muhammad datang sebelum (yakni, sebelum Zaid).”

Bisa jadi ditambahkan kata من (min) sebelum قبل dan بعد, sehingga kondisi i’rab-nya adalah jarr.

Contoh:

جاء محمد من قبلِ.

“Muhammad datang sebelum (yakni, sebelum Zaid).”

Kemungkinan ketiga: Kata قبل dan بعد tersebut bukan merupakan mudhaf, karena pembicara memang tidak meniatkan adanya mudhaf ilaihi baginya. Maka, kata قبل dan بعد tersebut adalah mu’rab, yaitu berada dalam kondisi nashb karena ia adalah ظرف الزمان (zharf zaman). Karena tidak lagi merupakan mudhaf, maka ia diucapkan dengan tanwin, seperti halnya ism nakirah pada umumnya.

Contoh:

جاء محمد قبلًا.

“Muhammad datang pada suatu waktu sebelumnya (yakni, tidak spesifik waktunya).”

Bisa jadi ditambahkan kata من (min) sebelum قبل dan بعد, sehingga kondisi i’rab-nya adalah jarr.

Contoh:

جاء محمد من قبلٍ.

“Muhammad datang pada suatu waktu sebelumnya (yakni, tidak spesifik waktunya).”

Kemungkinan keempat: Kata قبل dan بعد tersebut adalah mudhaf, di mana mudhaf ilaihi tidak disebutkan, tetapi maknanya diniatkan, terlepas dari lafazh apa yang seharusnya digunakan untuk mewakili makna tersebut. Maka, kata قبل dan بعد tersebut adalah mabniy pada dhammah tanpa tanwin, fiy mahalli nashb karena ia adalah zharf zaman.

Contoh:

جاء محمد قبلُ.

“Muhammad datang sebelumnya (yakni, waktunya spesifik sesuai dengan yang diniatkan oleh pembicara dan dipahami oleh pendengar).”

Bisa jadi ditambahkan kata من (min) sebelum قبل dan بعد, tetapi ia tetap merupakan mabniy, fiy mahalli jarr karena posisinya setelah harf jarr من.

Contoh:

جاء محمد من قبلُ.

“Muhammad datang sebelumnya (yakni, waktunya spesifik sesuai dengan yang diniatkan oleh pembicara dan dipahami oleh pendengar).”

Keempat: Mabniy ‘alas-Sukun (مبني على السكون), yaitu mabniy yang selalu berakhiran sukun.

Contoh dari kategori ini adalah من (man) dan كم (kam). Kedua kata ini selalu mabniy pada sukun, tidak peduli posisinya dalam kalimat.

Contoh kalimat untuk من:

جاء من يطلب العلم.

“Orang yang menuntut ilmu datang.”

Kata من di sini adalah mabniy fiy mahalli raf’ karena ia adalah fa’il.

رأيت من يطلب العلم.

“Aku melihat orang yang menuntut ilmu.”

Kata من di sini adalah mabniy fiy mahalli nashb karena ia adalah maf’ul bihi.

سلَّمت على من يطلب العلم.

“Aku mengucapkan salam kepada orang yang menuntut ilmu.”

Kata من di sini adalah mabniy fiy mahalli jarr karena posisinya setelah harf jarr على.

Contoh kalimat untuk كم:

كم كتابا عندك؟

“Berapa banyak buku yang kamu miliki?”

Kata كم di sini adalah mabniy fiy mahalli raf’ karena ia adalah mubtada’.

كم كتابا اشتريت؟

“Kamu membeli berapa kitab?”

Kata كم di sini adalah mabniy fiy mahalli nashb karena ia adalah maf’ul bihi.

بكم دينار اشتريت؟

“Kamu beli dengan berapa dinar?”

Kata كم di sini adalah mabniy fiy mahalli jarr karena posisinya setelah harf jarr ب.

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top