Mu’rab dan Mabniy – Syarh Qathrin-Nada

[Artikel ini adalah bagian dari seri artikel Syarh Qathrin-Nada]

وَهُوَ ضَرْبَانِ: مُعْرَبٌ، وَهُوَ مَا يَتَغَيَّرُ آخِرُهُ بِسَبَبِ الْعَوَامِلِ الدَّاخِلَةِ عَلَيْهِ كَـ(زَيْدٍ)، وَمَبْنِيٌّ، وَهُوَ بِخِلَافِهِ،

Ism terdiri atas dua jenis: Mu’rab, yaitu kata yang bagian akhirnya berubah karena adanya ‘amil (faktor yang mempengaruhi i’rab) yang masuk kepadanya, seperti “Zaid”, dan mabniy, yaitu kebalikannya,

Tema utama dari ilmu nahwu adalah mempelajari tentang i’rab (الإعراب).

Makna i’rab secara bahasa adalah الإفصاح والإظهار والإبانة (menjelaskan dan menampakkan).

Contoh:

أعربتُ عما في نفسي.

“Aku menjelaskan apa yang ada dalam benakku.”

Adapun secara istilah dalam ilmu nahwu, i’rab adalah

تغيير آخر الكلمة لاختلاف العوامل الداخلة عليها.

“Perubahan bagian akhir suatu kata karena perbedaan ‘amil (faktor yang berpengaruh) yang masuk kepadanya.”

Lawan dari i’rab adalah bina’ (البناء).

Makna bina’ secara bahasa adalah

وضع شيء على شيء على جهة يراد بها الثبوت واللزوم.

“Meletakkan sesuatu pada sesuatu yang lain dengan tujuan untuk mewujudkan ketetapan dan kekokohan.”

Adapun secara istilah dalam ilmu nahwu, bina’ adalah

لزوم آخر الكلمة حالة واحدة وإن اختلفت العوامل الداخلة عليها.

“Tetapnya bagian akhir suatu kata pada satu keadaan, walaupun berbeda-beda ‘amil yang masuk kepadanya.”

Dari segi i’rab dan bina’, maka setiap kata dalam bahasa Arab terbagi menjadi dua jenis:

Pertama: Mu’rab (المعرب), yaitu:

ما يتغير آخره لاختلاف العوامل الداخلة عليه.

“Kata yang berubah bagian akhirnya karena perbedaan ‘amil yang masuk kepadanya.”

Contoh:

جاء محمدٌ.

“Muhammad datang.”

رأيتُ محمدًا.

“Aku melihat Muhammad.”

سلَّمتُ على محمدٍ.

“Aku mengucapkan salam kepada Muhammad.”

Dalam ketiga kalimat di atas, kata Muhammad (محمد) memiliki perubahan pada bagian akhirnya karena ‘amil yang masuk kepadanya pada ketiga kalimat tersebut berbeda-beda. Oleh karena itu, kita simpulkan bahwa kata Muhammad (محمد) adalah mu’rab.

Yang menyebabkan bagian akhir kata itu berubah adalah ‘amil (العامل). Maka, ‘amil adalah

ما أوجب كون آخر الكلمة على وجه مخصوص من الإعراب.

“Sesuatu yang menyebabkan bagian akhir kata memiliki kondisi i’rab tertentu.”

‘Amil terdiri atas dua jenis:

Pertama: ‘Amil lafzhiy (العامل اللفظي), seperti fi’l dan harf.

Contoh ‘amil lafzhiy yang berupa fi’l:

جاء محمدٌ.

“Muhammad datang.”

رأيتُ محمدًا.

“Aku melihat Muhammad.”

Contoh ‘amil lafzhiy yang berupa harf:

سلَّمتُ على محمدٍ.

“Aku mengucapkan salam kepada Muhammad.”

Kedua: ‘Amil ma’nawiy (العامل المعنوي), seperti ibtida’ (الابتداء) pada jumlah ismiyyah.

Contoh ‘amil ma’nawiy yaitu ibtida’:

محمدٌ قائم.

“Muhammad berdiri.”

Maka, ‘amil pada Muhammad (محمد) adalah ma’nawiy yaitu ibtida’, sedangkan ‘amil pada qa’im (قائم) adalah lafzhiy yaitu mubtada’.

Kedua: Mabniy (المبني), yaitu:

ما يلزم آخره حالة واحدة وإن اختلفت العوامل الداخلة عليه.

“Kata yang bagian akhirnya tetap pada satu keadaan, walaupun berbeda-beda ‘amil yang masuk kepadanya.”

Terdapat sebuah kaidah penting tentang ism dan harf, yaitu:

الاسم أصله معرب، والحرف كله مبني.

“Ism pada asalnya (yakni, sebagian besarnya) adalah mu’rab, sedangkan harf seluruhnya adalah mabniy.”

Adapun fi’l, maka sebagiannya adalah mu’rab, dan sebagiannya adalah mabniy, sebagaimana yang akan dijelaskan kemudian.

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top