Suami dan Istri Wajib Memenuhi Hak Satu Sama Lain dalam Berumah Tangga

Syaikh ‘Abdur-Rahman ibn Nashir as-Si’diy rahimahullah berkata,

يلزم كل واحد من الزوجين معاشرة الآخر بالمعروف من الصحبة الجميلة، وتوفية حقه وعدم مطله، فله عليها بذل نفسها، وعدم التكره لبذل ما عليها من استمتاع وخدمة بالمعروف.

“Wajib bagi setiap dari suami dan istri untuk bermu’amalah satu sama lain dengan baik, memenuhi hak satu sama lain, dan tidak boleh menunda-nunda dalam memenuhi hak tersebut. Maka wajib bagi istri untuk mengerahkan dirinya, dan tidak boleh baginya untuk benci dalam mengerahkan dirinya untuk suaminya, baik itu berupa istimta’ (perbuatan yang dilakukan untuk kesenangan seksual) ataupun berkhidmat kepada suaminya dalam perkara yang ma’ruf.

ويلزمها طاعته في ترك الأمور المستحبة، كالصيام وسفر الحج والحج الذي ليس بواجب، وألا تخرج من بيته إلا بإذنه، ولا تدخله أحدا إلا برضاه، وأن تحفظه في نفسها وولده وماله، وأما طاعتها له في الأمور الواجبة فألزم وألزم.

Wajib bagi istri untuk taat kepada suaminya dalam meninggalkan perkara-perkara yang sunnah, seperti puasa, safar haji, dan haji yang tidak wajib. Hendaknya istri tidak keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya, tidak memasukkan orang lain ke dalam rumahnya kecuali dengan ridha’ suaminya, dan hendaknya dia menjaga rumah suaminya tersebut dengan cara menjaga dirinya sendiri, anaknya, dan hartanya. Adapun ketaatan kepada suaminya dalam perkara yang wajib maka ini lebih-lebih lagi.”

وعليه لها النفقة والكسوة والسكنى بالمعروف والعشرة والمبيت والوطء إذا احتاجت إلى ذلك مع قدرته، وعليه أن يؤدبها ويعلمها أمر دينها وما تحتاجه في عبادتها، قال تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا} [التحريم: ٦]، قالوا: معناه علموهم وأدبوهم.

“Wajib bagi suami untuk memberi istrinya nafkah, pakaian, tempat tinggal yang ma’ruf, mu’amalah yang baik, mabit (bermalam dengannya), dan jima’, jika istri membutuhkannya dan suami mampu. Wajib bagi suami untuk mendidik istrinya dan mengajarinya perkara agamanya dan apa-apa yang dia butuhkan untuk ibadahnya. Allah berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.’ [at-Tahrim: 6]. Para ulama’ berkata, ‘Maknanya adalah ajarilah mereka dan didiklah mereka.’

وعليه ألا يشاتمها ويسبها ويقبح ويهجر من دون سبب. فإن حصل نشوز منها وعظها، فإن أصرت هجرها في المضجع ما شاء، فإن أصرت ضربها ضربا غير مبرح، فإن كان نشوزها لتركه حقها ألزم بما عليه ثم هي بما عليها.

Tidak boleh bagi suami untuk menghina, mencela, menjelek-jelekkan istrinya, dan memboikotnya tanpa sebab. Jika terjadi nusyuz (ketidaktaatan) dari istri, maka nasihati dia. Jika dia tetap melakukannya, maka boikot dia di tempat tidur dalam waktu sesuai dengan yang suami kehendaki. Jika dia tetap melakukannya, maka pukullah dia dengan pukulan yang tidak keras. Jika dia melakukan nusyuz karena suami tidak memenuhi hak istrinya, maka wajib bagi suami untuk memenuhi kewajibannya terlebih dahulu (yakni, memenuhi hak istrinya), baru istri memenuhi kewajibannya (yakni, memenuhi hak suaminya).”

وإن كان معه سواها وجب عليه أن يعدل بينهن في القسم والنفقة والكسوة والمسكن والسفر، فلا يخرج بواحدة منهن إلا بإذن البواقي أو بقرعة.

“Jika suami tersebut memiliki beberapa istri, maka wajib baginya untuk adil di antara mereka dalam masalah pembagian (yakni, pembagian waktu tinggal bersama tiap istri), nafkah, pakaian, tempat tinggal, dan safar. Tidak boleh bagi suami untuk keluar safar bersama salah satu istrinya, kecuali dengan izin dari para istrinya yang lain atau dengan undian.” [1]

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Catatan Kaki:
  1. al-Irsyad ila Ma’rifatil-Ahkam, karya ‘Abdur-Rahman ibn Nashir as-Si’diy (hlm. 163). []

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top