Apakah Menampakkan Amalan Ibadah dan Ketaatan Itu Pasti Adalah Riya’?

Ada amalan ibadah dan ketaatan yang dapat kita pilih: apakah akan melakukannya secara diam-diam sehingga tidak diketahui oleh orang lain, atau melakukannya secara terang-terangan sehingga diketahui oleh orang lain. Contohnya adalah shalat sunnah, sedekah, puasa sunnah, puasa wajib selain puasa Ramadhan, dll.

Dan ada amalan ibadah dan ketaatan yang pasti dilakukan secara terang-terangan, seperti shalat fardhu berjama’ah, shalat Jum’at, shalat ‘Id, khuthbah pada keduanya, haji dan ‘umrah, dll.

Keduanya wajib untuk kita laksanakan secara ikhlas, yaitu hanya mengharapkan pahala dan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan amalan hanya kepada-Nya, condong kepada kebenaran, menegakkan shalat, dan membayar zakat. Itulah agama yang lurus.” [1]

Tidak boleh sama sekali bagi kita untuk mencampuri amalan ibadah dan ketaatan tersebut dengan riya’ (ingin dilihat) dan sum’ah (ingin didengar).

Dalam sebuah hadits qudsiy yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قال الله تبارك وتعالى: أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عملا أشرك فيه معي غيري، تركته وشركه.

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan, di mana dia mempersekutukan Aku dengan selain-Ku di dalamnya, maka Aku akan tinggalkan dia bersama sekutunya tersebut.’” [2]

Oleh karena itu, dalam amalan yang bisa dipilih antara dilakukan secara diam-diam atau terang-terangan, jika kita memilih untuk melakukannya secara diam-diam, maka kita akan mendapatkan keutamaan yaitu bahwa itu dapat lebih memudahkan kita untuk ikhlas. Dan jika kita memilih untuk melakukannya secara terang-terangan, maka kita juga akan mendapatkan keutamaan yaitu bahwa itu dapat membuat orang lain untuk mengikuti kita dan mencontoh amalan kita tersebut, serta kita dapat menyemarakkan dan menyebarkan syi’ar Islam di tengah-tengah masyarakat. Dengan kata lain, menampakkan amalan ibadah itu belum tentu riya’ dan sum’ah, karena bisa jadi hati orang tersebut tetap ikhlas, dan justru bisa jadi ada mashlahat yang tercapai ketika dia mengerjakannya secara terang-terangan.

Sedangkan jika amalan tersebut adalah amalan yang pasti dilakukan secara terang-terangan, maka tidak ada jalan lain bagi kita kecuali harus membentengi diri kita dari riya’ dan sum’ah, dan niatkan bahwa kita melakukannya secara terang-terangan itu dalam rangka agar orang lain mencontoh dan mengikuti kita, atau kita niatkan bahwa ini dalam rangka menyemarakkan dan menyebarkan syi’ar Islam.

Dari Jarir ibn ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء، ومن سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء.

“Barangsiapa yang menunjukkan dalam Islam jalan kebaikan, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya setelahnya, tanpa berkurang pahala dari mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang menunjukkan dalam Islam jalan keburukan, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya setelahnya, tanpa berkurang dosa dari mereka sedikit pun.” [3]

Jika suatu amalan itu dapat kita pilih untuk dikerjakan secara diam-diam atau terang-terangan, mana yang lebih utama untuk kita lakukan?

Ada dua hal yang harus kita perhatikan dalam masalah ini.

Pertama: Hukum asal dari amalan ibadah yang dapat kita kerjakan secara diam-diam atau terang-terangan adalah mengerjakannya secara diam-diam. Akan tetapi, jika ada mashlahat yang dapat dicapai jika kita mengerjakannya secara terang-terangan, maka kita dapat memilih untuk melakukan amalan ibadah tersebut secara terang-terangan dengan tetap menjaga keikhlasan. Caranya adalah dengan terus berjuang menghadirkan niat bahwa ini dilakukan agar orang lain mencontoh dan mengikuti kita dalam amalan ibadah tersebut, dan agar syi’ar Islam menjadi semarak dan tersebar.

Kedua: Harus dilihat apakah kita termasuk orang yang kuat untuk menjauhi riya’ dan sum’ah, atau tidak. Jika kita termasuk orang yang kuat untuk membentengi diri dari kedua hal tersebut, maka tidak mengapa untuk mengerjakan amalan ibadah secara terang-terangan. Akan tetapi, jika kita termasuk orang yang lemah, yang khawatir jika kita mengerjakan amalan tersebut secara terang-terangan akan membuat diri kita tergelincir ke dalam riya’ dan sum’ah, maka melakukannya secara diam-diam adalah lebih utama.

Jika ditanya: Dari mana kita bisa mengetahui apakah kita termasuk orang yang kuat atau lemah dalam masalah riya’ dan sum’ah?

Maka kita jawab: Ini tergantung pada apakah pujian dan celaan orang itu sama saja bagi kita, atau kita lebih termotivasi mengerjakan amalan ibadah hanya ketika ada pujian, dan menjauhi amalan ibadah tersebut ketika ada celaan? Apakah kita mampu untuk menghadirkan niat-niat yang lurus dan ikhlas dan segera melupakan niat-niat buruk yang tebersit di hati kita ketika mengerjakan amalan ibadah, atau kita malah justru berlezat-lezat dengan niat-niat buruk tersebut, enggan untuk membuangnya jauh-jauh dari hati kita, dan lupa dengan niat-niat yang lurus dan ikhlas?

Jika kita termasuk orang yang lemah untuk menjauhi riya’ dan sum’ah, maka sebagaimana yang kami sebutkan di atas, memilih untuk mengerjakan amalan ibadah secara diam-diam itu lebih utama. Akan tetapi, tetap wajib bagi kita untuk terus berlatih agar bisa menjadi kuat dalam menjauhi riya’ dan sum’ah. Caranya adalah dengan berdoa kepada Allah agar senantiasa diberikan keikhlasan ketika beramal, kemudian berlatih untuk membuang niat-niat yang buruk dan segera menggantinya dengan cara menghadirkan niat-niat yang lurus dan ikhlas di benak kita ketika kita beramal. Berlatih untuk terus menghadirkan niat yang lurus dan melupakan niat yang buruk ini harus kita lakukan secara terus-menerus ketika beramal, karena jika kita merasa bahwa niat kita sudah lurus dan ikhlas, maka itu adalah tanda bahwa diri kita telah terjangkiti ketidakikhlasan.

Dan kita harus terus berlatih melakukan hal tersebut, karena kita tidak tahu kapan momen-momen itu datang, yaitu momen di mana kita harus menampakkan suatu amalan ibadah agar mashlahat yang lebih besar dapat tercapai bi-idznillah, yakni agar syi’ar Islam menjadi semarak dan tersebar, dan agar orang lain dapat mencontoh dan mengikuti kita dalam amalan ibadah tersebut.

Apa contoh dari momen-momen tersebut? Contohnya adalah ketika kita sudah layak untuk menjadi pengajar, yang duduk di hadapan khalayak dalam rangka mengajarkan ilmu syar’iy. Atau ketika kita sudah layak menjadi imam, yang bacaan al-Qur’an kita kemudian didengar oleh para ma’mum. Atau, jika kita bukan pengajar, imam, ataupun qari’, tetapi alhamdulillah kita diberikan keistiqamahan oleh Allah di atas Din ini, dan mendapati lingkungan sekitar kita banyak diliputi kemaksiatan dan kefasikan. Atau momen-momen lainnya, yang akan lebih bermashlahat, atau bahkan wajib, bagi kita untuk melakukan suatu amalan ibadah secara terang-terangan di hadapan banyak orang.

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Catatan Kaki:
  1. Surat al-Bayyinah: 5. []
  2. Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 2985). []
  3. Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 1017). []

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top