Kapan dan Berapa Kali Kita Mengucapkan Kalimat Takbir pada Takbir Muqayyad?

Kapan Kita Mengucapkan Takbir Muqayyad?

Sebagaimana telah dijelaskan di artikel sebelumnya, takbir muqayyad disyari’atkan untuk diucapkan setelah shalat fardhu, dari shalat shubuh pada hari ‘Arafah (tanggal 9 Dzul-Hijjah), hingga shalat ‘ashar di hari terakhir dari hari-hari tasyriq (tanggal 13 Dzul-Hijjah).

Akan tetapi, perlu ditekankan di sini bahwa takbir muqayyad hanya diucapkan setelah shalat fardhu yang dilaksanakan secara berjama’ah. Dan kalimat takbir tersebut diucapkan sebelum dzikir setelah shalat. Yakni, setelah salam dari shalat fardhu yang dilaksanakan secara berjama’ah, maka langsung mengucapkan kalimat takbir. Itu berarti tidak disyari’atkan untuk mengucapkan kalimat takbir setelah shalat sunnah, seperti shalat malam, shalat dhuha, dan termasuk shalat ‘Idul-Adhha itu sendiri. Dan tidak pula disyari’atkan bagi orang yang mengerjakan shalat fardhu tetapi tidak secara berjama’ah.

Ada seorang yang bertanya kepada Imam Ahmad rahimahullah,

قيل لأحمد: تذهب إلى فعل ابن عمر: لا يكبِّر إذا صلى وحده؟ قال: نعم.

“Ditanyakan kepada Ahmad, ‘Apakah engkau berpendapat seperti perbuatan Ibnu ‘Umar, yaitu tidak bertakbir jika shalat sendirian?’ Kemudian beliau menjawab, ‘Na’am.’” [1]

Demikian pula, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

إنما التكبير على من صلى في جماعة.

“Takbir itu hanya diucapkan oleh orang yang shalat secara berjama’ah.” [2]

Berapa Kali Kita Mengucapkan Kalimat Takbir pada Takbir Muqayyad?

Tidak ada jumlah tertentu berapa kali kita mengucapkan kalimat takbir pada takbir muqayyad. Manshur ibn Yunus al-Buhutiy rahimahullah menuliskan di kitab Kasysyaful-Qina’, syarh dari matn al-Iqna’ li-Thalibil-Intifa’ karya Musa ibn Ahmad Abun-Naja al-Hajjawiy rahimahullah,

(ويجزئ مرة واحدة، وإن زاد) على مرة (فلا بأس، وإن كرَّر ثلاثا فحسن) قال في المبدع: وأما تكريره ثلاثا في وقت واحد، فلم أره في كلامهم، ولعله يقاس على الاستغفار بعد الفراغ من الصلاة.

“Boleh untuk mengucapkan kalimat takbir satu kali. Jika menyebutkan lebih dari itu, maka tidak mengapa. Dan jika dia mengucapkan sebanyak tiga kali, maka itu baik. Disebutkan dalam kitab al-Mubdi’: Adapun mengucapkannya sebanyak tiga kali pada waktu yang sama, maka aku tidak menemukannya dalam perkataan mereka. Mungkin itu diqiyaskan dengan istighfar setelah selesai shalat.” [3]

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Catatan Kaki:
  1. Manarus-Sabil fiy Syarhid-Dalil, karya Ibrahim ibn Muhammad Ibnu Dhuwayyan an-Najdiy (1/154). []
  2. Ibid. []
  3. Kasysyaful-Qina’ ‘an Matnil-Iqna’, karya Manshur ibn Yunus al-Buhutiy (3/419). []

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top