Hukum Bertakbir secara Berjama’ah dalam Satu Suara secara Serempak

Ibnul-Haj al-Fasiy rahimahullah berkata,

والسنة المتقدمة أن يجهر بالتكبير فيسمع نفسه ومن يليه، والزيادة على ذلك حتى يعقر حلقه من البدع، إذ أنه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم إلا ما ذكر، ورفع الصوت بذلك يخرج عن حد السمت والوقار، ولا فرق في ذلك، أعني في التكبير، بين أن يكون إماما أو مؤذنا أو غيرهما، فإن التكبير مشروع في حقهم أجمعين على ما تقدم وصفه إلا النساء، فإن المرأة تسمع نفسها ليس إلا بخلاف ما يفعله بعض الناس اليوم فكأن التكبير إنما شرع في حق المؤذنين دون غيرهم، فتجد المؤذنين يرفعون أصواتهم بالتكبير كما تقدم، وأكثر الناس يستمعون لهم ولا يكبِّرون، وينظرون إليهم كأن التكبير ما شرع إلا لهم، وهذه بدعة محدثة، ثم إنهم يمشون على صوت واحد، وذلك بدعة، لأن المشروع إنما هو أن يكبِّر كل إنسان لنفسه ولا يمشي على صوت غيره.

“Sunnah yang telah ada sejak dahulu adalah bertakbir secara jahr sehingga suaranya didengar oleh dirinya sendiri dan orang di dekatnya. Melakukan lebih dari itu yaitu dengan berteriak keras sekali maka itu adalah bid’ah, karena tidak ada riwayatnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali apa yang telah disebutkan sebelumnya. Dan mengeraskan suara seperti itu ketika bertakbir dapat mengganggu ketenangan dan ketenteraman.

Dan tidak ada bedanya dalam hal tersebut, yakni dalam masalah takbir, antara apakah dia adalah seorang imam atau mu’adzdzin atau yang selainnya. Karena takbir itu disyari’atkan kepada mereka semua dengan tata cara yang telah disebutkan sebelumnya, kecuali perempuan. Karena perempuan itu bertakbir dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri saja.

Dan tata cara yang benar ketika bertakbir itu tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian orang hari ini, di mana takbir itu seolah-olah hanya disyari’atkan untuk para mu’adzdzin saja dan tidak untuk orang-orang selain mereka. Sehingga engkau akan mendapati para mu’adzdzin mengeraskan suara mereka ketika bertakbir, dan kebanyakan orang akan mendengarkan takbir mereka tersebut dan tidak mengucapkan takbir mereka sendiri. Mereka menunggu para mu’adzdzin tersebut seolah-olah takbir itu hanya disyari’atkan bagi para mu’adzdzin tersebut. Ini adalah bid’ah yang diada-adakan. Kemudian mereka akan bertakbir dalam satu suara secara serempak, dan ini juga adalah bid’ah, karena yang disyari’atkan adalah setiap orang itu bertakbir untuk dirinya sendiri dan tidak menyengaja agar suaranya menjadi serempak dengan orang lain dalam satu suara.” [1]

al-Lajnah ad-Da’imah lil-Buhuts al-’Ilmiyyah wal-Ifta’ pernah ditanya tentang takbir jama’iy, yakni mengucapkan kalimat takbir secara berjama’ah dalam satu suara secara serempak:

بعض المصلين بعد الصلاة وفي أي وقت يكبِّرون بصوت جماعي، يقولون الله أكبر كلمة واحدة، هل هذا وارد أم لا؟

“Sebagian orang itu setelah selesai shalat atau di waktu-waktu lainnya, mereka bertakbir secara berjama’ah. Mereka berkata “Allahu akbar” dalam satu suara yang sama secara serempak. Apakah ini ada riwayatnya atau tidak?”

Jawaban dari al-Lajnah ad-Da’imah, yang saat itu diketuai oleh Syaikh ‘Abdul-’Aziz ibn ‘Abdillah ibn Baz, wakilnya adalah Syaikh ‘Abdur-Razzaq ‘Afifiy, dan anggotanya adalah Syaikh ‘Abdullah ibn Ghudayyan, rahimahumullah, adalah:

التكبير الجماعي بصوت واحد من المجموعة بعد الصلاة أو في غير وقت الصلاة غير مشروع، بل هو من البدع المحدثة في الدين، وإنما المشروع الإكثار من ذكر الله جل وعلا بغير صوت جماعي بالتهليل والتسبيح والتكبير وقراءة القرآن وكثرة الاستغفار.

“Bertakbir secara berjama’ah dalam satu suara secara serempak, baik itu setelah shalat atau pada waktu-waktu lainnya, maka ini tidak disyari’atkan. Bahkan itu termasuk bid’ah yang diada-adakan dalam agama. Sesungguhnya yang disyari’atkan adalah memperbanyak berdzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala tidak secara berjama’ah dalam satu suara secara serempak, dengan mengucapkan tahlil, tasbih, takbir, membaca al-Qur’an, dan memperbanyak istighfar.” [2]

Oleh karena itu, apa yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin hari ini, di mana ada satu orang yang memimpin takbir, sehingga ketika orang ini mengucapkan kalimat takbir maka orang-orang lainnya akan diam mendengarkan, lalu ketika orang tersebut selesai mengucapkan kalimat takbirnya maka orang-orang akan bertakbir mengulangi kalimat takbir orang tadi secara berjama’ah dalam satu suara secara serempak, maka ini adalah sebuah kebid’ahan. Karena yang disyari’atkan adalah setiap orang bertakbir dengan suaranya sendiri, yang dapat didengar oleh dirinya sendiri dan orang-orang di dekatnya, dengan penuh ketenangan dan ketenteraman. Jika dia melakukan hal ini, kemudian suaranya tidak sengaja sama dan serempak dengan orang lain, maka ini tidak mengapa. Akan tetapi jika menyengaja bertakbir secara serempak dengan orang-orang lainnya, seperti yang banyak terjadi hari ini, maka ini adalah hal yang tidak boleh dilakukan.

Bagaimana jika seseorang menggunakan pengeras suara di masjid misalnya, lalu dia bertakbir sendiri tanpa diikuti oleh orang-orang lain secara berjama’ah dalam satu suara secara serempak?

Ini tidak mengapa, dalam rangka mengingatkan orang-orang untuk bertakbir. Syaikh Muhammad ibn Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata,

ولكن إذا لم يكن هناك فتنة في التكبير، وقيل للناس إننا نكل إلى شخص معين، المؤذن أو غيره، أن يكبِّر التكبير المشروع عبر مكبِّر الصوت بدون أن يتابعه أحد على وجه جماعي فلا أرى في هذا بأسا، لأنه من باب رفع الصوت بالتكبير والجهر به، وفيه تذكير للغافلين أو الناسين، ومن المعلوم أنه لو كبَّر أحد الحاضرين رافعا صوته بدون مكبِّر الصوت لم يتوجه الإنكار عليه من أحد، فكذلك إذا كبَّر عبر مكبِّر الصوت، لكن بدون أن يتابعه الناس على وجه جماعي كأنما يلقِّنهم ذلك، ينتظرون تكبيره حتى يكبِّروا بعده بصوت واحد، فإن هذا لا أصل له في السنة.

“Akan tetapi jika tidak ada fitnah dalam takbir, dan dikatakan kepada orang-orang bahwa kita mewakilkan pada satu orang tertentu, mu’adzdzin atau selainnya, untuk bertakbir dengan takbir yang disyari’atkan menggunakan pengeras suara, tanpa diikuti oleh orang lain secara berjama’ah, maka aku tidak melihat ada masalah dengan hal tersebut, karena ini termasuk dalam bab mengeraskan suara secara jahr untuk bertakbir, dan karena di dalamnya ada pengingat bagi orang-orang yang lalai atau lupa.

Sebagaimana telah diketahui bahwa jika seseorang bertakbir dengan mengeraskan suaranya tanpa menggunakan pengeras suara maka tidak akan ada yang mengingkarinya. Maka begitu pula jika dia bertakbir menggunakan pengeras suara.

Akan tetapi, ini dilakukan tanpa diikuti oleh orang-orang secara berjama’ah, seolah dia mentalqin kalimat takbir kepada mereka, di mana mereka menunggu takbir orang tersebut dan mereka akan bertakbir setelahnya dalam satu suara secara serempak. Maka ini tidak ada landasannya dalam Sunnah.” [3]

Jika ada yang bertanya: Bukankah Ibnul-Haj rahimahullah telah menjelaskan di atas bahwa bertakbir dengan cara berteriak keras sekali itu tidak boleh dilakukan? Apa bedanya dengan menggunakan pengeras suara?

Maka kita katakan: Berteriak keras sekali ketika bertakbir itu termasuk takalluf atau perbuatan yang berlebih-lebihan. Adapun menggunakan pengeras suara ketika bertakbir, maka ini bukan masuk dalam bab berteriak keras sekali ketika bertakbir, tetapi masuk dalam bab mengeraskan suara ketika bertakbir jika ada kebutuhan untuknya.

Hukum asalnya adalah bertakbir secara jahr, tetapi tidak perlu mengeraskan suara jika tidak ada kebutuhan untuk mengeraskannya, sehingga kalimat takbirnya tersebut hanya cukup didengar oleh dirinya sendiri dan orang di sekitarnya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata,

كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم، فكنا إذا أشرفنا على واد هلَّلنا وكبَّرنا ارتفعت أصواتنا، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: يا أيها الناس، اربعوا على أنفسكم، فإنكم لا تدعون أصم ولا غائبا، إنه معكم، إنه سميع قريب، تبارك اسمه وتعالى جده.

“Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika haji), dan ketika kami menaiki tempat tinggi di atas lembah maka kami akan mengucapkan tahlil dan takbir, sembari mengeraskan suara kami. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai manusia, lembutlah terhadap diri kalian sendiri. Karena sesungguhnya kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan tidak hadir. Sesungguhnya Dia bersama kalian. Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha Suci Nama-Nya dan Maha Tinggi Kedudukan-Nya.’[4]

Adapun jika ada kebutuhan, seperti dalam rangka mengingatkan orang-orang yang lalai dan lupa untuk bertakbir, maka mengeraskan suara tidak mengapa, tetapi tidak boleh sampai takalluf atau berlebih-lebihan. Itu mengapa Syaikh al-’Utsaimin rahimahullah menyebutkan tujuan ini dalam fatwa beliau di atas, yaitu dalam rangka sebagai pengingat bagi manusia yang lalai dan lupa untuk bertakbir.

Ini seperti yang dilakukan oleh ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, yaitu:

وكان عمر رضي الله عنه يكبِّر في قبته بمنى فيسمعه أهل المسجد، فيكبِّرون ويكبٍّر أهل الأسواق، حتى ترتجَّ منى تكبيرا.

“‘Umar radhiyallahu ‘anhu bertakbir di kemahnya di Mina sehingga orang-orang di masjid mendengarnya. Maka mereka pun bertakbir, dan bertakbir pula orang-orang di pasar, hingga menjadi ramailah Mina dengan takbir.” [5]

Demikian pula, ini seperti yang dilakukan oleh Abu Hurairah dan ‘Abdullah ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhum, yaitu:

وكان ابن عمر وأبو هريرة يخرجان إلى السوق في أيام العشر يكبِّران، ويكبِّر الناس بتكبيرهما.

“Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah keluar ke pasar pada sepuluh hari dari bulan Dzul-Hijjah sembari bertakbir, dan orang-orang pun bertakbir dengan takbir keduanya.” [6]

Oleh karena itu, kita simpulkan bahwa mengeraskan suara kita ketika bertakbir tanpa takalluf atau berlebih-lebihan, agar orang-orang yang lalai dan lupa menjadi ingat juga untuk bertakbir, maka itu adalah hal yang dibutuhkan dan bahwa hal itu telah ada salafnya.

Jika ada yang berkata: Riwayat dari ‘Umar, Ibnu ‘Umar, dan Abu Hurairah radhiyalahu ‘anhum di atas adalah dalil bolehnya bertakbir secara berjama’ah dalam satu suara secara serempak, sehingga itu bukan bid’ah.

Maka kita katakan: Tidak ada dari riwayat di atas yang dapat digunakan sebagai dalil untuk perbuatan tersebut, karena ‘Umar, Ibnu ‘Umar, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum bertakbir sendiri-sendiri, dan orang-orang yang mendengar takbir mereka kemudian ikut bertakbir juga secara sendiri-sendiri, tanpa melakukannya secara berjama’ah dalam satu suara secara serempak.

Syaikh Hamud ibn ‘Abdillah at-Tuwaijiriy rahimahullah berkata,

وأيضا فإن عمر وابنه وأبا هريرة رضي الله عنهم كان كل منهم يكبِّر على حدته، وكذلك كل من سمعهم، فإن كلا منهم يكبِّر على حدته، ولم يكن في فعلهم تلحين وتطريب، ولا اجتمع اثنان منهم فضلا عن الجماعة على التجاوب به وإخراجه بأصوات عالية متطابقة.

“Dan juga ‘Umar, putra beliau, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum, masing-masing dari mereka bertakbir secara sendiri-sendiri. Demikian pula setiap orang yang mendengar mereka, maka setiap dari orang-orang tersebut juga bertakbir secara sendiri-sendiri, dan mereka bertakbir tidak dengan melagukannya. Dan tidaklah ada dua orang yang berkumpul untuk bertakbir bersama, apalagi beberapa orang berkumpul untuk bertakbir secara berjawab-jawaban dan secara berjama’ah dalam suara yang keras dan serempak.” [7]

Dan yang lebih mungkar daripada bertakbir dengan melagu-lagukannya seperti yang disebutkan oleh Syaikh Hamud at-Tuwaijiriy rahimahullah di atas adalah takbir keliling dengan cara berarak-arakan keliling kota/desa sembari menabuh-nabuh alat musik dan mengeluarkan suara yang sangat keras sehingga mengganggu ketenangan dan ketenteraman. Bukan dengan cara demikian syi’ar agama yaitu kalimat takbir itu disyi’arkan.

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Catatan Kaki:

  1. al-Madkhal ila Tanmiyatil-A’mal bi-Tahsinin-Niyyat wat-Tanbih ‘ala Ba’dhil-Bida’ wal-’Awa’id, karya Muhammad ibn Muhammad Abu ‘Abdillah Ibnul-Haj al-’Abdariy al-Fasiy (2/285). []
  2. Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah no. 12244. []
  3. Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatisy-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-’Utsaimin (16/258). []
  4. Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 2992, 4205, 6384, 6610, 7386) dan Muslim (no. 2704). []
  5. Diriwayatkan oleh al-Bukhariy secara mu’allaq di kitab Shahih beliau, pada kitab: كتاب العيدين, bab: باب التكبير أيام منى وإذا غدا إلى عرفة []
  6. Diriwayatkan oleh al-Bukhariy secara mu’allaq di kitab Shahih beliau, pada kitab: كتاب العيدين, bab: باب فضل العمل في أيام التشريق []
  7. Inkarut-Takbir al-Jama’iy wa Ghairihi, karya Hamud ibn ‘Abdillah at-Tuwaijiriy (hlm. 22). []

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top