Meraih Kekuasaan dan Kepemimpinan Bukanlah Tujuan Utama Dakwah

Meraih kekuasaan dan kepemimpinan bukanlah tujuan utama dakwah, sebagaimana tolak ukur keberhasilan dakwah bukanlah ketika kekuasaan dan kepemimpinan tersebut berhasil diraih. Lihatlah para nabi dan rasul. Mereka adalah orang-orang yang paling berhasil dan paling berkah dakwahnya, tetapi berapa dari mereka yang Allah berikan kekuasaan dan kepemimpinan? Yang kita tahu misalkan: Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Muhammad ‘alaihimush-shalatu was-salam. Banyak dari para nabi dan rasul bahkan tidak diberikan kekuasaan dan kepemimpinan oleh Allah, tetapi kita sepakat bahwa dakwah mereka adalah dakwah yang paling berhasil dan sukses!

Ketahuilah bahwa tujuan utama dakwah Islam adalah mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengajak mereka untuk tunduk kepada Syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dari ‘Abdullah ibn al-’Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika mengutus Mu’adz ibn Jabal radhiyallahu ‘anhu ke Yaman,

إنك تقدم على قوم من أهل الكتاب، فليكن أول ما تدعوهم إلى أن يوحِّدوا الله تعالى، فإذا عرفوا ذلك فأخبرهم أن الله فرض عليهم خمس صلوات في يومهم وليلتهم، فإذا صلوا فأخبرهم أن الله افترض عليهم زكاة في أموالهم تُؤخَذ من غنيهم فتُرَد على فقيرهم، فإذا أقروا بذلك فخذ منهم وتوقَّ كرائم أموال الناس.

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum dari kalangan Ahlul-Kitab. Maka jadikanlah yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah mengetahuinya maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka lima kali shalat dalam waktu siang dan malam. Jika mereka telah mengerjakan shalat maka kabarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat atas harta-harta mereka, yang diambil dari orang kaya di antara mereka dan dibagikan kepada orang faqir dari mereka. Dan jika mereka mematuhinya maka ambillah zakat dari mereka dan hindarilah harta mereka yang paling bagus.” [1]

Demikian pula, meraih kekuasaan dan kepemimpinan juga bukan merupakan bagian dari rukun Islam.

Dari ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت.

“Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan puasa Ramadhan, dan mengerjakan ibadah haji.” [2]

Dengan kata lain, kekuasaan dan kepemimpinan itu hanyalah wasilah saja, bukan tujuan utama. Jika Allah memberikan kekuasaan dan kepemimpinan, maka alhamdulillah. Tetapi jika tidak, maka kita tetap menjalankan tugas kita yaitu mendakwahkan Islam dengan baik, dengan dilandasi ilmu dan dilakukan dengan penuh hikmah.

Kita lihat bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau menerima tawaran kekuasaan oleh orang-orang kafir Quraisy pada saat beliau berdakwah di Makkah.

Nabi Yusuf ‘alaihis-salam bukanlah yang berusaha mencari kekuasaan di negeri Mesir, tetapi beliau ditawari kekuasaan setelah berhasil menafsirkan mimpi Raja Mesir dengan tepat atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian setelah ditawari posisi dan kekuasaan barulah beliau ‘alaihis-salam memilih untuk menjadi bendahara kerajaan atau menteri keuangan.

Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mendapatkan kekuasaan dan kepemimpinan, kecuali setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah dan taufiq kepada para penduduk Madinah untuk masuk Islam dan bertekad dan berbai’at untuk melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berjuang bersama beliau.

Yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan sebelum para penduduk Madinah itu datang adalah mendakwahkan tauhid, mendakwahkan Islam, mengajarkan ilmu syar’iy kepada para sahabat, dan mendatangi orang per orang yang datang ke Makkah untuk naik haji untuk mengajak mereka mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan awal mula para penduduk Madinah berbondong-bondong masuk Islam itu adalah setelah beberapa pemuda dari Madinah ketika sedang naik haji ke Makkah, kemudian didekati tendanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun mendakwahkan tauhid kepada mereka, lalu mereka menerima dakwah beliau tersebut. Dari beberapa pemuda inilah Islam menyebar di Madinah, dan ini yang kemudian menjadi titik tolak kemenangan dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!

Oleh karena itu, merupakan sebuah kesalahan besar ketika sebagian orang sangat semangat untuk meraih kekuasaan dan kepemimpinan, dan menjadikannya sebagai tujuan utama dakwah mereka, sehingga mereka berusaha meraihnya dengan segala macam cara, walaupun itu harus mengorbankan akidah yang shahihah, mengorbankan manhaj yang lurus, dan menerjang keharaman demi keharaman, bahkan di antara mereka ada yang menempuh jalan makar, pemberontakan, dan terorisme, semuanya itu dalam rangka meraih kekuasaan dan kepemimpinan. Mereka bersibuk-sibuk dengan hal tersebut karena itu telah menjadi tujuan dan perhatian utama mereka, sehingga mereka melupakan dakwah tauhid, melupakan menuntut ilmu syar’iy yang shahih, dan justru lebih sibuk dengan apa yang mereka sebut dengan istilah fiqhul-waqi’ padahal itu jauh dari yang dimaksud dengan fiqhul-waqi’ yang sebenarnya! Ini semua karena salah kaprah dalam memahami apa tujuan utama dari dakwah.

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Catatan Kaki:

  1. Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 1458, 7372) dan Muslim (no. 19). []
  2. Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 8) dan Muslim (no. 16). []

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top