Manhaj Salaf Itu Ma’shum, sedangkan Tiap Individu yang Bermanhaj Salaf Itu Tidak Ma’shum

Setelah menjelaskan tentang karakteristik dari ahlus-sunnah dan keutamaan mereka dibandingkan orang-orang yang menyimpang dari kalangan ahli bid’ah, Syaikh Muhammad ibn Ibrahim al-Hamd hafizhahullah berkata,

وليس معنى ذلك أن أهل السنة معصومون، لا، بل إن منهجهم هو المعصوم، وجماعتهم هي المعصومة. أما آحادهم فقد يقع منه الظلم، والبغي، والعدوان، وارتكاب المخالفات.

“Ini bukan berarti bahwa ahlus-sunnah itu ma’shum. Tidak. Akan tetapi, manhaj merekalah yang ma’shum, dan jama’ah merekalah yang ma’shum. Adapun individu dari mereka maka bisa jadi melakukan kezhaliman, dosa, permusuhan, dan penyelisihan (terhadap al-haqq).” [1]

Manhaj Salaf itu Ma’shum

Mengapa manhaj ahlus-sunnah, atau yang juga disebut sebagai manhaj salaf, itu ma’shum (terbebas dari kesalahan)? Karena manhaj salaf adalah cara dan metode beragama sesuai dengan pemahaman para as-salafush-shalih, yaitu generasi terdahulu dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan.

Dengan kata lain, manhaj salaf itu adalah metode memahami al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman para generasi terdahulu ketika membahas masalah-masalah agama, baik itu di bidang akidah, fikih, tafsir, adab, akhlak, dll. Tidak boleh bagi kita untuk mengedepankan akal, pemikiran, dan penafsiran kita sendiri terhadap ayat dan hadits, sehingga akhirnya akan berujung pada menyelisihi para generasi terdahulu atau mengada-adakan suatu perkara yang baru dalam agama. Orang-orang yang bermanhaj salaf juga disebut sebagai ahlus-sunnah, karena mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh pada Sunnah Nabi atau tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pemahaman para generasi terdahulu terhadap agama ini, yakni pemahaman para sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in, adalah pemahaman yang haq. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih para sahabat untuk membersamai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, membantu dakwah beliau, dan berjuang menegakkan agama Islam ini bersama beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah memuji mereka dalam firman-Nya,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu dan yang pertama-tama (dalam Islam dan dalam kebaikan), dari golongan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha’ kepada mereka dan mereka ridha’ kepada Allah. Dan Allah menyiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [2]

Demikian pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk berpegang teguh pada Sunnah beliau dan sunnahnya para al-Khulafa’ ar-Rasyidin. Diriwayatkan oleh al-’Irbadh ibn Sariyah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل بدعة ضلالة.

“Sesungguhnya di antara yang hidup dari kalian itu akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh pada Sunnahku dan sunnahnya para al-Khulafa’ ar-Rasyidin yang diberi petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi geraham. Jauhilah perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya semua bid’ah itu adalah kesesatan.” [3]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah memuji tiga generasi pertama dari umat ini. Diriwayatkan oleh ‘Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خير الناس قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم.

“Manusia yang terbaik adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka.” [4]

Ini adalah sedikit dari banyak sekali dalil yang menegaskan bahwa pemahaman para generasi terdahulu terhadap agama ini adalah al-haqq. Itu mengapa kita katakan bahwa manhaj salaf itu ma’shum.

Para Generasi Terdahulu secara Kolektif Itu Ma’shum

Demikian pula, kita katakan bahwa jama’ah para generasi terdahulu itu ma’shum. Yakni, para sahabat secara kolektif adalah orang-orang yang diberikan hidayah dan taufiq oleh Allah untuk membersamai dan berjuang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka diberikan hidayah dan taufiq oleh Allah untuk mengajarkan agama Islam ini kepada generasi setelahnya, yakni generasi tabi’in, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Demikian pula, generasi tabi’in pun melanjutkan mengajarkan agama ini kepada generasi berikutnya, yaitu generasi tabi’it-tabi’in.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memuji generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in, itu berarti beliau ridha’ kepada mereka dan kepada manhaj mereka dalam beragama. Dan tidaklah apa yang beliau ucapkan tersebut kecuali itu adalah wahyu dari Allah. Maka, dapat disimpulkan juga bahwa Allah ridha’ kepada mereka dan kepada manhaj mereka dalam beragama, di mana ini sejalan dengan ayat yang telah kita nukil di atas tentang keridhaan Allah kepada mereka. Itulah mengapa kita katakan bahwa para generasi terdahulu secara kolektif adalah ma’shum, karena mereka semua telah dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika para generasi terdahulu tersebut memiliki ijma’ dalam suatu masalah, maka itu adalah pendapat yang haq. Dan ketika mereka berbeda pendapat dalam suatu masalah, maka pasti ada sebagian dari mereka yang diberikan hidayah dan taufiq oleh Allah untuk mengemukakan pendapat yang haq di Sisi Allah.

Diriwayatkan oleh Tsauban radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله وهم كذلك.

“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang menang di atas al-haqq. Orang yang memusuhi mereka tidak akan bisa memberikan kemadharatan kepada mereka. Mereka tetap dalam kondisi demikian hingga datang Hari Kiamat.” [5]

Yakni, jika ada sebagian dari para generasi terdahulu yang berbeda pendapat dalam masalah agama, maka akan selalu ada orang-orang dari kalangan mereka yang akan diberikan hidayah dan taufiq oleh Allah untuk mengemukakan pendapat yang haq, istiqamah di atasnya, menyebarkannya, dan mengajarkannya kepada generasi berikutnya. Dalam masalah-masalah yang merupakan perkara ushul, kita dapati walhamdulillah bahwa mereka telah bersepakat atau memiliki ijma’ dalam masalah-masalah tersebut. Dan dalam masalah-masalah yang merupakan perkara furu’, di mana perbedaan pendapat dibolehkan dalam masalah-masalah ini karena ia merupakan masalah ijtihadiyyah, maka akan selalu ada dari mereka yang diberikan hidayah dan taufiq oleh Allah untuk mengemukakan pendapat yang haq sehingga mereka akan mendapatkan dua pahala, sedangkan sebagian yang lain dari mereka yang ijtihadnya ternyata tidak sesuai dengan apa yang haq di Sisi Allah maka akan mendapatkan satu pahala.

Itulah mengapa kita katakan bahwa para generasi terdahulu secara kolektif itu ma’shum. Karena mereka telah dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya, dan karena pemahaman mereka terhadap agama ini telah dijaga oleh Allah agar pemahaman yang shahih itu tidak hilang setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Kemudian, jika ada kesalahan dan ketergelinciran yang dilakukan oleh sebagian dari mereka, maka sebagian dari mereka yang lain akan menasihatinya dan meluruskannya. Ini berbeda dengan kalangan ahli bid’ah, di mana walaupun terjadi penyimpangan, kebid’ahan, kesesatan, bahkan sebagiannya berupa kekufuran dan kesyirikan, kita dapati bahwa tidak ada pengingkaran dari mereka terhadap itu semua. Yang terjadi justru adalah sebaliknya; mereka membiarkan seluruh penyimpangan tersebut dan bahkan membantah dan memerangi pendapat yang haq yang sesuai dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam!

Tiap Individu yang Bermanhaj Salaf Itu Tidak Ma’shum

Adapun tiap individu dari generasi terdahulu, apalagi tiap individu dari generasi belakangan yang mengikuti manhaj para generasi terdahulu, maka dia tidaklah ma’shum. Bisa jadi ada kesalahan dan ketergelinciran yang dilakukan, karena setiap dari mereka dan juga kita adalah manusia. Oleh karena itu, tidak boleh bagi kita untuk menisbatkan kesalahan seorang individu yang bermanhaj salaf kepada manhaj salaf itu sendiri. Sebagaimana tidak boleh bagi kita untuk menisbatkan kesalahan seorang muslim kepada agama Islam itu sendiri.

Jika dibandingkan dengan orang-orang yang tidak berpegang teguh pada Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni orang-orang dari kalangan ahli bid’ah, maka kesalahan dan ketergelinciran seorang individu dari kalangan ahlus-sunnah itu masih lebih sedikit daripada kesalahan dan ketergelinciran seorang individu dari kalangan ahli bid’ah.

Syaikh Muhammad ibn Ibrahim al-Hamd hafizhahullah berkata,

ولكن ذلك قليل بالنسبة إلى غيرهم، ولا يقر من فعل ذلك منهم، بل يبتعد عن السنة بقدر مخالفته.

“Akan tetapi, hal tersebut (yakni, kesalahan dan ketergelinciran dari seorang individu ahlus-sunnah) sedikit jika dibandingkan dengan yang selain dari mereka (yakni, kesalahan dan ketergelinciran dari seorang individu ahli bid’ah). Dan tidak boleh membiarkan kesalahan dan ketergelinciran dari seorang ahlus-sunnah yang melakukan hal tersebut. Bahkan dia menjauh dari Sunnah dengan kadar sesuai dengan penyelisihannya (terhadap al-haqq).” [6]

Na’am, jika ada seorang individu ahlus-sunnah yang melakukan kesalahan dan ketergelinciran, maka wajib bagi kita untuk menasihatinya dan mengingkari kesalahan tersebut. Dan orang tersebut akan menjauh dari Sunnah dengan kadar sesuai dengan penyelisihannya terhadap al-haqq. Dengan kata lain, kadar keimanan orang tersebut akan berkurang sesuai dengan seberapa besar keharaman dan kemaksiatan yang telah dia lakukan.

Ahlus-Sunnah Lebih Unggul dan Lebih Utama daripada Ahli Bid’ah

Kita tutup tulisan ini dengan sebuah pengingat bahwa di antara keutamaan ahlus-sunnah adalah mereka itu lebih unggul dan lebih utama daripada ahli bid’ah. Walaupun ahlus-sunnah dan ahli bid’ah sama-sama dapat melakukan kesalahan dan ketergelinciran, kita tegaskan bahwa lurusnya akidah dan berpegang teguhnya seorang individu ahlus-sunnah kepada Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetap membuatnya memiliki keutamaan yang lebih besar daripada seorang ahli bid’ah.

Syaikh Muhammad ibn Ibrahim al-Hamd hafizhahullah berkata,

ثم إن ما عند أهل السنة من مخالفات وأخطاء فعند غيرهم أكثر مما عندهم، وما عند غيرهم من فضل وعلم وكمال فعند أهل السنة أكمله وأتمه.

“Kemudian, untuk setiap penyelisihan (terhadap al-haqq) dan kesalahan yang dimiliki oleh ahlus-sunnah, maka pada ahli bid’ah ada penyelisihan dan kesalahan yang lebih besar daripada itu. Dan untuk setiap keutamaan, ilmu, dan kesempurnaan yang dimiliki oleh ahli bid’ah, maka pada ahlus-sunnah ada yang lebih sempurna dan lebih bagus daripada itu.” [7]

Dari penjelasan di atas, kita simpulkan bahwa kita harus senantiasa berusaha untuk berpegang teguh pada Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dan pemahaman para generasi terdahulu dalam beragama. Demikian pula, kita juga harus senantiasa mengintrospeksi diri agar kita dapat terhindar dari kesalahan dan ketergelinciran. Jika pada akhirnya kita salah dan tergelincir sehingga terjatuh pada keharaman dan kemaksiatan, maka wajib bagi kita untuk langsung bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segera dan senantiasa bertaubat kepada Allah itu adalah sifat seorang mu’min, sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kalian semuanya kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” [8]

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Catatan Kaki:

  1. Mukhtashar ‘Aqidati Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah, karya Muhammad ibn Ibrahim al-Hamd (hlm. 45). []
  2. Surat at-Taubah: 100. []
  3. Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4607). []
  4. Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 2652, 3651, 6429, 6658) dan Muslim (no. 2533). []
  5. Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 1920). []
  6. Mukhtashar ‘Aqidati Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah, karya Muhammad ibn Ibrahim al-Hamd (hlm. 45). []
  7. Ibid. []
  8. Surat an-Nur: 31. []

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top