Hanya Ingin Menuntut Ilmu dari Para Ustadz yang Terkenal atau Hanya Mau Mengundang Mereka Adalah Kebodohan dan Kesombongan terhadap Ilmu

Di antara adab yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu dan panitia kajian adalah tidak boleh menyia-nyiakan ilmu dari seorang yang berilmu, walaupun beliau kurang terkenal.

Ibnu Jama’ah al-Kinaniy asy-Syafi’iy rahimahullah berkata,

وليحذر من التقيد بالمشهورين وترك الأخذ عن الخاملين، فقد عد الغزالي وغيره ذلك من الكبر على العلم وجعله عين الحماقة.

“Berhati-hatilah dari hanya ingin belajar kepada orang-orang berilmu yang terkenal dan tidak mau belajar kepada orang-orang berilmu yang kurang terkenal. al-Ghazzaliy dan yang lainnya telah menilai hal tersebut sebagai kesombongan terhadap ilmu dan menjadikannya sebagai sebuah kebodohan itu sendiri.” [1]

Oleh karena itu, selama ada seorang yang berilmu di tengah-tengah kita, di daerah kita atau di kota kita, di mana beliau memiliki akidah dan manhaj yang lurus dan kapasitas yang mumpuni sebagai seorang pengajar, tetapi beliau adalah seorang berilmu yang kurang terkenal, maka jangan sampai hal ini menghalangi kita untuk memuliakan beliau dan menuntut ilmu dari beliau.

Ibnu Jama’ah al-Kinaniy asy-Syafi’iy rahimahullah menyebutkan alasannya dalam perkataan beliau,

لأن الحكمة ضالة المؤمن يلتقطها حيث وجدها، ويغتنمها حيث ظفر بها، ويتقلد المنة لمن ساقها إليه، فإنه يهرب من مخافة الجهل كما يهرب من الأسد، والهارب من الأسد لا يأنف من دلالة من يدله على الخلاص كائنا من كان.

“Karena hikmah adalah barang yang dicari oleh seorang mu’min. Dia akan mengambilnya di mana pun dia menemukannya, dia akan memanfaatkannya ketika dia telah mengambilnya, dan dia akan bersyukur dan berterima kasih kepada orang yang memberikannya kepadanya. Sesungguhnya dia lari dari kejahilan sebagaimana dia lari dari singa. Dan orang yang lari dari singa tidak akan menolak petunjuk dari siapa pun yang menunjukinya jalan agar terbebas dari kejaran singa tersebut.” [2]

Jika niatnya memang adalah untuk menuntut ilmu dan mengeluarkan dirinya dari kejahilan, maka tentu dia tidak akan menyia-nyiakan ilmu dari seorang yang berilmu di daerahnya atau di kotanya, walaupun beliau kurang terkenal. Sebagian orang di zaman ini hanya ingin duduk menuntut ilmu di kajian ustadz terkenal yang didatangkan dari luar kota, tetapi enggan dan tidak mau duduk menuntut ilmu di kajian para ustadz di daerahnya atau di kotanya sendiri, padahal kajian dari “ustadz lokal” itu lebih memudahkan kita untuk membangun pemahaman ilmu secara terstruktur.

Ibnu Jama’ah al-Kinaniy asy-Syafi’iy rahimahullah melanjutkan,

فإذا كان الخامل ممن تُرجى بركته كان النفع به أعم، والتحصيل من جهته أتم.

“Jika orang berilmu yang kurang terkenal tersebut termasuk orang yang diharapkan keberkahannya, maka manfaat yang bisa didapat darinya itu akan lebih besar, dan menuntut ilmu darinya itu adalah lebih baik.” [2]

Dengan kata lain, jika menuntut ilmu kepada ustadz yang kurang terkenal itu membuat kita lebih bisa belajar ilmu dengan lebih terstruktur karena beliau berada di tengah-tengah kita, yakni di daerah kita atau di kota kita sendiri, daripada jika kita menuntut ilmu kepada para ustadz terkenal dari luar kota yang kedatangan mereka hanya bisa sesekali ke kota kita, maka jangan sia-siakan ilmu dari ustadz yang kurang terkenal tersebut. Jika ada yang berkata, “Tiap pekan selalu ada para ustadz terkenal yang berbeda-beda yang datang ke kota kita.” Maka kita katakan, “Itu bagus, tetapi itu kurang bisa membangun ilmu kita secara kuat dan terstruktur, karena berganti-gantinya kurikulum itu tidak akan bisa menyamai kurikulum yang konsisten, dan karena untuk membangun 999 bangunan yang kokoh hanya dalam waktu satu malam itu hanya ada dalam dongeng saja!”

Demikian pula, adab ini juga berlaku bagi para panitia kajian. Jika semangat antum hanya ingin mengundang para ustadz yang terkenal tetapi kemudian menyia-nyiakan ilmu dari para ustadz yang kurang terkenal di daerah antum atau di kota antum, maka ini adalah sebuah kesombongan terhadap ilmu dan juga kebodohan, sebagaimana perkataan al-Ghazzaliy dan selainnya yang telah kita nukil di atas. Selama ustadz di tengah-tengah kita tersebut adalah orang yang berilmu, memiliki kapasitas yang mumpuni sebagai pengajar, dan memiliki akidah dan manhaj yang lurus, maka bantulah dakwah beliau dan sebarkanlah ilmu beliau, karena itu akan lebih bermanfaat bagi masyarakat dan penuntut ilmu di daerah antum atau di kota antum. Karena mengajarkan ilmu secara terstruktur dan sistematik itu lebih baik dan lebih bermanfaat dalam jangka panjang daripada mengajarkan ilmu hanya sesekali saja dan bersifat tematik.

Kita akhiri tulisan ini dengan beberapa catatan penting.

Pertama: Bisa jadi tidak ada hubungan antara keterkenalan dengan ilmu seseorang. Dan bisa jadi tidak ada hubungan antara ilmu dengan keahlian seseorang dalam mengajar. Orang yang kurang terkenal itu bisa jadi memiliki ilmu yang lebih kokoh daripada orang yang lebih terkenal. Dan orang yang ilmunya sebenarnya lebih sedikit itu bisa jadi lebih bisa memahamkan kita terhadap suatu ilmu daripada orang yang ilmunya lebih banyak.

Kedua: Keterkenalan itu adalah dari Allah, sebagaimana ilmu juga dari Allah. Bedanya adalah para ulama’ berusaha meraih ilmu dan bahkan meminta tambahan ilmu kepada Allah, tetapi sebaliknya mereka berusaha menjauhi keterkenalan. Oleh karena itu, tidak boleh bagi kita untuk menilai ilmu seseorang hanya dari keterkenalannya.

Ketiga: Yang dibahas dalam tulisan ini adalah jangan sampai kita menyia-nyiakan ilmu dari seorang yang berilmu tetapi kurang terkenal, karena kita hanya ingin duduk di majelis para ustadz terkenal. Tulisan ini sama sekali tidak menghimbau agar kita menjauhi majelis ilmu dari para ustadz yang terkenal tersebut, selama mereka berada di atas akidah dan manhaj yang lurus dan memiliki keilmuan yang mumpuni. Bedakan antara yang ini dengan yang itu, semoga engkau dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Catatan Kaki:
  1. Tadzkiratus-Sami’ wal-Mutakallim fiy Adabil-’Alim wal-Muta’allim, karya Muhammad ibn Ibrahim Ibnu Jama’ah al-Kinaniy asy-Syafi’iy (hlm. 96). []
  2. Ibid. [][]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top