Dua Makna Ikhlas

Ada dua syarat agar amalan ibadah kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: ikhlas dan ittiba’.

Ittiba’ bermakna mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yakni, wajib bagi kita untuk melakukan amalan ibadah sesuai dengan tata cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak boleh beramal ibadah dengan tata cara yang menyelisihi tuntunan beliau, dan juga tidak boleh beramal dengan tata cara yang tidak pernah dicontohkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, jika seseorang tidak memenuhi syarat ittiba’ ini dalam beramal ibadah, maka antara tata cara amalan ibadahnya itu salah, atau dia telah melakukan bid’ah.

Adapun ikhlas, maka ia memiliki dua makna, yang keduanya harus sama-sama dipenuhi oleh seseorang agar amalan ibadahnya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Makna Pertama: Mengarahkan amalan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah makna dari tauhid uluhiyyah, dan inilah inti utama dari dakwah para rasul.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah, dan hanya kepada Engkau-lah kami meminta pertolongan.” [1]

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Beribadahlah kepada Allah, dan janganlah berbuat kesyirikan sama sekali.” [2]

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul: beribadahlah kepada Allah, dan jauhilah thaghut.” [3]

Demikian pula, lihatlah apa yang diucapkan para rasul kepada kaum mereka,

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

“Beribadahlah kepada Allah, tidak bagi sesembahan bagi kalian selain Dia.”

Misalnya, disebutkan di dalam al-Qur’an bahwa ini adalah perkataan Nabi Nuh [4], Nabi Hud [5], Nabi Shalih [6], dan Nabi Syu’aib [7], ‘alaihimush-shalatu was-salam.

Makna Kedua: Mengharapkan pahala dari amalan ibadahnya hanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak boleh bagi kita untuk melakukan riya’, yakni mengharapkan pujian dari selain Allah, karena setiap apa yang kita niatkan di dalam hati kita itu diketahui oleh Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ

“Katakanlah (wahai Rasul), ‘Jika kalian menyembunyikan apa yang ada di dalam dada kalian atau menampakkannya, maka Allah mengetahuinya.’” [8]

Oleh karena itu, jika kita ingin memenuhi syarat ikhlas dalam beribadah kepada Allah, harus terpenuhi dua makna ini:

Pertama: Mengarahkan ibadah tersebut hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kedua: Mengharapkan pahala dari ibadah tersebut hanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jika seseorang tidak memenuhi makna pertama, maka dia telah terjatuh ke dalam syirik akbar. Dan jika dia tidak memenuhi makna kedua, maka dia telah terjatuh ke dalam syirik ashghar.

Dalam sebuah hadits qudsiy yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قال الله تبارك وتعالى: أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته وشركه.

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan amalan di mana di dalamnya dia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama dengan sekutunya.’” [9]

Hadits ini mencakup dua jenis syirik, syirik akbar ataupun syirik ashghar. Keduanya sama-sama dilarang oleh syari’at. Akan tetapi, perbedaannya adalah: jika seseorang melakukan syirik akbar, maka seluruh amalan ibadahnya menjadi terhapus sia-sia, karena dia telah melakukan pembatal keislaman; sedangkan jika dia melakukan syirik ashghar, maka hanya amalan ibadah yang dicampuri oleh syirik ashghar tersebut yang akan terhapus sia-sia.

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk menaruh perhatian kepada kedua makna dari ikhlas ini, dan berusaha memenuhi keduanya ketika kita melakukan amalan ibadah. Jangan menjadi seperti banyak sekali dari kalangan ahli bid’ah yang menaruh perhatian hanya pada makna kedua tetapi tidak menaruh perhatian pada makna pertama.

Jika ditanya, apa yang menjadi sebab dari kurangnya perhatian mereka pada makna pertama dari ikhlas? Maka jawabannya adalah karena mereka para ahli bid’ah tersebut tidak menaruh perhatian pada pembahasan tauhid uluhiyyah. Mereka cuma memahami dan mempelajari tentang tauhid secara global; sekadar meyakini bahwa Allah adalah tuhan kita, maka mereka katakan itu telah cukup. Padahal, memahami dan mempelajari tauhid (demikian pula mengajarkannya) itu harus secara terperinci, tidak boleh secara global saja. Kita harus memahami bahwa syirik akbar itu tidak hanya berbentuk menyembah berhala. Akan tetapi, banyak sekali bentuk-bentuk lain dari syirik akbar yang harus kita hindari. Inilah tugas setiap muslim; dia harus mempelajari tauhid secara terperinci, agar dia melandaskan agamanya di atas ketauhidan yang kokoh, yang tidak dikotori oleh noda-noda kesyirikan, baik syirik akbar ataupun syirik ashghar.

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Catatan Kaki:
  1. Surat al-Fatihah: 5. []
  2. Surat an-Nisa’: 36. []
  3. Surat an-Nahl: 36. []
  4. Surat al-A’raf: 59, surat al-Mu’minun: 23. []
  5. Surat al-A’raf: 65, surat Hud: 50, surat al-Mu’minun: 32. []
  6. Surat al-A’raf: 73, surat Hud: 61. []
  7. Surat al-A’raf: 85, surat Hud: 84. []
  8. Surat Ali ‘Imran: 29. []
  9. Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 2985). []

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top