Di antara sifat yang harus kita jauhi adalah tidak mau menerima kebenaran sehingga membuat hati kita keras membatu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati orang yang demikian dalam firman-Nya,
Ø¥Ùنَّ الَّذÙينَ ÙƒÙŽÙَرÙوا سَوَاءٌ عَلَيْهÙمْ أَأَنذَرْتَهÙمْ أَمْ لَمْ تÙÙ†Ø°ÙØ±Ù’Ù‡Ùمْ لَا ÙŠÙØ¤Ù’Ù…ÙÙ†Ùونَ * خَتَمَ اللَّه٠عَلَىٰ Ù‚ÙÙ„ÙوبÙÙ‡Ùمْ وَعَلَىٰ سَمْعÙÙ‡Ùمْ Û– وَعَلَىٰ أَبْصَارÙÙ‡Ùمْ ØºÙØ´ÙŽØ§ÙˆÙŽØ©ÙŒ Û– ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙ‡Ùمْ عَذَابٌ عَظÙيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sama saja bagi mereka, apakah kamu beri peringatan kepada mereka atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka. Dan ada penutup atas penglihatan mereka. Dan bagi mereka ‘adzab yang sangat berat.†[[Surat al-Baqarah: 6-7. ]]
Karena hati mereka telah dikunci mati oleh Allah, maka mereka tidak mau menerima kebenaran dari dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Yang mereka lakukan justru meminta dalil-dalil lain, dengan tujuan bukan untuk menerima kebenaran seandainya dalil-dalil lain tersebut didatangkan, tetapi tujuan sebenarnya adalah untuk menolak, mengingkari, dan mengolok-olok kebenaran dan orang-orang yang mendakwahkannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ÙˆÙŽØ¥ÙØ°ÙŽØ§ جَاءَتْهÙمْ آيَةٌ قَالÙوا Ù„ÙŽÙ† Ù†Ù‘ÙØ¤Ù’Ù…ÙÙ†ÙŽ ØÙŽØªÙ‘َىٰ Ù†ÙØ¤Ù’تَىٰ Ù…ÙØ«Ù’Ù„ÙŽ مَا Ø£ÙوتÙÙŠÙŽ Ø±ÙØ³Ùل٠اللَّه٠ۘ اللَّه٠أَعْلَم٠ØÙŽÙŠÙ’Ø«Ù ÙŠÙŽØ¬Ù’Ø¹ÙŽÙ„Ù Ø±ÙØ³ÙŽØ§Ù„َتَه٠ۗ Ø³ÙŽÙŠÙØµÙيب٠الَّذÙينَ أَجْرَمÙوا صَغَارٌ عÙندَ اللَّه٠وَعَذَابٌ شَدÙيدٌ بÙمَا كَانÙوا ÙŠÙŽÙ…Ù’ÙƒÙØ±Ùونَ
“Apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata, ‘Kami tidak akan beriman sampai kami diberikan (wahyu dan mu’jizat) seperti yang diberikan kepada para rasul Allah.’ Allah lebih mengetahui di mana Dia meletakkan risalah-Nya. Orang-orang yang berbuat dosa tersebut akan mendapatkan kehinaan di Sisi Allah dan juga ‘adzab yang keras karena tipu daya yang mereka perbuat.†[[Surat al-An’am: 124. ]]
Lihat kondisi orang kafir yang dijelaskan oleh Allah dalam ayat ini. Ketika mereka menolak dalil syar’iy yang Allah wahyukan kepada para rasul Allah, mereka justru meminta untuk diberikan wahyu dan mu’jizat juga, serupa dengan wahyu dan mu’jizat yang diberikan oleh Allah kepada para rasul-Nya. Dan mereka berkata bahwa setelah itu terjadi barulah mereka akan beriman! Sungguh sebuah tipu daya dan dusta yang nyata!
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang perkataan Bani Isra’il, kaum Nabi Musa ‘alaihis-salam,
ÙˆÙŽØ¥ÙØ°Ù’ Ù‚ÙلْتÙمْ يَا Ù…Ùوسَىٰ Ù„ÙŽÙ† Ù†Ù‘ÙØ¤Ù’Ù…ÙÙ†ÙŽ Ù„ÙŽÙƒÙŽ ØÙŽØªÙ‘َىٰ نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً ÙَأَخَذَتْكÙم٠الصَّاعÙقَة٠وَأَنتÙمْ ØªÙŽÙ†Ø¸ÙØ±Ùونَ
“Dan ingatlah ketika kalian (wahai Bani Isra’il) berkata, ‘Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sampai kami melihat Allah secara langsung dengan terang benderang.’ Karena itulah kalian disambar petir sedang kalian menyaksikannya.†[[Surat al-Baqarah: 55. ]]
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan kondisi Bani Isra’il kaum Nabi Musa ‘alaihis-salam yang tidak mau menerima dalil yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Musa, tetapi justru meminta ingin melihat Allah secara langsung dengan terang benderang! Inilah di antara contoh keangkuhan dan kesombongan orang kafir. Walaupun apa yang mereka minta tersebut diwujudkan semuanya oleh Allah, mereka pun juga tidak akan beriman.
Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala secara gamblang dalam firman-Nya,
وَلَوْ ÙَتَØÙ’نَا عَلَيْهÙÙ… بَابًا مّÙÙ†ÙŽ السَّمَاء٠ÙَظَلّÙوا ÙÙÙŠÙ‡Ù ÙŠÙŽØ¹Ù’Ø±ÙØ¬Ùونَ * لَقَالÙوا Ø¥Ùنَّمَا سÙÙƒÙ‘ÙØ±ÙŽØªÙ’ أَبْصَارÙنَا بَلْ Ù†ÙŽØÙ’ن٠قَوْمٌ مَّسْØÙورÙونَ
“Dan seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari pintu-pintu langit, lalu mereka terus-menerus naik ke atasnya. Maka sungguh mereka akan berkata, ‘Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan. Bahkan kami adalah orang-orang yang terkena sihir.’†[[Surat al-Hijr: 14-15. ]]
Bahkan walaupun orang-orang kafir tersebut dinaikkan oleh Allah kepada langit melalui satu pintu langit yang dibuka tersebut, sehingga mereka bisa melihat apa-apa yang ditampakkan kepada mereka dari luasnya Kerajaan Allah di langit dan di bumi ini, maka mereka tetap akan mencari alasan untuk mencari pembenaran dan menolak serta mengingkari kebenaran!
Lihat pula bagaimana perkataan kaum Nabi Syu’aib ‘alaihis-salam kepada beliau, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
قَالÙوا Ø¥Ùنَّمَا أَنتَ Ù…ÙÙ†ÙŽ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØ³ÙŽØÙ‘ÙŽØ±Ùينَ * وَمَا أَنتَ Ø¥Ùلَّا بَشَرٌ Ù…Ù‘ÙØ«Ù’Ù„Ùنَا ÙˆÙŽØ¥ÙÙ† نَّظÙنّÙÙƒÙŽ Ù„ÙŽÙ…ÙÙ†ÙŽ Ø§Ù„Ù’ÙƒÙŽØ§Ø°ÙØ¨Ùينَ * ÙÙŽØ£ÙŽØ³Ù’Ù‚ÙØ·Ù’ عَلَيْنَا ÙƒÙØ³ÙŽÙًا مّÙÙ†ÙŽ السَّمَاء٠إÙÙ† ÙƒÙنتَ Ù…ÙÙ†ÙŽ الصَّادÙÙ‚Ùينَ * قَالَ رَبّÙÙŠ أَعْلَم٠بÙمَا تَعْمَلÙونَ
“Mereka berkata (kepada Nabi Syu’aib ‘alaihis-salam), ‘Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang terkena sihir. Dan kamu tidak lain hanyalah seorang manusia biasa seperti kami. Dan sesungguhnya kami yakin bahwa kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Maka jatuhkanlah kepada kami gumpalan dari langit jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Syu’aib berkata, ‘Rabb-ku lebih mengetahui apa yang akan kamu kerjakan.’†[[Surat asy-Syu’ara’: 185-188. ]]
Dan benarlah apa yang dikatakan oleh Nabi Syu’aib ‘alaihis-salam. Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan ketika ‘adzab itu benar-benar didatangkan oleh Allah kepada mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ÙˆÙŽØ¥ÙÙ† يَرَوْا ÙƒÙØ³Ù’Ùًا مّÙÙ†ÙŽ Ø§Ù„Ø³Ù‘ÙŽÙ…ÙŽØ§Ø¡Ù Ø³ÙŽØ§Ù‚ÙØ·Ù‹Ø§ ÙŠÙŽÙ‚ÙولÙوا سَØÙŽØ§Ø¨ÙŒ مَّرْكÙومٌ
“Jika mereka melihat sebagian dari langit itu jatuh, mereka akan berkata: Itu cuma awan yang bertindih-tindih saja.†[[Surat ath-Thur: 44. ]]
Lihat perkataan mereka ini! ‘Adzab sudah hendak diturunkan kepada mereka, tetapi mereka tetap bersikeras di atas kekufuran, dan bahkan mereka masih berusaha menjelaskan bahwa apa yang mereka lihat itu hanyalah sekadar fenomena alam belaka yang dapat dijelaskan oleh penjelasan-penjelasan akal dan sains.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ÙَكَذَّبÙوه٠ÙَأَخَذَهÙمْ عَذَاب٠يَوْم٠الظّÙلَّة٠ۚ Ø¥Ùنَّه٠كَانَ عَذَابَ يَوْم٠عَظÙيم٠* Ø¥Ùنَّ ÙÙÙŠ ذَٰلÙÙƒÙŽ لَآيَةً Û– وَمَا كَانَ أَكْثَرÙÙ‡ÙÙ… Ù…Ù‘ÙØ¤Ù’Ù…ÙÙ†Ùينَ
“Kemudian mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa ‘adzab pada hari di mana mereka dinaungi awan. Sesungguhnya itu adalah ‘adzab hari yang besar. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terhadap ayat atau tanda kekuasaan Allah. Tetapi kebanyakan dari mereka tidak beriman.†[[Surat asy-Syu’ara’: 189-190. ]]
Dari dalil-dalil di atas kita mengambil pelajaran bahwa kita tidak boleh sombong dan angkuh terhadap kebenaran. Wajib bagi kita untuk segera menerima kebenaran ketika ilmu dan dalil telah sampai kepada kita, walaupun itu bisa jadi tidak sesuai dengan selera, hawa nafsu, kebiasaan, lifestyle, tradisi, dan adat-istiadat kita. Jangan sampai kita menjadi seperti orang kafir yang telah disebutkan di atas, yang tetap menolak dan mengingkari kebenaran walaupun telah didatangkan kepada mereka 1000 dalil!
Demikian pula, tidak boleh bagi kita untuk menafikan ayat atau tanda Allah di langit dan di bumi, dan berusaha menolaknya dengan mengatakan bahwa itu semua hanyalah fenomena alam belaka. Misalnya, ketika terjadi musibah atau bencana alam, yang itu adalah tanda dari Allah dan merupakan kesempatan bagi kita untuk bertaubat dan semakin mendekatkan diri kepada Allah, sebagian orang di zaman ini justru melupakan itu semua dan mengatakan bahwa itu semua dapat dijelaskan oleh sains; bisa dijelaskan prosesnya, bahkan bisa diprediksi kapan terjadinya. Seolah mereka mengatakan bahwa kejadian alam tersebut tidak ada yang mengaturnya!! Dan seolah sains yang mereka miliki tersebut ada dengan sendirinya, bukan merupakan sesuatu yang ditetapkan oleh Allah Rabbul-’alamin yang telah menciptakan alam semesta ini dengan seluruh Sunnatullah yang ada di dalamnya dan keteraturan yang ada dalam ciptaan-ciptaan-Nya!!
Hanya kepada Allah kita berlindung dan meminta pertolongan.
Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com
Barangkali Ustadz bisa membuatkan artikel, video singkat yutub, atau terjemahan tentang hubungan sains dengan Alquran dan hadits
Bagaimana setiap ayat begitu akurat di mata sains
Atau mungkin merekomendasikan website yang membahas nya