Paham Agama Adalah Kunci Kebaikan di Dunia dan Akhirat

Dari Mu’awiyah ibn Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan untuknya, maka Allah berikan dia pemahaman agama.” [[Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 71, 3116, 7312) dan Muslim (no. 1037). ]]

Ada banyak sekali faidah dan pelajaran yang dapat kita ambil dari hadits yang ringkas ini. Di antaranya adalah:

Faidah Pertama: Paham agama adalah kunci kebaikan di dunia dan akhirat.

Itu karena dengan mengetahui apa saja yang Allah ridhai dan apa saja yang Allah murkai, apa saja yang halal dan apa saja yang haram, maka kita dapat menjalani kehidupan ini sesuai dengan batasan-batasan yang telah Allah tetapkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟

“Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah dari kalangan para hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” [[Surat Fathir: 28. ]]

Rasa takutnya kepada Allah itulah yang akan menghalanginya untuk meninggalkan apa yang telah Allah perintahkan dan melakukan apa yang telah Allah larang, sehingga dia akan berusaha untuk meniti kehidupan ini sesuai dengan Syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Faidah Kedua: Hadits ini adalah di antara dalil yang menetapkan bahwa Allah memiliki Sifat Iradah atau Kehendak Allah.

Berdasarkan dalil-dalil syar’iy yang ada, para ulama’ menjelaskan bahwa ada dua jenis Sifat Iradah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pertama: Iradah Kauniyyah, yaitu tentang Kehendak Allah untuk sesuatu terjadi, baik apakah sesuatu tersebut dicintai oleh Allah atau tidak.

Contoh dalil yang menyebutkan Sifat Iradah Kauniyyah adalah:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا۟ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا ٱلْقَوْلُ فَدَمَّرْنَٰهَا تَدْمِيرًا

“Jika Kami berkehendak untuk menghancurkan suatu negeri, maka Kami perintahkan orang-orang kaya di dalam negeri tersebut, tetapi kemudian mereka berbuat kefasikan di dalamnya, sehingga berlakulah ketetapan Kami, maka Kami hancurkan negeri tersebut sehancur-hancurnya.” [[Surat al-Isra’: 16. ]]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلُوا۟ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

“Seandainya Allah berkehendak, maka mereka tidak akan saling berperang satu sama lain. Akan tetapi, Allah melakukan apa yang Dia Kehendaki.” [[Surat al-Baqarah: 253. ]]

Kedua: Iradah Syar’iyyah, yaitu tentang apa-apa yang dicintai oleh Allah, baik apakah hal yang dicintai oleh Allah tersebut benar-benar dilakukan oleh para hamba-Nya atau tidak.

Contoh dalil yang menyebutkan Sifat Iradah Syar’iyyah adalah:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan Dia tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” [[Surat al-Baqarah: 185. ]]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah tidak menghendaki untuk memberikan kesulitan bagi kalian, tetapi Dia menghendaki untuk menyucikan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya kepada kalian, agar kalian bersyukur.” [[Surat al-Ma’idah: 6. ]]

Adapun hadits yang sedang kita bahas di atas, yaitu hadits:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan untuknya, maka Allah berikan dia pemahaman agama.”

maka apakah Sifat Iradah yang disebutkan dalam hadits ini adalah Iradah Kauniyyah atau Iradah Syar’iyyah? Jawabannya adalah Iradah Kauniyyah, karena Kehendak dari Allah ini tidak diperuntukkan untuk semua orang, tetapi hanya bagi para hamba-Nya yang Allah kehendaki. Adapun Iradah Syar’iyyah, maka itu adalah tentang sesuatu yang dicintai oleh Allah untuk dikerjakan oleh seluruh hamba-Nya.

Ini sama dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُۥ يَجْعَلْ صَدْرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk memberikan petunjuk kepadanya, maka Dia akan melapangkan dadanya kepada Islam. Dan barangsiapa yang Allah kehendaki untuk menyesatkannya, maka Dia akan menyesakkan dan menyempitkan dadanya seolah dia naik ke langit.” [[Surat al-An’am: 125. ]]

Faidah Ketiga: Jika ada yang berkata, “Itu berarti orang-orang yang tergerak untuk mempelajari dan memahami agama adalah mereka yang dikehendaki kebaikan oleh Allah. Jika kita termasuk orang yang tidak semangat untuk belajar agama, maka itu karena Allah memang tidak menghendaki kita untuk belajar agama, sehingga kita tidak perlu dan tidak akan bisa untuk berusaha agar kita bisa semangat belajar agama.”

Maka jawabannya adalah:

Dalam sebagian ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bahwa hal tersebut kembali kepada Kehendak Allah, untuk menekankan bahwa memang hanya Allah yang berkuasa atas seluruh apa yang terjadi dalam alam semesta ini.

Misalnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa Allah memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَٱللَّهُ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Allah memberikan hidayah bagi siapa yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus.” [[Surat al-Baqarah: 213. ]]

Akan tetapi, dalam ayat-ayat lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaitkan hidayah kepada sebab-sebab yang dapat mengantarkan seseorang untuk mendapatkan hidayah tersebut dari-Nya.

Misalnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa hidayah dari Allah itu akan diberikan kepada orang yang melakukan apa-apa yang Allah ridhai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَهْدِى بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَٰمِ

“Dengan kitab dari Allah, Allah memberikan hidayah kepada orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan-jalan keselamatan.” [[Surat al-Ma’idah: 16. ]]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan bahwa orang-orang yang menyimpang dan sesat itu adalah karena mereka menjadikan syaithan-syaithan sebagai pelindung mereka selain Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَرِيقًا هَدَىٰ وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ ٱلضَّلَٰلَةُ ۗ إِنَّهُمُ ٱتَّخَذُوا۟ ٱلشَّيَٰطِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ

“Sebagian orang diberikan hidayah oleh Allah, dan sebagiannya lagi telah tetap kesesatan atas mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaithan-syaithan sebagai pelindung mereka selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka adalah orang-orang yang diberikan petunjuk.” [[Surat al-A’raf: 30. ]]

Maka, walaupun dalam hadits di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaitkan pemahaman agama dengan Kehendak dari Allah, dalam banyak dalil lainnya Allah telah menjelaskan sebab-sebab yang dapat ditempuh seseorang agar dia bisa memahami agama dan mendapatkan kebaikan dari Allah.

Dari Abu Waqid al-Laitsiy radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata,

بينما رسول الله صلى الله عليه وسلم في المسجد فأقبل ثلاثة، فأقبل اثنان إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وذهب واحد، فأما أحدهما فرأى فرجة فجلس، وأما الآخر فجلس خلفهم، فلما فرغ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ألا أخبركم عن الثلاثة، أما أحدهم فأوى إلى الله، فآواه الله، وأما الآخر فاستحيا، فاستحيا الله منه، وأما الآخر فأعرض، فأعرض الله عنه.

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di masjid, datanglah tiga orang. Dua di antara mereka berjalan mendekati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan satu dari mereka pergi menjauh. Adapun salah satu dari dua orang yang mendekati beliau, maka dia melihat ada celah lalu dia duduk di sana. Sedangkan satu orang yang lain duduk di belakang mereka. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan pembicaraan beliau, beliau bersabda, ‘Maukah kalian untuk aku kabarkan tentang tiga orang? Adapun salah seorang dari mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, sehingga Allah pun memberikan perlindungan kepadanya. Sedangkan satu orang yang lain, maka dia malu, sehingga Allah pun malu kepadanya. Sedangkan satu orang yang lain lagi, maka dia berpaling, sehingga Allah pun berpaling darinya.’” [[Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 66, 474) dan Muslim (no. 2176). ]]

Kita lihat bahwa dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan antara sebab seseorang mendapatkan pemahaman agama dari Allah dengan apa yang dia lakukan dan dia perbuat. Jika semangat untuk duduk di majelis ilmu, dalam rangka menuntut ilmu syar’iy karena Allah, maka Allah akan berikan dia pemahaman agama. Sedangkan jika dia tidak begitu semangat untuk menuntut ilmu, maka Allah juga akan memberikan sebagian porsi saja dari pemahaman agama kepadanya. Dan jika dia malas untuk menuntut ilmu, maka Allah pun tidak akan memberikan pemahaman agama kepadanya.

Ini menunjukkan bahwa ada kaitan yang erat antara pemahaman agama seseorang dengan perbuatan dan amalan yang dia pilih. Oleh karena itu, pertanyaannya sekarang adalah: Apakah sekarang kita memilih untuk semangat belajar ilmu agama, atau belajar agama sekadarnya saja, atau malah memilih untuk tidak belajar agama sama sekali?

Faidah Keempat: Bahwa menuntut ilmu syar’iy adalah amalan yang memiliki keutamaan yang sangat besar, karena ia adalah kunci dari seluruh kebaikan baik di dunia ataupun di akhirat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من سلك طريقا يلتمس فيه علما، سهَّل الله له به طريقا إلى الجنة.

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga.” [[Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 2699). ]]

Inilah salah satu kebaikan yang dimaksud dalam hadits di atas. Ketika seseorang menuntut ilmu agama, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mudahkan dia untuk masuk ke dalam Surga-Nya.

Akan tetapi, ini bukanlah satu-satunya kebaikan yang akan diberikan oleh Allah kepada orang yang semangat untuk menuntut ilmu agama. Perhatikanlah bahwa kata خيرا (khairan) dalam hadits di atas adalah ism nakirah. Dan kaidahnya adalah

النكرة في سياق الشرط تفيد العموم.

“Nakirah dalam konteks syarat memberikan makna umum.”

Oleh karena itu, kita simpulkan bahwa paham agama adalah kunci dari seluruh kebaikan di dunia dan akhirat. Seseorang yang berusaha untuk memahami agama Allah dengan cara semangat untuk menuntut ilmu syar’iy, maka dia akan diberikan kebaikan di dunia seperti ketenangan dan kebahagiaan hati serta seluruh kemashlahatan yang akan dia dapatkan ketika dia menaati Syari’at Allah, dan dia juga akan diberikan kebaikan di akhirat seperti dimasukkan ke dalam Surga.

Itu mengapa Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata,

أصل كل خير هو العلم والعدل، وأصل كل شر هو الجهل والظلم.

“Pokok dari seluruh kebaikan adalah ilmu dan keadilan, sedangkan pokok dari seluruh keburukan adalah kejahilan dan kezhaliman.” [[Ighatsatul-Lahfan fiy Mashayidisy-Syaithan, karya Ibnul-Qayyim (2/137). ]]

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk semangat menuntut ilmu agama dan mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari.

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top