‘Ain Itu Nyata – Bantahan kepada Nouman Ali Khan

Ketika ditanya tentang apa makna ‘ain dalam salah satu sesi tanya-jawab, Nouman Ali Khan mengatakan bahwa penafsiran yang selama ini banyak digunakan untuk memahami hadits العين حق (‘Ain itu nyata) itu tidak benar.

Dia kemudian menggunakan argumentasi akal, yaitu bahwa jika ‘ain itu pengaruhnya nyata, maka kita tinggal melihat orang yang tidak kita sukai dengan pandangan hasad agar orang tersebut menjadi sakit. Nouman berkata bahwa jika ‘ain itu memang memiliki kekuatan pengaruh yang besar seperti itu, maka jika ada presiden yang tidak disukai oleh banyak orang di negeri tersebut, orang-orang cukup berkumpul dan melihat presiden tersebut dengan pandangan hasad.

Lebih lanjut lagi, Nouman Ali Khan mengatakan bahwa ketika ada orang sakit lalu dikatakan bahwa penyebabnya adalah ‘ain, maka ini adalah superstition alias khurafat, yang berasal dari budaya-budaya masyarakat sebelum Islam. Nouman lalu mengatakan bahwa yang dimaksud oleh hadits “‘Ain itu nyata” adalah bahwa orang-orang yang akan hasad kepada kita dan memandang kita dengan pandangan yang buruk itu memang akan benar-benar ada. Akan tetapi, pengaruh dari pandangan hasad mereka tersebut tidak akan berpengaruh kepada kita. Inilah pemahaman Nouman dalam masalah ini.

Kami katakan: Subhanallah! Inilah yang terjadi jika kita mendahulukan akal dibandingkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits yang dimaksud oleh Nouman di atas adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

العين حق.

“‘Ain itu nyata.” [[Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 5740, 5944) dan Muslim (no. 2187). ]]

Apakah pengaruh ‘ain itu nyata? Yakni, jika A memandang B dengan pandangan hasad alias iri dengki, apakah pandangan A ini dapat memberikan madharat kepada B secara nyata? Na’am, itulah makna dari hadits yang sudah jelas dan terang-benderang di atas.

Demikian pula, hadits-hadits yang lain juga menunjukkan bahwa pengaruh ‘ain itu nyata.

Dari Jabir ibn ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau berkata,

رخَّص النبي صلى الله عليه وسلم لآل حزم في رقية الحية، وقال لأسماء بنت عميس: ما لي أرى أجسام بني أخي ضارعة، تصيبهم الحاجة؟ قالت: لا، ولكن العين تسرع إليهم، قال: ارقيهم، قالت: فعرضتُ عليه، فقال: ارقيهم.

“Nabi memberikan keringanan kepada Alu Hazm untuk meruqyah gigitan ular, dan beliau berkata kepada Asma’ bint ‘Umais, ‘Mengapa aku melihat tubuh anak-anak saudaraku kurus? Apakah mereka dalam kondisi kekurangan?’ Asma’ berkata, ‘Tidak. Akan tetapi ‘ain dengan cepat mengenai mereka.’ Nabi bersabda, ‘Ruqyahlah mereka.’ Asma’ berkata, ‘Lalu aku tunjukkan bacaan ruqyah kepada beliau.’ Kemudian Nabi bersabda, ‘Ruqyahlah mereka.’” [[Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2198). ]]

Dalam hadits ini, ketika ditanya mengapa tubuh anak-anak tersebut sedemikian kurus, maka Asma’ bint ‘Umais radhiyallahu ‘anha menjawab bahwa itu karena pengaruh ‘ain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengkritisi jawaban ini. Seandainya pengaruh ‘ain itu tidak nyata, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti menegur Asma’ ketika mengatakan bahwa penyebab kurusnya anak-anak tersebut adalah ‘ain. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah memerintahkan Asma’ untuk meruqyah mereka. Apakah kita masih berani untuk mengatakan bahwa ini adalah superstition alias khurafat, seperti yang dikatakan oleh Nouman Ali Khan?

Dari Abu Umamah ibn Sahl ibn Hunaif radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau berkata,

مر عامر بن ربيعة بسهل بن حنيف وهو يغتسل، فقال: لم أر كاليوم ولا جلد مخبَّأة، فما لبث أن لُبط به، فأُتي به النبي صلى الله عليه وسلم فقيل له: أدرك سهلا صريعا، قال: من تتهمون به؟ قالوا: عامر بن ربيعة، قال: علام يقتل أحدكم أخاه؟ إذا رأى أحدكم من أخيه ما يعجبه فليدع له بالبركة، ثم دعا بماء، فأمر عامرا أن يتوضأ، فيغسل وجهه ويديه إلى المرفقين وركبتيه وداخلة إزاره، وأمره أن يصب عليه.

“‘Amir ibn Rabi’ah melewati Sahl ibn Hunaif yang sedang mandi, lalu dia berkata, ‘Aku belum pernah melihat seperti yang aku lihat hari ini, bahkan [ini melebihi] kulit dari gadis yang tidak pernah keluar rumah sama sekali.’ Tidak lama kemudian, Sahl lalu jatuh pingsan. Maka dia dibawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dikatakan kepada Nabi, ‘Tolonglah Sahl yang pingsan ini.’ Beliau bertanya, ‘Siapa yang kalian curigai [menjadi penyebabnya]?’ Mereka berkata, ‘’Amir ibn Rabi’ah.’ Nabi bersabda, ‘Mengapa salah seorang dari kalian membunuh saudaranya? Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang mengagumkan dari saudaranya, maka hendaklah dia mendoakannya dengan keberkahan.’ Kemudian Nabi meminta air, dan memerintahkan ‘Amir untuk berwudhu’. Maka ‘Amir lalu mencuci wajahnya, kedua tangannya hingga siku, kedua lututnya, dan bagian dalam kain izar-nya. Lalu Nabi memerintahkan agar air itu dituangkan kepada Sahl.” [[Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 3509). ]]

Dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa setelah air dari ‘Amir itu dituangkan kepada Sahl,

فراح سهل مع الناس ليس به بأس.

“Maka Sahl lalu sembuh dan pergi bersama orang-orang, tidak ada penyakit sama sekali yang ada padanya.” [[Diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa’ (Kitabul-’Ain no. 2). ]]

Lihatlah bagaimana efek ‘ain itu sangat nyata menimpa kepada Sahl ibn Hunaif radhiyallahu ‘anhu. Dan lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa ‘ain itu dapat membunuh orang lain. Dan lihatlah pula bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan cara untuk mengobati pengaruh ‘ain tersebut, yaitu dengan memerintahkan ‘Amir ibn Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu untuk berwudhu’ dan membasuh anggota tubuhnya dengan air, lalu air tersebut dituangkan kepada Sahl ibn Hunaif radhiyallahu ‘anhu. Kemudian Sahl sembuh atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apakah kita masih berani untuk mengatakan bahwa ini adalah superstition alias khurafat, seperti yang dikatakan oleh Nouman Ali Khan?

Tentang metode mengobati ‘ain yang disebutkan dalam hadits di atas, hal itu juga telah disebutkan dalam hadits lainnya.

Dari ‘Abdullah ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

العين حق، ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين، وإذا استُغسلتم فاغسلوا.

“‘Ain itu nyata. Seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului qadar, maka sungguh ‘ain akan mendahuluinya. Dan jika kalian diminta untuk mandi, maka mandilah.” [[Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2188). ]]

Yakni, jika seseorang diminta untuk mandi oleh orang lain karena ada indikasi bahwa ada orang yang sampai jatuh sakit akibat ‘ain dari seseorang tersebut, maka orang tersebut wajib untuk mandi dan memberikan air bekas mandinya kepada orang yang sakit tadi.

Inilah pemahaman yang benar tentang ‘ain, yang diambil langsung dari hadits-hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan dari sekadar argumentasi akal seperti yang dilakukan oleh Nouman Ali Khan.

Hati-hati dari orang yang dalam memahami dan mengajarkan agama adalah dengan mendahulukan akalnya seperti ini. Jangan berprinsip “Ambil baiknya, buang buruknya,” karena orang-orang akan terkecoh, sebab mereka tidak akan tahu mana perkataannya yang baik dan mana perkataannya yang buruk. Jangan ambil ilmu dari orang-orang yang ilmunya tidak terpercaya seperti ini.

Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata,

فأبطلت طائفة ممن قل نصيبهم من السمع والعقل أمر العين، وقالوا: إنما ذلك أوهام لا حقيقة له، وهؤلاء من أجهل الناس بالسمع والعقل، ومن أغلظهم حجابا، وأكثفهم طباعا، وأبعدهم معرفة عن الأرواح والنفوس وصفاتها وأفعالها وتأثيراتها.

“Sebagian orang yang kurang paham dalil dan kurang akal itu menolak adanya pengaruh ‘ain. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya itu hanyalah khayalan belaka yang tidak nyata.’ Mereka itu adalah orang-orang yang paling bodoh dalam memahami dalil syar’iy dan paling jauh dari akal yang lurus, orang-orang yang paling terhalangi dari memahaminya, paling kasar tabi’atnya, dan paling jauh pemahamannya tentang ruh, jiwa, sifat-sifatnya, perbuatan-perbuatannya, dan pengaruh-pengaruhnya.” [[Zadul-Ma’ad fiy Hadyi Khairil-’Ibad, karya Ibnul-Qayyim (4/152). ]]

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top