Kunci Kebahagiaan Pertama: Bersyukur ketika Mendapatkan Nikmat – Syarh al-Qawa’id al-Arba’

[Artikel ini adalah bagian dari seri artikel Syarh al-Qawa’id al-Arba’]

Syaikhul-Islam Muhammad ibn ‘Abdil-Wahhab rahimahullah berkata,

وَأَنْ يَجْعَلَكَ مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ، وَإِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ، وَإِذَا أَذْنَبَ اسْتَغْفَرَ، فَإِنَّ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَ عُنْوَانُ السَّعَادَةِ.

“Dan menjadikanmu termasuk orang yang jika diberi maka dia bersyukur, jika dia diuji maka dia bersabar, dan jika dia berdosa maka dia memohon ampunan, karena sesungguhnya tiga hal tersebut adalah kunci kebahagiaan.”

Penjelasan:

Ini adalah doa ketiga yang penulis rahimahullah panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketahuilah bahwa seseorang dalam kehidupannya tidak lepas dari tiga keadaan:

Pertama: Dia mendapatkan nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik nikmat agama ataupun nikmat dunia. Maka, wajib baginya untuk bersyukur kepada Allah.

Kedua: Dia mendapatkan musibah yang menimpa kepada dunianya. Maka, wajib baginya untuk bersabar.

Ketiga: Dia mendapatkan musibah yang menimpa kepada agamanya, yaitu ketika dia melakukan dosa. Maka, wajib baginya untuk memohon ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Barangsiapa yang melakukan apa yang diwajibkan oleh syari’at kepadanya dalam setiap dari tiga keadaan di atas, maka dia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Mari kita bahas tiap-tiap dari tiga kunci kebahagiaan di atas.

Kunci Kebahagiaan yang Pertama: Ketika kita mendapatkan nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kita bersyukur.

Nikmat ini bisa berupa nikmat agama, seperti nikmat Islam, iman, istiqamah di atas Din, kemudahan untuk mempelajari ilmu syar’iy dan mengamalkannya, atau berupa nikmat dunia, seperti keluarga yang kita miliki, harta yang kita dapatkan, kesehatan dan waktu luang yang bisa kita manfaatkan.

Ketahuilah bahwa Allah memerintahkan kita untuk bersyukur atas seluruh nikmat agama dan nikmat dunia yang telah kita dapatkan dari-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

“Oleh karena itu, ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan ingat kepada kalian. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” [[Surat al-Baqarah: 152. ]]

Jika Allah memerintahkan sesuatu, maka itu berarti Allah cinta dan ridha’ kepada hal tersebut, sehingga melakukannya adalah bentuk ibadah kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِن تَشْكُرُوا۟ يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kalian bersyukur, maka Dia akan ridha’ kepada kalian.” [[Surat az-Zumar: 7. ]]

Bahkan Allah menjelaskan bahwa syukur itu adalah konsekuensi dari ketauhidan seseorang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Syukurilah nikmat Allah jika hanya kepada-Nya kalian beribadah.” [[Surat an-Nahl: 114. ]]

Yakni, jika seseorang benar-benar hanya beribadah kepada Allah saja, maka itu otomatis menunjukkan bahwa dia telah mengetahui bahwa Allah adalah Rabb-nya, yang menciptakan alam semesta dan memeliharanya, dan memberikan rizki dan nikmat kepada makhluk-Nya. Tidak ada satu pun nikmat yang dimiliki oleh makhluk, kecuali bahwa nikmat tersebut pasti datangnya dari Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ

“Apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka itu adalah dari Allah.” [[Surat an-Nahl: 53. ]]

Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita dengan melakukan tiga hal berikut seluruhnya:

  1. Mencintai Allah dan mengakui dengan hati kita bahwa nikmat tersebut adalah karunia dan anugerah dari-Nya.
  2. Memuji Allah dengan lisan kita atas nikmat yang telah Dia berikan kepada kita.
  3. Menggunakan nikmat tersebut dengan anggota tubuh kita untuk melakukan amalan ketaatan dan ketundukan kepada Allah.

Ada dua golongan manusia ketika mendapatkan nikmat dari Allah. Ada yang bersyukur kepada-Nya, dan ada yang kufur kepada nikmat-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّا هَدَيْنَٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan dia petunjuk kepada jalan yang lurus. Bisa jadi dia kemudian menjadi seorang yang bersyukur, dan bisa jadi menjadi seorang yang kufur.” [[Surat al-Insan: 3. ]]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِىٓ ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّى غَنِىٌّ كَرِيمٌ

“Dia (Sulaiman) berkata, ‘Ini adalah karunia dari Rabb-ku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya syukurnya tersebut adalah untuk manfaat dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang kufur, maka sesungguhnya Rabb-ku adalah Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Dermawan.'” [[Surat an-Naml: 40. ]]

Jangan sampai kita menjadi orang yang mengingkari nikmat Allah, seperti dengan mengakui bahwa nikmat tersebut adalah hasil dari kecerdasan dan kehebatan kita dan bukan karena karunia dari Allah, atau dengan menggunakan nikmat tersebut untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah.

Bahkan kufur kepada nikmat Allah dan tidak bersyukur kepada-Nya adalah salah satu agenda Iblis dalam menyesatkan manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قَالَ فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَ * ثُمَّ لَـَٔاتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَٰكِرِينَ

“Dia (Iblis) berkata, ‘Karena Engkau telah membuatku tersesat, maka aku benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian sungguh aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka termasuk orang-orang yang bersyukur.'” [[Surat al-A’raf: 16-17. ]]

Adapun jika kita bersyukur kepada Allah, maka inilah sifat dari orang yang beriman, sebagaimana yang telah dilakukan dan dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa beliau berkata,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا صلى قام حتى تفطَّر رجلاه، قالت عائشة: يا رسول الله، أتصنع هذا وقد غُفر لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّر؟ فقال: يا عائشة، أفلا أكون عبدا شكورا.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendirikan shalat, beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak dan pecah-pecah. ‘Aisyah bertanya: Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini, padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang telah diampuni? Maka beliau bersabda, ‘Wahai ‘Aisyah, bukankah sudah sepantasnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?’” [[Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 4837) dan Muslim (no. 2820). ]]

Dan jika kita bersyukur kepada Allah, maka Allah akan menambah nikmat-Nya kepada kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“Jika kalian bersyukur, maka sungguh Kami akan menambahkan (nikmat) untuk kalian. Dan jika kalian mengingkari (nikmat), maka sungguh ‘adzab-Ku adalah sangat pedih.” [[Surat Ibrahim: 7. ]]

Inilah salah satu contoh dari luasnya Rahmat Allah kepada kita dan besarnya Kedermawanan Allah kepada para hamba-Nya yang beriman. Maka, bukankah sudah sepantasnya kita menjadi hamba yang banyak bersyukur kepada Allah?

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

1 thought on “Kunci Kebahagiaan Pertama: Bersyukur ketika Mendapatkan Nikmat – Syarh al-Qawa’id al-Arba’”

  1. Amin hidayat

    Jazakumullohu khoiron ustadz atas pencerahannya, semoga Allah memberkahi ilmu ustadz…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top