[Artikel ini adalah bagian dari seri artikel Syarh al-Qawa’id al-Arba’]
Syaikhul-Islam Muhammad ibn ‘Abdil-Wahhab rahimahullah berkata,
أَسْأَل٠اللهَ الْكَرÙيمَ، رَبَّ الْعَرْش٠الْعَظÙيمÙ
“Aku memohon kepada Allah al-Karim, Rabb dari ‘Arsy yang agung”
Penjelasan:
Sebelum memasuki tema utama, penulis rahimahullah mendoakan orang yang membaca kitab beliau ini dengan memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demikianlah seharusnya seorang pengajar ilmu syar’iy dan seorang yang berdakwah di jalan Allah. Dia senantiasa mengharapkan kebaikan untuk orang lain sebagaimana dia mengharapkan kebaikan untuk dirinya sendiri.
Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا يؤمن Ø£ØØ¯ÙƒÙ… ØØªÙ‰ ÙŠØØ¨ لأخيه ما ÙŠØØ¨ Ù„Ù†ÙØ³Ù‡.
“Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” [[Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 13) dan Muslim (no. 45). ]]
Perhatikan bahwa penulis rahimahullah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyebut al-Asma’ul-Husna, yaitu Nama-Nama yang Paling Baik. Ini adalah adab ketika berdoa kepada Allah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
ÙˆÙŽÙ„Ùله٠ٱلْأَسْمَآء٠ٱلْØÙسْنَىٰ ÙَٱدْعÙوه٠بÙهَا
“Hanya milik Allah al-Asma’ul-Husna (Nama-Nama yang Paling Baik), maka berdoalah kepada-Nya dengan Nama-Nama tersebut.” [[Surat al-A’raf: 180. ]]
Demikian pula, di antara adab berdoa kepada Allah adalah mengawali doa kita dengan pujian-pujian kepada-Nya, yaitu dengan menyebutkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah yang sempurna, sebelum masuk ke dalam inti doa. Ini sebagaimana yang diajarkan dalam surat al-Fatihah, di mana sebelum masuk kepada inti doa, kita menyebutkan terlebih dahulu pujian-pujian kepada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Ø¨ÙØ³Ù’م٠ٱلله٠ٱلرَّØÙ’مَٰن٠ٱلرَّØÙيم٠* ٱلْØÙŽÙ…ْد٠لÙله٠رَبّ٠ٱلْعَٰلَمÙينَ * ٱلرَّØÙ’مَٰن٠ٱلرَّØÙيم٠* مَٰلÙك٠يَوْم٠ٱلدّÙين٠* Ø¥Ùيَّاكَ Ù†ÙŽØ¹Ù’Ø¨ÙØ¯Ù ÙˆÙŽØ¥Ùيَّاكَ نَسْتَعÙينÙ
“Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Yang menguasai Hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” [[Surat al-Fatihah: 1-5. ]]
Setelah memuji dan mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan menyebutkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya yang sempurna seperti pada beberapa ayat pertama dari surat al-Fatihah di atas, maka barulah kita masuk pada inti doa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ٱهْدÙنَا Ù±Ù„ØµÙ‘ÙØ±ÙŽÙ°Ø·ÙŽ Ù±Ù„Ù’Ù…ÙØ³Ù’تَقÙيمَ * ØµÙØ±ÙŽÙ°Ø·ÙŽ Ù±Ù„Ù‘ÙŽØ°Ùينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهÙمْ غَيْر٠ٱلْمَغْضÙوب٠عَلَيْهÙمْ وَلَا ٱلضَّآلّÙينَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” [[Surat al-Fatihah: 6-7. ]]
Maka, inilah petunjuk dan bimbingan dari al-Qur’an tentang bagaimana seharusnya adab dalam kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam doa dari penulis rahimahullah di atas, Nama Allah yang pertama kali beliau sebutkan adalah Lafzhul-Jalalah “Allah”. Inilah Nama Allah yang paling agung yang dimaksudkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Buraidah ibn al-Hushaib radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata,
سمع النبي صلى الله عليه وسلم رجلا يدعو وهو يقول: اللهم إني أسألك، بأني أشهد أنك أنت الله، لا إله إلا أنت، Ø§Ù„Ø£ØØ¯ الصمد، الذي لم يلد ولم ÙŠÙولَد، ولم يكن له ÙƒÙوا Ø£ØØ¯ØŒ قال Ùقال: والذي Ù†ÙØ³ÙŠ Ø¨ÙŠØ¯Ù‡ØŒ لقد سأل الله باسمه الأعظم الذي إذا Ø¯ÙØ¹ÙŠ Ø¨Ù‡ أجاب، وإذا Ø³ÙØ¦Ù„ به أعطى.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang berdoa dengan berkata, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada tuhan yang berhak untuk diibadahi kecuali Engkau, al-Ahad (Dzat Yang Maha Esa), ash-Shamad (Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu), yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya.’ Maka Nabi bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh dia telah memohon kepada Allah dengan Nama-Nya yang paling agung, yang jika kita berdoa dengannya maka Allah akan menjawab, dan jika kita meminta dengannya maka Allah akan memberi.’” [[Hadits shahih, diriwayatkan oleh at-Tirmidziy (no. 3475), Abu Dawud (no. 1493), dan Ibnu Majah (no. 3857). ]]
Setelah menyebutkan Lafzhul-Jalalah “Allah”, penulis rahimahullah kemudian menyebutkan Nama Allah “al-Karim”, yang mengandung Sifat Karam (الكرم), yang bermakna bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mulia, Yang Maha Dermawan, yang memiliki seluruh Sifat yang sempurna, yang tidak memiliki sifat-sifat kekurangan dan kelemahan, yang memberikan karunia dan nikmat kepada makhluk-Nya, yang memberikan karunia kepada makhluk-Nya tanpa membutuhkan balasan dari mereka, dan tidak akan membiarkan begitu saja orang yang berdoa kepada-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ† شَكَرَ ÙÙŽØ¥Ùنَّمَا ÙŠÙŽØ´Ù’ÙƒÙØ±Ù Ù„ÙÙ†ÙŽÙْسÙÙ‡ÙÛ¦ Û– ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ† ÙƒÙŽÙَرَ ÙÙŽØ¥Ùنَّ رَبّÙÙ‰ غَنÙىٌّ كَرÙيمٌ
“Barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya syukurnya tersebut adalah untuk manfaat dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang kufur, maka sesungguhnya Rabb-ku adalah Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Dermawan.” [[Surat an-Naml: 40. ]]
Setelah menyebutkan Nama Allah “al-Karim”, penulis rahimahullah menyebutkan Nama Allah “ar-Rabb”, yang mengandung Sifat Rububiyyah (الربوبية), yang bermakna bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan alam semesta dan seluruh makhluk yang ada di dalamnya, yang memberikan rizki kepada seluruh makhluk-Nya, yang menghidupkan dan mematikan, yang memberikan manfaat dan madharat, yang memelihara alam semesta, dan mengatur seluruh apa yang ada di dalamnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ٱلْØÙŽÙ…ْد٠لÙله٠رَبّ٠ٱلْعَٰلَمÙينَ
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” [[Surat al-Fatihah: 2. ]]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Ù‚Ùلْ Ø¥Ùنَّ صَلَاتÙÙ‰ ÙˆÙŽÙ†ÙØ³ÙÙƒÙÙ‰ ÙˆÙŽÙ…ÙŽØÙ’يَاىَ وَمَمَاتÙÙ‰ Ù„Ùله٠رَبّ٠ٱلْعَٰلَمÙينَ
“Katakanlah (wahai Rasul), ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku adalah hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.” [[Surat al-An’am: 162. ]]
Dan banyak sekali dalil-dalil lainnya yang menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabbul-‘alamin, Rabb semesta alam.
Adapun perkataan penulis rahimahullah bahwa Allah adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung, maka di antara dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
ٱلله٠لَآ Ø¥Ùلَٰهَ Ø¥Ùلَّا Ù‡ÙÙˆÙŽ رَبّ٠ٱلْعَرْش٠ٱلْعَظÙيمÙ
“Allah, tidak ada tuhan yang berhak untuk diibadahi kecuali Dia, Rabb dari ‘Arsy yang agung.” [[Surat an-Naml: 26. ]]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ÙÙŽØ¥ÙÙ† تَوَلَّوْا۟ ÙÙŽÙ‚Ùلْ ØÙŽØ³Ù’بÙÙ‰ÙŽ ٱلله٠لَآ Ø¥Ùلَٰهَ Ø¥Ùلَّا Ù‡ÙÙˆÙŽ Û– عَلَيْه٠تَوَكَّلْت٠ۖ ÙˆÙŽÙ‡ÙÙˆÙŽ رَبّ٠ٱلْعَرْش٠ٱلْعَظÙيمÙ
“Jika mereka berpaling, maka katakanlah (wahai Rasul), ‘Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan yang berhak untuk diibadahi kecuali Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal. Dan Dia adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung.'” [[Surat at-Taubah: 129. ]]
Kita lihat bahwa dalil-dalil ini menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung, sementara dalam dalil-dalil lainnya disebutkan bahwa Allah adalah Rabb dari semesta alam seluruhnya.
Maka, penyebutan bahwa Allah adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung itu bukanlah sebuah pembatasan. Dengan kata lain, disebutkannya bahwa Allah adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung itu bertujuan untuk menunjukkan keistimewaan dan keutamaan ‘Arsy di antara makhluk-makhluk Allah lainnya di alam semesta, bukan bermakna bahwa Allah adalah Rabb dari ‘Arsy saja dan bukan merupakan Rabb dari makhluk-makhluk lainnya di alam semesta.
Di antara keutamaan ‘Arsy adalah bahwa ia adalah makhluk yang Allah ciptakan pertama kali, menurut pendapat jumhur ulama’.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ÙˆÙŽÙ‡ÙÙˆÙŽ ٱلَّذÙÙ‰ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰت٠وَٱلْأَرْضَ ÙÙÙ‰ Ø³ÙØªÙ‘َة٠أَيَّام٠وَكَانَ عَرْشÙÙ‡ÙÛ¥ عَلَى ٱلْمَآء٠لÙيَبْلÙÙˆÙŽÙƒÙمْ أَيّÙÙƒÙمْ Ø£ÙŽØÙ’سَن٠عَمَلًا
“Dialah Dzat yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan ‘Arsy-Nya di atas air, untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang paling bagus amalnya.” [[Surat Hud: 7. ]]
Diriwayatkan dari ‘Imran ibn Hushain radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كان الله ولم يكن شيء قبله، وكان عرشه على الماء، ثم خلق السموات والأرض، وكتب ÙÙŠ الذكر كل شيء.
“Allah ada, dan tidak ada sesuatu apa pun sebelum-Nya. Dan ‘Arsy-Nya di atas air. Kemudian Dia menciptakan langit dan bumi, dan menuliskan segala sesuatu dalam adz-Dzikr (yakni, al-Lauhul-Mahfuzh).” [[Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 7418). ]]
Di antara keutamaan ‘Arsy lainnya adalah bahwa ia adalah makhluk Allah yang paling besar dan merupakan atap dari seluruh apa yang ada di alam semesta.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ÙØ¥Ø°Ø§ سألتم الله ÙØ³Ù„وه Ø§Ù„ÙØ±Ø¯ÙˆØ³ØŒ ÙØ¥Ù†Ù‡ أوسط الجنة وأعلى الجنة، ÙˆÙوقه عرش الرØÙ…Ù†.
“Jika engkau meminta kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya Surga al-Firdaus, karena sesungguhnya ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi, dan di atasnya adalah ‘Arsy dari ar-Rahman.” [[Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 2790, 7423). ]]
Ketika menjelaskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
ÙˆÙŽÙ‡ÙÙˆÙŽ رَبّ٠ٱلْعَرْش٠ٱلْعَظÙيمÙ
“Dia adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung.” [[Surat at-Taubah: 129. ]]
Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
هو مالك كل شيء وخالقه، لأنه رب العرش العظيم الذي هو سق٠المخلوقات، وجميع الخلائق من السموات والأرضين وما Ùيهما وما بينهما ØªØØª العرش مقهورين بقدرة الله تعالى، وعلمه Ù…ØÙŠØ· بكل شيء، وقدره Ù†Ø§ÙØ° ÙÙŠ كل شيء، وهو على كل شيء وكيل.
“Dia adalah Penguasa dan Pencipta dari segala sesuatu, karena Dia adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung, yang merupakan atap dari seluruh makhluk. Seluruh makhluk berupa langit dan bumi, dan apa yang ada di dalamnya dan di antara keduanya, semuanya berada di bawah ‘Arsy dan tunduk terhadap Kekuasaan Allah Ta’ala. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, Ketetapan-Nya berlaku atas segala sesuatu, dan Dia adalah Pengatur atas segala sesuatu.” [[Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, karya Isma’il ibn ‘Umar ibn Katsir ‘Imadud-Din Abul-Fida’ ad-Dimasyqiy (4/377). ]]
Di antara keutamaan ‘Arsy lainnya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala beristiwa’ di atas ‘Arsy. Makna dari kata istiwa’ di sini dalam bahasa Arab adalah العلو ÙˆØ§Ù„Ø§Ø±ØªÙØ§Ø¹, yaitu tinggi. Oleh karena itu, makna dari kalimat “Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy” adalah bahwa Allah tinggi di atas ‘Arsy.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ٱلرَّØÙ’مَٰن٠عَلَى ٱلْعَرْش٠ٱسْتَوَىٰ
“ar-Rahman beristiwa’ di atas ‘Arsy.” [[Surat Thaha: 5. ]]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Ø¥Ùنَّ رَبَّكÙم٠ٱلله٠ٱلَّذÙÙ‰ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰت٠وَٱلْأَرْضَ ÙÙÙ‰ Ø³ÙØªÙ‘َة٠أَيَّام٠ثÙمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشÙ
“Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia beristiwa’ di atas ‘Arsy.” [[Surat al-A’raf: 54. ]]
Wajib bagi kita untuk mengimani Sifat Istiwa’ dari Allah ini, sebagaimana wajib bagi kita untuk mengimani seluruh Nama dan Sifat Allah lainnya yang disebutkan dalam dalil-dalil yang shahih. Tidak boleh bagi kita untuk mengingkari Nama dan Sifat Allah yang disebutkan dalam dalil-dalil yang shahih dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
Tidak boleh pula bagi kita untuk menanyakan atau memikirkan cara atau bagaimananya dari Sifat Allah, karena itu tidak pernah disebutkan dalam dalil, dan hal ini adalah perkara ghaib sehingga akal kita tidak bisa menjangkaunya.
Dan tidak boleh pula bagi kita untuk menyamakan atau menyerupakan Sifat Allah dengan sifat makhluk, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لَيْسَ ÙƒÙŽÙ…ÙØ«Ù’Ù„ÙÙ‡ÙÛ¦ شَىْءٌ Û– ÙˆÙŽÙ‡ÙÙˆÙŽ ٱلسَّمÙيع٠ٱلْبَصÙيرÙ
“Tidak ada sesuatu apa pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” [[Surat asy-Syura: 11. ]]
Ketika ada seseorang yang bertanya kepada Imam Malik rahimahullah tentang bagaimana Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy, beliau menjawab,
الاستواء غير مجهول، والكي٠غير معقول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة.
“Istiwa’ bukanlah sesuatu yang tidak diketahui maknanya. Cara atau bagaimananya tidak bisa dijangkau oleh akal. Mengimaninya adalah wajib. Dan bertanya tentang bagaimananya adalah bid’ah.” [[al-Asma’ wash-Shifat, karya Ahmad ibn al-Husain al-Baihaqiy (no. 867, 2/1010). ]]
Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com