Tingkatan Keutamaan dari Ayat-Ayat al-Qur’an

Para ulama’ mendefinisikan al-Qur’an sebagai,

كلام الله تعالى المنزَّل على نبيه محمد صلى الله عليه وسلم، المعجِز بلفظه ومعناه، المتعبَّد بتلاوته، المنقول إلينا بالتواتر، المكتوب في المصاحف من أول سورة الفاتحة إلى آخر سورة الناس.

“Kalam Allah Ta’ala yang diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang lafazhnya dan maknanya adalah mukjizat, yang tilawahnya adalah ibadah, yang dinukil kepada kita secara mutawatir, yang ditulis di mushaf-mushaf, yaitu dari awal surat al-Fatihah hingga akhir surat an-Nas.”

Setiap ayat dari al-Qur’an adalah Kalam Allah, sehingga setiap ayat tersebut memiliki keutamaan yang sempurna, karena ia adalah firman dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam.

Akan tetapi, keutamaan dari ayat-ayat al-Qur’an itu bertingkat-tingkat, tergantung pada apa tema yang dibahas dalam ayat tersebut. Itu mengapa para ulama’ menyebutkan bahwa ayat-ayat al-Qur’an terbagi menjadi tiga kategori:

Pertama: Kategori ayat yang afdhal (الأفضل), atau ayat-ayat yang paling utama, yaitu ayat-ayat yang membicarakan tentang Nama dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Misalnya, surat al-Fatihah, surat al-Ikhlash, Ayat Kursi, dll.

Kedua: Kategori ayat yang mafdhul (المفضول), atau ayat-ayat yang kurang utama, yaitu ayat-ayat yang membicarakan tentang orang-orang kafir, seperti surat al-Masad atau al-Lahab.

Ketiga: Kategori ayat yang fadhil (الفاضل), atau ayat-ayat yang utama, yaitu ayat-ayat lainnya yang tidak termasuk kategori afdhal dan mafdhul, seperti ayat-ayat yang membicarakan tentang masalah hukum halal dan haram, dan lain sebagainya. Kategori ini di bawah derajat kategori yang afdhal, tetapi di atas derajat kategori yang mafdhul.

Di antara dalil yang menunjukkan adanya perbedaan tingkatan keutamaan dari ayat-ayat al-Qur’an adalah dalil yang menunjukkan adanya keistimewaan dari sebagian ayat atau surat, seperti keutamaan dari surat al-Ikhlash.

Dari Abud-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أيعجز أحدكم أن يقرأ في ليلة ثلث القرآن، قالوا: وكيف يقرأ ثلث القرآن؟ قال: (قل هو الله أحد) تعدل ثلث القرآن.

“Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga al-Qur’an dalam satu malam?” Mereka bertanya, “Bagaimana seseorang bisa membaca sepertiga al-Qur’an?” Beliau menjawab, “‘Qul Huwallahu Ahad’ [yakni, surat al-Ikhlash] setara dengan sepertiga al-Qur’an.” [[Diriwayatkan oleh Muslim (no. 811). Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 5015) dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu. ]]

Dari dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan dan keistimewaan dari sebagian ayat atau surat seperti di atas, para ulama’ kemudian menyimpulkan bahwa ayat-ayat al-Qur’an itu tidak berada pada tingkat keutamaan yang sama, tetapi memiliki keutamaan yang bertingkat-tingkat.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa walaupun para ulama’ membagi ayat-ayat al-Qur’an ke dalam tingkatan-tingkatan keutamaan seperti di atas, maka kita harus tetap menyadari bahwa keseluruhan ayat dari al-Qur’an semuanya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan kata lain, jika seseorang mengetahui adanya perbedaan tingkatan keutamaan dari ayat-ayat al-Qur’an di atas, lalu hal ini membuatnya menjadi meremehkan ayat-ayat yang termasuk dalam kategori mafdhul seperti surat al-Masad, atau ayat-ayat yang membicarakan tentang Fir’aun, kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dll., maka ini adalah kesalahan. Kita harus meyakini bahwa semua ayat di al-Qur’an adalah firman Allah yang sempurna, yang jika kita membacanya maka kita akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah.

Dari ‘Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة، والحسنة بعشر أمثالها، لا أقول (الم) حرف، ولكن (ألف) حرف و(لام) حرف و(ميم) حرف.

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia akan mendapatkan satu kebaikan, dan setiap kebaikan akan diberikan pahala sepuluh kali lipat. Aku tidak berkata ‘alif lam mim’ adalah satu huruf, akan tetapi ‘alif’ adalah satu huruf, ‘lam’ adalah satu huruf, dan ‘mim’ adalah satu huruf.” [[Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidziy (no. 2910). ]]

Oleh karena itu, tidak boleh bagi kita untuk kemudian tidak pernah mau membaca surat al-Masad dalam shalat kita misalnya, karena ayat-ayat dalam surat tersebut termasuk dalam kategori ayat yang mafdhul, yaitu karena surat tersebut membahas tentang Abu Lahab dan istrinya serta kesudahan mereka berdua kelak di Neraka. Jika seseorang membaca surat al-Masad, maka setiap huruf dari ayat-ayat dalam surat tersebut juga memiliki keutamaan seperti yang telah disebutkan dalam hadits di atas.

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top