[Artikel ini adalah bagian dari seri artikel Syarḥ al-Qawāʿid al-Arbaʿ]
Kunci Kebahagiaan yang Kedua: Ketika kita mendapatkan musibah, maka kita bersabar.
Inilah yang diwajibkan oleh Syari’at ketika qadarullah ada suatu musibah atau kesusahan yang menimpa kita.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَٱصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” [1]
Tidaklah seseorang menjalani kehidupan di dunia ini, kecuali bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan memberikan ujian kepadanya. Barangsiapa yang bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dia termasuk orang-orang yang mendapatkan pujian, rahmat, hidayah, dan taufiq dari-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ * ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ * أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ
“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang jika musibah menimpa mereka maka mereka berkata, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ (Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kita akan kembali.) Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Allah di hadapan para penduduk langit dan juga mendapatkan rahmat dari Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” [2]
Sabar itu ada tiga jenis:
Pertama: Sabar dalam melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak diragukan lagi bahwa melakukan apa yang Allah perintahkan, misalnya shalat, zakat, puasa, haji jika mampu, dan perintah Allah lainnya, itu membutuhkan kesabaran, seperti sabar terhadap rasa lelah ketika melakukan amalan-amalan tersebut.
Kedua: Sabar dalam menjauhi larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu karena menahan syahwat yang dapat menjerumuskan kepada keharaman dan kemaksiatan itu butuh kesabaran.
Ketiga: Sabar dalam menghadapi musibah, yaitu dengan cara menahan agar lisan dan anggota tubuh kita tidak melakukan apa yang dilarang oleh Allah, baik pada saat musibah itu terjadi ataupun setelahnya.
Ketahuilah bahwa Allah mencintai orang-orang yang bersabar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” [3]
Demikian pula, Allah akan memberikan kepadanya pahala yang tiada batas.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan diberikan pahala mereka tanpa batas.” [4]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنِّى جَزَيْتُهُمُ ٱلْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوٓا۟ أَنَّهُمْ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ
“Sesungguhnya Aku memberikan balasan kepada mereka pada Hari ini (Hari Kiamat) karena kesabaran mereka, bahwa mereka adalah orang-orang yang berhasil.” [5]
Yaitu, berhasil masuk ke dalam Surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bahkan ketika Allah menghendaki kebaikan untuk seseorang, maka Allah akan mengujinya dengan musibah sehingga dia bisa mendapatkan pahala dari kesabarannya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من يرد الله به خيرا يصب منه.
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan untuknya, maka Dia akan mengujinya dengan musibah.” [6]
Tidak ada pemberian dari Allah kepada seseorang yang lebih baik dan lebih besar daripada kesabaran.
Dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من يتصبَّر يصبِّره الله، وما أُعطي أحد عطاء خيرا وأوسع من الصبر.
“Barangsiapa yang berusaha untuk bersabar, maka Allah akan memudahkannya untuk bersabar. Dan tidaklah seseorang diberikan pemberian yang lebih baik dan lebih besar daripada kesabaran.” [7]
Ketahuilah bahwa ada empat tingkatan ketika seseorang ditimpa musibah:
Pertama: Ketika seseorang ditimpa musibah, maka dengan sekadar dia mendapatkan musibah tersebut, dosa-dosa kecil yang dia lakukan akan digugurkan. Adapun dosa-dosa besar, maka itu membutuhkan taubat dari pelakunya, dan tidak bisa digugurkan dengan musibah yang menimpa orang tersebut.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما من مصيبة تصيب المسلم إلا كفَّر الله بها عنه، حتى الشوكة يشاكها.
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seorang muslim kecuali Allah akan menggugurkan dosanya karenanya, bahkan walaupun itu berupa duri yang menusuknya.” [8]
Kedua: Tingkatan sabar. Jika dia bersabar atas musibah tersebut, yaitu dengan cara menahan dirinya agar tidak melakukan apa yang dilarang oleh Allah, maka dia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketiga: Tingkatan ridha’. Jika dia ridha’ atas musibah yang telah Allah tetapkan untuknya, yaitu senang dan lapang dada dengan apa pun yang telah Allah tetapkan untuknya, maka ini adalah tingkatan yang lebih tinggi derajatnya daripada tingkatan sabar.
Keempat: Tingkatan syukur. Jika dia bersyukur kepada Allah atas musibah yang telah Allah tetapkan untuknya, yaitu karena dia mengetahui bahwa pasti ada hikmah dari Allah di balik musibah tersebut, maka ini adalah tingkatan yang paling tinggi.
Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata,
وعبوديته في قضاء المصائب: الصبر عليها، ثم الرضا بها وهو أعلى منه، ثم الشكر عليها وهو أعلى من الرضا، وهذا إنما يتأتى منه إذا تمكن حبه من قلبه وعلم حسن اختياره له وبره به ولطفه به وإحسانه إليه بالمصيبة وإن كره المصيبة.
“‘Ubudiyyah (penghambaan) seseorang kepada Allah ketika Allah menetapkan suatu musibah baginya adalah bersabar terhadap musibah itu, kemudian dia ridha’ terhadap musibah itu, di mana ini adalah tingkatan yang lebih tinggi dari bersabar, kemudian dia bersyukur atas musibah tersebut, di mana ini adalah tingkatan yang lebih tinggi dari ridha’. Hal ini hanya dapat dilakukan olehnya jika cinta kepada Allah telah tertanam dalam hatinya, dia mengetahui bahwa pilihan Allah untuknya adalah pilihan yang terbaik, dia juga mengetahui bahwa ini adalah kebaikan dari Allah kepadanya, kelembutan dari Allah kepadanya, dan perbuatan ihsan dari Allah kepadanya melalui musibah tersebut, walaupun dia tidak menyukai musibah itu sendiri.” [9]
Dari Shuhaib ibn Sinan radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عجبا لأمر المؤمن، إن أمره كله خير، وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن، إن أصابته سراء شكر، فكان خيرا له، وإن أصابته ضراء صبر، فكان خيرا له.
“Sungguh mengherankan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya perkaranya seluruhnya adalah kebaikan. Dan tidaklah itu dimiliki seseorang kecuali seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur, dan itu adalah kebaikan untuknya. Dan jika dia mendapatkan kesusahan, maka dia bersabar, dan itu adalah kebaikan untuknya.” [10]
Maka, apalagi jika dia berada dalam tingkatan di mana dia bersyukur baik ketika mendapatkan kesenangan maupun ketika mendapatkan kesusahan, ini tentu adalah tingkatan kebaikan yang paling tinggi yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com
- Surat al-Anfal: 46. [↩]
- Surat al-Baqarah: 155-157. [↩]
- Surat Ali ‘Imran: 146. [↩]
- Surat az-Zumar: 10. [↩]
- Surat al-Mu’minun: 111. [↩]
- Hadits shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 5645). [↩]
- Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 1469) dan Muslim (no. 1053). [↩]
- Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 5640) dan Muslim (no. 2572). [↩]
- al-Fawa’id, karya Muhammad ibn Abi Bakr Abu ‘Abdillah Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (hlm. 163). [↩]
- Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 2999). [↩]