Para ulama’ menjelaskan bahwa hubungan antara al-hamd (الØÙ…د) dan asy-syukr (الشكر) adalah al-’umum min wajhin wal-khushush min wajhin (العموم من وجه والخصوص من وجه). Apa maksudnya?
Yakni, jika dilihat dari satu sisi, maka al-hamd lebih umum daripada asy-syukr. Sedangkan jika dilihat dari sisi yang lain, maka asy-syukr lebih umum daripada al-hamd.
Jika dilihat dari sisi niat yang ada pada diri seseorang ketika dia memuji Allah dengan mengucapkan lafazh hamdalah, yaitu Alhamdulillah (الØÙ…د لله), maka ada dua kemungkinan:
Pertama: Dia memuji Allah dalam konteks untuk memuji kebesaran, kesempurnaan, dan keagungan Allah, baik dalam konteks menetapkan sifat-sifat yang mulia dan sempurna kepada Allah ataupun dalam konteks menafikan sifat-sifat kelemahan dan kekurangan dari Allah.
Contoh dalil yang menyebutkan pujian kepada Allah dalam konteks menetapkan sifat-sifat yang mulia dan sempurna kepada Allah adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
ÙˆÙŽÙ‡ÙÙˆÙŽ اللَّه٠لَا Ø¥Ùلَٰهَ Ø¥Ùلَّا Ù‡ÙÙˆÙŽ Û– لَه٠الْØÙŽÙ…ْد٠ÙÙÙŠ الْأÙولَىٰ ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ø¢Ø®ÙØ±ÙŽØ©Ù Û– وَلَه٠الْØÙكْم٠وَإÙÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù ØªÙØ±Ù’جَعÙونَ
“Dan Dialah Allah, tidak ada dzat yang berhak diibadahi selain Dia. Hanya bagi-Nya-lah segala puji di dunia dan di akhirat. Dan hanya milik-Nya-lah segala hukum. Dan hanya kepada-Nya-lah kalian akan dikembalikan.†[[Surat al-Qashash: 70. ]]
Contoh dalil yang menyebutkan pujian kepada Allah dalam konteks menafikan sifat-sifat kelemahan dan kekurangan dari Allah adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
ÙˆÙŽÙ‚Ùل٠الْØÙŽÙ…ْد٠لÙلَّه٠الَّذÙÙŠ لَمْ ÙŠÙŽØªÙ‘ÙŽØ®ÙØ°Ù’ وَلَدًا وَلَمْ ÙŠÙŽÙƒÙÙ† لَّه٠شَرÙيكٌ ÙÙÙŠ الْمÙلْك٠وَلَمْ ÙŠÙŽÙƒÙÙ† لَّه٠وَلÙيٌّ مّÙÙ†ÙŽ الذّÙلّ٠ۖ ÙˆÙŽÙƒÙŽØ¨Ù‘ÙØ±Ù’ه٠تَكْبÙيرًا
“Dan katakanlah (wahai Rasul), ‘Segala puji hanya bagi Allah yang tidak memiliki anak dan tidak memiliki sekutu dalam Kerajaan-Nya. Dan Dia bukan pula lemah dan hina yang memerlukan penolong. Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.’†[[Surat al-Isra’: 111. ]]
Kedua: Dia memuji Allah dalam konteks untuk mensyukuri nikmat dari Allah.
Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَلَئÙÙ† سَأَلْتَهÙÙ… مَّن نَّزَّلَ Ù…ÙÙ†ÙŽ السَّمَاء٠مَاءً ÙÙŽØ£ÙŽØÙ’يَا بÙه٠الْأَرْضَ Ù…ÙÙ† بَعْد٠مَوْتÙهَا Ù„ÙŽÙŠÙŽÙ‚ÙولÙنَّ اللَّه٠ۚ Ù‚Ùل٠الْØÙŽÙ…ْد٠لÙلَّه٠ۚ بَلْ أَكْثَرÙÙ‡Ùمْ لَا يَعْقÙÙ„Ùونَ
“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menurunkan air dari langit, lalu menghidupkan dengan air itu bumi setelah matinya?’ Sungguh mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Katakanlah (wahai Rasul), ‘Segala puji hanya bagi Allah.’ Tetapi kebanyakan dari mereka tidak memahaminya.†[[Surat al-’Ankabut: 63. ]]
Kemungkinan kedua ini yang kita sebut sebagai asy-syukr, yakni bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Adapun kedua kemungkinan di atas, keduanya sama-sama kita sebut sebagai al-hamd. Dengan kata lain, al-hamd itu adalah ketika kita memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dalam konteks untuk mensyukuri nikmat dari Allah ataupun dalam konteks karena Allah memang adalah Dzat yang berhak untuk dipuji karena kebesaran-Nya, kesempurnaan-Nya, dan keagungan-Nya.
Oleh karena itu, jika dilihat dari sisi ini, yaitu dari sisi niat yang ada pada diri seseorang ketika dia memuji Allah, kita simpulkan bahwa al-hamd lebih umum daripada asy-syukr.
Adapun jika dilihat dari sisi amalan yang dilakukan oleh seseorang tersebut dalam bersyukur kepada Allah, maka ada tiga kemungkinan:
Pertama: Dia bersyukur kepada Allah dengan hatinya, yaitu dengan meyakini bahwa nikmat yang dia miliki itu semuanya adalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَمَا بÙÙƒÙÙ… مّÙÙ† Ù†Ù‘ÙØ¹Ù’مَة٠ÙÙŽÙ…ÙÙ†ÙŽ اللَّهÙ
“Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka itu dari Allah.†[[Surat an-Nahl: 53. ]]
Kedua: Dia bersyukur kepada Allah dengan lisannya, yaitu dengan mengucapkan lafazh hamdalah, dan juga dengan membicarakan dan menyebutkan nikmat Allah.
Contoh dalil tentang bersyukur kepada Allah karena mendapatkan nikmat dari-Nya dengan mengucapkan lafazh hamdalah adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوÙودَ وَسÙلَيْمَانَ عÙلْمًا Û– وَقَالَا الْØÙŽÙ…ْد٠لÙلَّه٠الَّذÙÙŠ Ùَضَّلَنَا عَلَىٰ ÙƒÙŽØ«Ùير٠مّÙنْ Ø¹ÙØ¨ÙŽØ§Ø¯ÙÙ‡Ù Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØ¤Ù’Ù…ÙÙ†Ùينَ
“Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Dawud dan Sulaiman. Dan keduanya mengucapkan, ‘Segala puji hanya bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.’†[[Surat an-Naml: 15. ]]
Contoh dalil tentang bersyukur kepada Allah karena mendapatkan nikmat dari-Nya dengan membicarakan dan menyebutkan nikmat Allah tersebut adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَأَمَّا بÙÙ†ÙØ¹Ù’مَة٠رَبّÙÙƒÙŽ ÙÙŽØÙŽØ¯Ù‘ÙØ«Ù’
“Dan nikmat dari Rabb-mu maka siarkanlah.†[[Surat adh-Dhuha: 11. ]]
Ketiga: Dia bersyukur kepada Allah dengan anggota badannya, yaitu dengan melakukan amal shalih dan menggunakan nikmat dari Allah untuk kebaikan.
Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
اعْمَلÙوا آلَ دَاوÙودَ Ø´Ùكْرًا
“Beramallah wahai keluarga Dawud dalam rangka bersyukur.†[[Surat Saba’: 13. ]]
Kemungkinan kedua di atas, yaitu bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala secara lisan, maka salah satu caranya adalah al-hamd, yaitu dengan cara mengucapkan lafazh hamdalah. Adapun ketiga kemungkinan di atas, ketiganya sama-sama kita sebut sebagai asy-syukr. Dengan kata lain, kita bersyukur kepada Allah itu bisa dengan hati kita, lisan kita, dan anggota badan kita.
Oleh karena itu, jika dilihat dari sisi ini, yaitu dari sisi amalan yang dilakukan oleh seseorang dalam bersyukur kepada Allah, kita simpulkan bahwa asy-syukr lebih umum daripada al-hamd.
Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com