Menjadi Orang yang Senantiasa Diberkahi di Mana pun Dia Berada – Syarh al-Qawa’id al-Arba’

[Artikel ini adalah bagian dari seri artikel Syarh al-Qawa’id al-Arba’]

Syaikhul-Islam Muhammad ibn ‘Abdil-Wahhab rahimahullah berkata,

وَأَنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُنْتَ

“Menjadikanmu orang yang senantiasa diberkahi di mana pun engkau berada”

Penjelasan:

Ini adalah doa kedua yang penulis rahimahullah panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk para pembaca kitab beliau. Doa ini adalah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan perkataan Nabi ‘Isa ‘alaihis-salam,

وَجَعَلَنِى مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ

“Dan Dia menjadikanku orang yang senantiasa diberkahi di mana pun aku berada.” [[Surat Maryam: 31. ]]

Maksud dari seseorang senantiasa diberkahi di mana pun dia berada adalah dia memberikan banyak manfaat kepada orang-orang di mana pun dia berada, yaitu dengan ilmu syar’iy yang dia ajarkan, kebaikan yang dia tebarkan, dakwah kepada Allah yang dia lakukan baik dengan perkataannya ataupun dengan perbuatannya, seruannya kepada perkara yang ma’ruf, dan larangannya dari perkara yang mungkar.

Mujahid rahimahullah berkata ketika menafsirkan tentang ayat ini,

جعلني معلِّما للخير نفاعا.

“Dia menjadikanku sebagai orang yang mengajarkan kebaikan, yang banyak memberikan manfaat.” [[at-Tafsir al-Basith, karya ‘Aliy ibn Ahmad Abul-Husain al-Wahidiy (14/242). ]]

‘Abdullah ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata ketika menafsirkan tentang ayat ini,

لأن أدعو إلى الله وإلى توحيده وعبادته.

“(Dia menjadikanku) agar aku menyeru kepada Allah, dan menyeru untuk mentauhidkan-Nya dan untuk beribadah hanya kepada-Nya.” [[Ibid. ]]

Itu karena tauhid adalah inti dari ilmu syar’iy, karena ia adalah inti dari setiap risalah yang dibawa oleh para rasul. Oleh karena itu, hendaknya seseorang bersemangat untuk mengajarkannya dan menebarkannya kepada orang lain, serta menjadikannya sebagai kurikulum utama dalam belajarnya dan juga dalam dakwahnya.

Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata,

فإن بركة الرجل تعليمه للخير حيث حل، ونصحه لكل من اجتمع به، قال الله تعالى إخبارا عن المسيح عليه السلام: {وَجَعَلَنِى مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ}، أي: معلِّما للخير، داعيا إلى الله، مذكِّرا به، مرغِّبا في طاعته، فهذا من بركة الرجل.

“Sesungguhnya keberkahan seseorang adalah ketika dia mengajarkan kebaikan di mana pun dia berada, dan memberikan nasihat kepada siapa saja yang bersama dengannya. Allah Ta’ala berfirman, mengabarkan tentang perkataan al-Masih ‘Isa ‘alaihis-salam, ‘Dan Dia menjadikanku orang yang senantiasa diberkahi di mana pun aku berada,’ yakni: menjadikanku sebagai orang yang mengajarkan kebaikan, menyeru kepada Allah, mengingatkan kepada-Nya, menyemangati untuk senantiasa berada dalam ketaatan kepada-Nya. Maka, inilah keberkahan dari seseorang.” [[Risalah Ibn al-Qayyim ila Ahadi Ikhwanihi, karya Muhammad ibn Abi Bakr Abu ‘Abdillah Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (hlm. 3). ]]

Perhatikan bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihis-salam menyebutkan bahwa Allah yang menjadikan beliau sebagai orang yang senantiasa diberkahi di mana pun beliau berada. Maka, ini menunjukkan bahwa keberkahan itu adalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wajib bagi kita untuk memastikan bahwa ilmu yang kita ajarkan dan kebaikan yang kita tebarkan adalah sesuai dengan Syari’at Allah, yaitu sesuai dengan apa yang Allah cintai dan ridhai.

Tidak boleh bagi kita untuk mengajarkan sesuatu yang kita anggap sebagai ilmu, tetapi ternyata hal itu tidak ada dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Tidak boleh bagi kita untuk menebarkan sesuatu yang kita anggap sebagai kebaikan, tetapi ternyata itu bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Oleh karena itu, kunci utama agar kita bisa menjadi orang yang senantiasa diberkahi oleh Allah adalah mempelajari ilmu syar’iy dengan baik, sebelum berkata dan beramal.

al-Bukhariy rahimahullah berkata,

باب: العلم قبل القول والعمل، لقول الله تعالى: {فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللهُ}، فبدأ بالعلم.

“Bab: Ilmu sebelum berkata dan beramal, berdasarkan firman Allah Ta’ala, ‘Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah.’ Maka, Allah mengawali dengan ilmu.” [[al-Jami’ al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtashar min Umuri Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wa Sunanihi wa Ayyamihi (atau dikenal juga dengan nama Shahih al-Bukhariy), karya Muhammad ibn Isma’il Abu ‘Abdillah al-Bukhariy (Kitabul-‘Ilm, Bab 10). ]]

Yang dimaksud oleh al-Bukhariy rahimahullah adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan dosa orang-orang yang beriman, baik laki-laki ataupun perempuan.” [[Surat Muhammad: 19. ]]

Maka, dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengawali dengan perintah untuk berilmu sebelum perintah untuk beramal, yaitu amalan memohon ampunan kepada Allah.

Ketahuilah bahwa berbicara dalam masalah agama tanpa ilmu adalah sesuatu yang diserukan dan diperintahkan oleh syaithan. Jika seseorang melakukan hal tersebut, maka pada hakikatnya dia telah mengikuti jejak langkah syaithan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ * إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِٱلسُّوٓءِ وَٱلْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Wahai manusia, makanlah yang halal dan baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian. Sesungguhnya syaithan memerintahkan kalian untuk berbuat keburukan, melakukan perbuatan yang keji, dan untuk berbicara tentang Allah apa-apa yang kalian tidak ketahui ilmunya.” [[Surat al-Baqarah: 168-169. ]]

Sebagaimana dalam berkata dan beramal itu harus dilandasi dengan ilmu, maka demikian pula ketika seseorang berdakwah. Wajib baginya untuk berilmu terlebih dahulu sebelum dia memulai berdakwah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ini adalah jalanku. Aku berdakwah kepada Allah di atas ilmu, baik aku maupun orang-orang yang mengikutiku. Maha Suci Allah, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang berbuat kesyirikan.'” [[Surat Yusuf: 108. ]]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” [[Surat al-Isra’: 36. ]]

Oleh karena itu, wajib bagi para pengajar ilmu syar’iy untuk melandaskan dakwahnya di atas ilmu syar’iy yang shahih, sebagaimana yang telah dilakukan dan diteladankan oleh para generasi terdahulu yang shalih. Dan tidak boleh bagi orang-orang yang belum berilmu untuk masuk ke medan dakwah sebagai pengajar, atau masuk ke medan dakwah tidak sebagai pengajar tetapi kemudian menentukan arah dakwah sendiri tanpa bimbingan dari orang yang berilmu. Ingatlah bahwa setiap dari kita akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat tentang segala hal yang telah kita lakukan ketika masih di dunia.

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top