Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya dengan ikhlas, yaitu mengarahkan ibadah hanya kepada Allah dan mengharapkan pahala hanya dari Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَآ Ø£ÙÙ…ÙØ±Ùوٓا۟ Ø¥Ùلَّا Ù„ÙÙŠÙŽØ¹Ù’Ø¨ÙØ¯Ùوا۟ ٱللَّهَ Ù…ÙØ®Ù’Ù„ÙØµÙينَ لَه٠ٱلدّÙينَ ØÙÙ†ÙŽÙَآءَ ÙˆÙŽÙŠÙÙ‚ÙيمÙوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ÙˆÙŽÙŠÙØ¤Ù’تÙوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ Ûš وَذَٰلÙÙƒÙŽ دÙين٠ٱلْقَيّÙÙ…ÙŽØ©Ù
“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan amalan hanya kepada-Nya, cenderung kepada kebenaran (hanif), menegakkan shalat dan membayar zakat. Itulah agama yang lurus.†[[Surat al-Bayyinah: 5. ]]
Dari ‘Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى.
“Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.†[[Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 1) dan Muslim (no. 1907). ]]
Menuntut ilmu syar’iy adalah termasuk amalan ibadah kepada Allah. Itu mengapa wajib bagi kita untuk senantiasa meluruskan niat ketika menuntut ilmu syar’iy.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من تعلَّم علما مما ÙŠÙØ¨ØªØºÙŽÙ‰ به وجه الله عز وجل، لا يتعلَّمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا، لم يجد عر٠الجنة يوم القيامة.
“Barangsiapa yang mempelajari ilmu, yang seharusnya diniatkan hanya untuk mengharapkan Wajah Allah ‘Azza wa Jalla, tidaklah dia mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka dia tidak akan mencium bau Surga pada Hari Kiamat.†[[Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3664). ]]
Termasuk perbuatan yang merusak keikhlasan seseorang dalam menuntut ilmu adalah pamer ilmu. Di antara bentuk pamer ilmu adalah ketika seseorang mempelajari suatu masalah dalam suatu bidang ilmu syar’iy, di mana dia belum ahli dalam bidang ilmu tersebut tetapi dia memperbanyak telaah dalam satu masalah itu saja, lalu dia pergi menuju kepada majelis seorang ulama’ dan beradu argumen dengan ulama’ tersebut untuk menunjukkan bahwa dia telah mencapai derajat ilmu yang tinggi.
Syaikh Muhammad ibn Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata,
Ùيأتي مثلا لمسألة من المسائل ÙÙŠØ¨ØØ«Ù‡Ø§ ويØÙ‚Ù‘Ùقها بأدلته أو مناقشتها مع العلماء، وإذا ØØ¶Ø± المجلس عالم ÙŠÙØ´Ø§Ø± إليه بالبنان، قال: ما تقول Ø£ØØ³Ù† الله إليكم ÙÙŠ كذا وكذا؟ Ùيقول العالم مثلا: هذا ØØ±Ø§Ù…ØŒ قال له Ø§Ù„Ù…ØªÙ†Ù…Ù‘ÙØ±: ÙƒÙŠÙØŸ بماذا تجيب عن قوله صلى الله عليه وسلم كذا؟ وعن قول Ùلان كذا؟ ثم يأتي بأدلة لا يعرÙها العالم، لأن العالم ليس Ù…ØÙŠØ·Ø§ بكل شيء، Ù„ÙŠÙØ¸Ù‡Ùر Ù†ÙØ³Ù‡ أنه أعلم من هذا العالم، ÙÙŠØªØØ¯Ù‘ÙŽØ« العوام ويقولون: Ùلان جلس مع العالم الكبير، ÙˆØ£ÙØÙ…Ù‡ ÙÙŠ مسألة، وقد بلغ مبلغا عظيما وصار من العلماء.
“Maka dia menuju kepada suatu masalah lalu dia menelaahnya dan mempelajari dalil-dalilnya, atau mendiskusikannya dengan para ulama’. Ketika ada seorang ulama’ terkenal di suatu majelis maka dia akan berkata, ‘Apa pendapatmu tentang masalah ini dan itu, ahsanallahu ilaikum?’ Maka ulama’ tersebut berkata misalnya, ‘Ini haram.’ Maka dia akan berkata, ‘Mengapa? Bagaimana engkau menjelaskan hadits tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini? Dan bagaimana dengan perkataan tertentu dari ulama’ Fulan dalam masalah ini?’
Kemudian dia menyebutkan dalil-dalil yang tidak diketahui oleh ulama’ tersebut, karena seorang ulama’ itu tidak mungkin mengetahui keseluruhan ilmu. Dia melakukan hal ini untuk menampakkan bahwa dirinya lebih berilmu daripada ulama’ tersebut, sehingga orang-orang banyak akan berkata, ‘Fulan duduk bersama dengan seorang ulama’ besar, dan dia mengalahkan ulama’ tersebut dalam masalah ilmu. Sesungguhnya dia telah mencapai derajat yang tinggi dan telah menjadi seorang ulama’.’†[[Syarh Hilyah Thalibil-’Ilm, karya Muhammad ibn Shalih al-’Utsaimin (hlm. 295). ]]
Lihat bagaimana ilmu syar’iy yang seharusnya menjadi kunci keselamatan bagi seseorang di dunia dan akhirat, malah justru dijadikan sebagai alat untuk meraih popularitas dunia yang justru itu akan mencelakakan dirinya kelak di akhirat?! Na’udzu billahi min dzalik.
Kemudian Syaikh al-’Utsaimin rahimahullah berkata,
ما الدواء الذي يبيّÙÙ† عواره؟ والجواب: عند انتهاء المناقشة نقول له: أعرب قول الشاعر: كذا وكذا، ÙˆØÙŠÙ†Ø¦Ø° يتبيَّن أنه Ù…ÙØ¯Ù‘َع، أو نقول له: اقسم هذه المسألة Ø§Ù„ÙØ±Ø¶ÙŠØ©ØŒ Ùيتبيَّن أنه ليس بشيء، وهذا واقع، ÙØ¨Ø¹Ø¶ طلبة العلم يكون له اختصاص ÙÙŠ شيء معيَّن مثل: أن يدرس كتاب Ø§Ù„Ù†ÙƒØ§Ø ÙˆÙŠØÙ‚Ù‘ÙÙ‚ Ùيه، لكن لو خرج إلى كتاب البيوع وهو قبل كتاب Ø§Ù„Ù†ÙƒØ§Ø ÙÙŠ الترتيب، لم تجد عنده شيئا، وبعض الناس ÙÙŠ وقتنا يتنمَّر ÙÙŠ Ø§Ù„ØØ¯ÙŠØ« Ùيعرض Ø§Ù„ØØ¯ÙŠØ« ويقول: رواه Ùلان عن Ùلان، ÙˆÙيه انقطاع وانقطاعه كذا، ولو سألته عن آية من كتاب الله لم يجب.
“Apa obat yang dapat menyingkap kecacatan orang tersebut? Jawabannya adalah: Ketika diskusi selesai, maka kita katakan kepadanya: Analisa i’rab dari perkataan penyair tertentu ini. Dengan begitu maka jelaslah bahwa dia adalah sekadar orang yang mengaku-ngaku berilmu. Atau kita katakan kepadanya: Buatlah perincian terhadap masalah tertentu ini. Dengan begitu maka jelaslah bahwa dia bukanlah siapa-siapa dalam masalah ilmu.
Hal ini nyata terjadi. Sebagian penuntut ilmu mengkhususkan belajar pada masalah ilmu tertentu, misalnya belajar kitab nikah. Tetapi jika dia menuju kepada kitab jual-beli, yang itu urutannya adalah sebelum kitab nikah, ternyata dia tidak tahu sama sekali dalam masalah tersebut.
Dan sebagian orang belakangan ini pamer ilmu dalam masalah hadits. Dia akan menyebutkan sebuah hadits lalu berkata, ‘Hadits ini diriwayatkan oleh Fulan dari Fulan. Hadits ini memiliki inqitha’, dan inqitha’-nya adalah demikian dan demikian.’ Tetapi jika engkau bertanya kepadanya tentang suatu ayat dari Kitabullah, ternyata dia tidak bisa menjawab.†[[Ibid. (hlm. 296). ]]
Selain pentingnya untuk senantiasa menjaga keikhlasan dalam menuntut ilmu dan dalam mendiskusikan ilmu, kita dapat mengambil faidah lain dari perkataan Syaikh al-’Utsaimin rahimahullah di atas, yaitu: pentingnya belajar ilmu syar’iy secara bertahap. Belajar ilmu syar’iy secara loncat-loncat, dari suatu masalah di suatu bidang ilmu lalu loncat ke masalah lain di bidang ilmu lainnya, tanpa mempelajarinya secara berurutan dan secara bertahap, cukuplah ini adalah sebuah kelemahan bagi seorang penuntut ilmu.
Na’am, belajar secara bertahap itu butuh kesabaran yang sangat ekstra. Belajar secara terstruktur dan terkurikulum itu butuh ketabahan yang sangat besar. Dan belajar secara sedikit demi sedikit itu butuh kedisiplinan yang sangat kuat. Tetapi dengan cara inilah, bi-idznillahi ta’ala, seseorang akan bisa menjadi seorang ulama’ rabbaniy. Dengan cara inilah dia akan memiliki pondasi ilmu yang kokoh, karena dia memperkuat pondasinya terlebih dahulu sebelum menegakkan bangunan ilmu yang menjulang tinggi.
Jika pondasinya tidak kokoh, tetapi dia terburu-buru meninggikan bangunan ilmunya, maka bangunan tersebut akan mudah rapuh dan roboh. Jika seseorang membahas masalah-masalah ilmu yang tinggi tetapi ternyata pondasi ilmunya tidak kuat, maka kerapuhan ilmunya itu akan terlihat dalam setiap pembahasannya. Dan jika dia terburu-buru menempatkan dirinya dalam posisi pemberi fatwa kepada orang banyak, maka sungguh merugi orang tersebut, karena berapa banyak fatwanya yang ternyata salah karena tidak dilandasi oleh pondasi ilmu yang kokoh.
Syaikh al-’Utsaimin rahimahullah kemudian melanjutkan,
ÙˆØ§Ù„ØØ§ØµÙ„: أنه يجب على الإنسان أن يكون أديبا مع من هو أكبر منه، وإذا أخطأ من هو أكبر منه ÙÙŠ هذه المسألة ÙØ§Ù„خطأ يجب أن ÙŠÙØ¨ÙŠÙ‘ÙŽÙ† لكن بأدب، أو ينتظر ØØªÙ‰ يخرج العالم ويتكلم معه بأدب، والعالم الذي يتقي الله إذا بان له الØÙ‚ ÙØ¥Ù†Ù‡ سيرجع إليه، وسو٠يبيّÙÙ† للناس رجوعه عن قوله.
“Kesimpulannya adalah: Wajib bagi seseorang untuk memiliki adab dengan orang yang lebih berilmu darinya. Jika orang yang lebih berilmu tersebut memiliki kesalahan pada suatu masalah, maka kesalahan tersebut wajib untuk dijelaskan, tetapi dengan adab. Atau dia menunggu sampai ulama’ tersebut selesai dari majelisnya, lalu dia berbicara kepada beliau dengan adab. Seorang ulama’ yang bertakwa kepada Allah, jika telah jelas kepadanya suatu kebenaran, maka sungguh dia akan ruju’ kepada kebenaran tersebut. Beliau akan menjelaskan kepada orang-orang bahwa beliau telah ruju’ dari pendapatnya sebelumnya.†[[Ibid. ]]
Inilah yang harus dilakukan oleh seorang penuntut ilmu. Jika memang ada seorang ulama’ yang terjatuh pada kesalahan, maka dia mendiskusikan masalah tersebut dengan penuh adab kepada ulama’ tersebut. Seorang penuntut ilmu itu harus menuntut ilmu syar’iy dan mendiskusikan ilmu syar’iy bukan karena haus validasi dari orang lain, tetapi karena menginginkan Ridha’ Allah dan mengharapkan Wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Termasuk juga para pengajar ilmu syar’iy ketika mengajarkan ilmu, mengisi kajian, atau menulis artikel dan posting di socmed seperti ini. Dia tidak boleh melakukannya karena haus validasi dari orang lain, tetapi, sekali lagi, karena menginginkan Ridha’ Allah dan mengharapkan Wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com