Ilmu dan amal adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Syari’at mewajibkan kita untuk menuntut ilmu syar’iy, dan syari’at juga mewajibkan kita untuk mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari tersebut.
Itu mengapa di antara doa yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ilmu yang bermanfaat dan amalan yang diterima.
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwa beliau berkata,
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول إذا صلى Ø§Ù„ØµØ¨Ø ØÙŠÙ† يسلّÙÙ…: اللهم إني أسألك علما Ù†Ø§ÙØ¹Ø§ØŒ ورزقا طيبا، وعملا متقبَّلا.
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika shalat shubuh setelah beliau mengucapkan salam, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amalan yang diterima.’†[[Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 925). ]]
Orang yang telah mengetahui ilmunya, apalagi telah mendakwahkannya kepada orang lain, maka wajib baginya untuk mengamalkan ilmunya tersebut. Jika tidak, maka ketahuilah bahwa Allah telah mencela di dalam al-Qur’an orang-orang yang telah mengetahui ilmunya dan mendakwahkannya, tetapi tidak mengamalkan ilmunya tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيّÙهَا ٱلَّذÙينَ ءَامَنÙوا۟ Ù„ÙÙ…ÙŽ تَقÙولÙونَ مَا لَا تَÙْعَلÙونَ * ÙƒÙŽØ¨ÙØ±ÙŽ Ù…ÙŽÙ‚Ù’ØªÙ‹Ø§ عÙندَ ٱللَّه٠أَن تَقÙولÙوا۟ مَا لَا تَÙْعَلÙونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengucapkan apa yang tidak kalian lakukan? Sangat besar kebencian di Sisi Allah jika kalian mengucapkan apa yang tidak kalian lakukan.†[[Surat ash-Shaff: 2-3. ]]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Ø£ÙŽØªÙŽØ£Ù’Ù…ÙØ±Ùونَ ٱلنَّاسَ بÙÙ±Ù„Ù’Ø¨ÙØ±Ù‘٠وَتَنسَوْنَ Ø£ÙŽÙ†ÙÙØ³ÙŽÙƒÙمْ وَأَنتÙمْ تَتْلÙونَ Ù±Ù„Ù’ÙƒÙØªÙŽÙ°Ø¨ÙŽ Ûš Ø£ÙŽÙَلَا تَعْقÙÙ„Ùونَ
“Apakah kalian memerintahkan manusia untuk berbuat kebaikan tetapi kalian lupa dengan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca al-Kitab? Apakah kalian tidak berpikir?†[[Surat al-Baqarah: 44. ]]
Itu mengapa dalam doa di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya sekadar meminta ilmu, tetapi beliau meminta ilmu yang bermanfaat. Dan makna dari ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang memberikan khasyyah atau rasa takut kepada Allah, sehingga dengan khasyyah ini orang tersebut akan tergerak untuk mengamalkan ilmunya, melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah, dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya.
Itu mengapa Allah menyebutkan di dalam al-Qur’an bahwa orang-orang yang takut kepada-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Ø¥Ùنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ Ù…Ùنْ Ø¹ÙØ¨ÙŽØ§Ø¯Ùه٠ٱلْعÙÙ„ÙŽÙ…ÙŽÙ°Ù“Ø¤ÙØ§ÛŸ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari para hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.†[[Surat Fathir: 28. ]]
Yakni, khasyyah atau rasa takut kepada Allah adalah patokan apakah ilmu yang dimiliki oleh seseorang itu adalah ilmu yang hakiki dan ilmu yang bermanfaat atau tidak. Jika dia memiliki ilmu tetapi tidak memiliki khasyyah atau rasa takut kepada Allah, maka ketahuilah bahwa ilmunya tersebut adalah ilmu yang tidak bermanfaat, dan dia pada hakikatnya bukanlah orang yang berilmu.
Jika kita ingin mencari keteladanan dalam masalah ini, maka lihatlah para ulama’ generasi terdahulu yang shalih. Mereka adalah orang-orang yang berusaha untuk mengamalkan setiap ilmu yang telah mereka pelajari.
Imam Ahmad rahimahullah berkata,
ما كتبت ØØ¯ÙŠØ«Ø§ إلا وقد عملت به، ØØªÙ‰ مر بي أن النبي صلى الله عليه وسلم Ø§ØØªØ¬Ù… وأعطى أبا طَيْبَة دينارا ÙØ£Ø¹Ø·ÙŠØª Ø§Ù„ØØ¬Ø§Ù… دينارا ØÙŠÙ† Ø§ØØªØ¬Ù…ت.
“Tidaklah aku menulis sebuah hadits kecuali aku telah mengamalkannya. Hingga aku membaca sebuah hadits di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan memberikan satu dinar kepada Abu Thaibah. Maka aku pun memberikan satu dinar kepada tukang bekam ketika aku berbekam.†[[Siyar A’lamin-Nubala’, karya Muhammad ibn Ahmad Syamsud-Din Abu ‘Abdillah adz-Dzahabiy (11/213). ]]
Jika ada yang bertanya: Bagaimana cara agar kita dapat mengamalkan ilmu syar’iy yang telah kita ketahui dan pelajari? Maka jawabannya adalah luruskan niat kita. Jadikan motivasi dan niat utama mengapa kita mempelajari ilmu syar’iy adalah karena ingin meraih keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengharapkan Wajah-Nya, dan menginginkan Surga-Nya. Jangan menuntut ilmu syar’iy karena mengharapkan dunia, sebab pada akhirnya nanti yang rugi adalah diri kita sendiri.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من تعلم علما مما ÙŠÙØ¨ØªØºÙ‰ به وجه الله عز وجل، لا يتعلَّمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا، لم يجد عر٠الجنة يوم القيامة.
“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya dituntut dengan mengharapkan Wajah Allah ‘Azza wa Jalla, tidaklah dia mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan bagian dari dunia, maka tidak akan mencium bau Surga pada hari kiamat.†[[Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3664). ]]
Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com