Fikih & Ushulnya

Suami dan Istri Wajib Memenuhi Hak Satu Sama Lain dalam Berumah Tangga

Syaikh ‘Abdur-Rahman ibn Nashir as-Si’diy rahimahullah berkata, يلزم كل واحد من الزوجين معاشرة الآخر بالمعروف من الصحبة الجميلة، وتوفية حقه وعدم مطله، فله عليها بذل نفسها، وعدم التكره لبذل ما عليها من استمتاع وخدمة بالمعروف. “Wajib bagi setiap dari suami dan istri untuk bermu’amalah satu sama lain dengan baik, memenuhi […]

Kapan dan Berapa Kali Kita Mengucapkan Kalimat Takbir pada Takbir Muqayyad?

Kapan Kita Mengucapkan Takbir Muqayyad? Sebagaimana telah dijelaskan di artikel sebelumnya, takbir muqayyad disyari’atkan untuk diucapkan setelah shalat fardhu, dari shalat shubuh pada hari ‘Arafah (tanggal 9 Dzul-Hijjah), hingga shalat ‘ashar di hari terakhir dari hari-hari tasyriq (tanggal 13 Dzul-Hijjah). Akan tetapi, perlu ditekankan di sini bahwa takbir muqayyad hanya

Hukum Bertakbir secara Berjama’ah dalam Satu Suara secara Serempak

Ibnul-Haj al-Fasiy rahimahullah berkata, والسنة المتقدمة أن يجهر بالتكبير فيسمع نفسه ومن يليه، والزيادة على ذلك حتى يعقر حلقه من البدع، إذ أنه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم إلا ما ذكر، ورفع الصوت بذلك يخرج عن حد السمت والوقار، ولا فرق في ذلك، أعني في التكبير، بين

Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad pada Hari-Hari Dzul-Hijjah

Ada dua jenis takbir yang disyari’atkan untuk diucapkan pada hari-hari Dzul-Hijjah. Pertama: Takbir muthlaq (التكبير المطلق), yaitu takbir yang tidak dikaitkan dengan akhir shalat. Disunnahkan bagi kita untuk mengucapkan kalimat takbir ketika kita berada di dalam rumah, di jalan, di atas kendaraan, di pasar, dan sebagainya, ketika kita telah memasuki

Puasa ‘Arafah Mengikuti Saudi atau Pemerintah Kita?

Jika penetapan awal bulan Dzul-Hijjah berbeda antara Saudi Arabia dan negeri kita Indonesia, maka kapan kita melaksanakan puasa ‘Arafah? Apakah kita melaksanakan puasa ‘Arafah pada hari di mana para jama’ah haji melaksanakan wuquf di ‘Arafah, atau pada tanggal 9 Dzul-Hijjah mengikuti keputusan dari pemerintah kita? Hal ini bertumpu pada dua

Haruskah Aku Bermadzhab?

Di antara permasalahan yang banyak diperdebatkan oleh kalangan penuntut ilmu dan kaum muslimin secara umum adalah mengenai hukum bermadzhab. Haruskah aku bermadzhab? Apakah bermadzhab itu adalah sesuatu yang terpuji atau bahkan tercela? Dan bukankah bermadzhab itu akan mengarah pada fanatisme buta yang itu tercela? Untuk menjawab berbagai pertanyaan ini, harus

Perhatikan Wudhu’ Kita agar Shalat Kita Sah

Agar shalat kita sah atau diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kita harus memperhatikan syarat-syarat sahnya. Di antara syarat sah shalat adalah thaharah, yaitu suci dari hadats, baik itu hadats akbar ataupun ashghar, dan suci dari najis, baik itu najis pada badan, pakaian, ataupun tempat kita melaksanakan shalat. Itu

Allah Menjadikan Pernikahan sebagai Jalan untuk Meraih Ketenangan dan Ketenteraman

Di antara maksud syari’at dari disyari’atkannya pernikahan adalah sebagai jalan untuk meraih ketenangan dan ketenteraman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian

Scroll to Top