Dakwah Tidak Butuh Kita, tetapi Kita yang Butuh Dakwah

Salah satu kewajiban dari orang-orang yang telah diberikan ilmu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah mengajarkan dan mendakwahkan ilmu tersebut kepada manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Katakanlah (wahai Rasul), ‘Inilah jalanku. Aku berdakwah kepada Allah di atas bashirah (ilmu); aku dan orang-orang yang mengikutiku.’” [1]

Itu mengapa ketika menjelaskan tentang ciri-ciri orang-orang yang beruntung di Surat al-’Ashr, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa di antara ciri mereka adalah saling menasihati dengan kebenaran, yakni mengajak manusia untuk menuju dan menetapi kebenaran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi waktu. Sungguh manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, saling menasihati dengan kebenaran, dan saling menasihati untuk bersabar.” [2]

Adapun jika orang-orang yang telah diberikan ilmu tersebut tidak berusaha untuk menyebarkan dan mendakwahkan ilmunya, tidak memerintahkan manusia kepada yang ma’ruf, dan tidak melarang mereka dari yang munkar, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggantikan mereka dengan orang-orang yang lebih baik dari mereka, lalu Allah akan berikan mereka hidayah dan taufiq untuk menyebarkan dan mendakwahkan kebenaran tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ۚ فَإِن يَكْفُرْ بِهَا هَٰؤُلَاءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَّيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ

“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan al-Kitab, hukum, dan nubuwwah. Jika mereka kufur kepadanya, maka sungguh Kami telah menyerahkannya kepada kaum yang tidak kufur kepadanya.” [3]

Orang-orang yang pertama kali tercakup dalam ayat ini adalah orang-orang kafir Quraisy. Ketika Allah menurunkan al-Qur’an dan as-Sunnah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita lihat bagaimana reaksi dari orang-orang Quraisy di Makkah. Jika mereka kufur kepada ajaran Islam dan tauhid yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah menegaskan bahwa Dia akan memberikan hidayah dan taufiq kepada orang-orang lain selain mereka untuk beriman dan berpegang teguh kepada ajaran Islam dan tauhid tersebut.

Dan itulah yang terjadi. Ketika orang-orang kafir Quraisy justru memusuhi dan memerangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dari kalangan mereka sendiri yaitu Quraisy, maka Allah kemudian memberikan hidayah dan taufiq kepada orang-orang al-Aus dan al-Khazraj di Yatsrib untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini adalah titik tolak dari dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang awalnya beliau dan para sahabat tidak bisa mendapatkan ruang untuk beramal dan berdakwah ketika masih di Makkah, Allah kemudian meneguhkan mereka dan memudahkan jalan mereka untuk beramal dan berdakwah, dengan cara yang sebelumnya tak pernah disangka-sangka!

Siapa yang dapat menyangka sebelumnya bahwa kemenangan dakwah Islam dimulai dari dukungan penuh dari orang-orang di Yatsrib kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Dan siapa yang dapat menyangka sebelumnya bahwa keislaman orang-orang di Madinah tersebut diawali ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendakwahi enam orang dari Yatsrib yang sedang hendak melaksanakan ibadah haji ke Makkah pada tahun kesebelas kenabian? Enam orang tersebut adalah Abu Umamah As’ad ibn Zurarah, ‘Auf ibn al-Harits, Rafi’ ibn Malik, Quthbah ibn ‘Amir, ‘Uqbah ibn ‘Amir, dan Jabir ibn ‘Abdillah ibn Ri’ab, radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Melalui keenam orang inilah Allah memberikan kemenangan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana keenam orang tersebut semuanya berasal dari Suku al-Khazraj dari Yatsrib, bukan dari Suku Quraisy dari Makkah!

Dengan kata lain, titik tolak kemenangan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diawali, misalnya, dengan beliau berencana mengatur strategi untuk mengambil alih kekuasaan Makkah dari orang-orang kafir Quraisy, tetapi justru ketika beliau melaksanakan rutinitas beliau mendakwahkan Islam dan tauhid kepada siapa pun yang beliau temui, tanpa mengharapkan balasan dari mereka sama sekali. Allah-lah yang kemudian memberikan hidayah dan taufiq kepada enam orang dari Yatsrib tersebut untuk masuk Islam, dan kemudian membuat mereka tergerak untuk mendakwahkan Islam di Yatsrib, sehingga orang-orang di Yatsrib (yang akhirnya dikenal dengan nama al-Madinah al-Munawwarah) kemudian mendukung penuh dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam!

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil ‘ibrah atau pelajaran bahwa jika kita tidak berjuang untuk Islam, maka Allah akan menggantikan kita dengan orang-orang yang lebih baik dari kita, dan merekalah yang akan berjuang untuk Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُم

“Dan jika kalian berpaling, maka Dia akan mengganti kalian dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kalian.” [4]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ * عَلَىٰ أَن نُّبَدِّلَ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ

“Maka Aku bersumpah dengan Rabb-nya timur dan barat, sungguh Kami benar-benar Maha Kuasa untuk mengganti mereka dengan kaum yang lebih baik dari mereka. Dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan.” [5]

Demikian pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ وَيَأْتِ بِآخَرِينَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ قَدِيرًا

“Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kalian wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai pengganti kalian). Dan Allah atas hal tersebut sungguh Maha Kuasa.” [6]

Oleh karena itu, bergembiralah orang-orang yang telah dimudahkan oleh Allah untuk berdakwah di jalan-Nya. Yang berdakwah kepada Allah, bukan berdakwah kepada diri mereka sendiri. Yang memerintahkan manusia kepada yang ma’ruf, dan yang melarang mereka dari yang munkar. Yang telah mengajarkan dan menyebarkan ilmu syar’iy kepada masyarakat, atau ikut andil dalam proses penyebaran ilmu tersebut walaupun bukan sebagai pengajar. Berbahagialah, semoga kita semua termasuk dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu ‘Inabah al-Khaulaniy radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يزال الله يغرس في هذا الدين غرسا يستعملهم في طاعته.

“Allah terus-menerus menanam orang-orang di dalam Din ini, mempekerjakan mereka dalam ketaatan kepada-Nya.” [7]

Yakni, Allah akan senantiasa menyiapkan orang-orang di dalam Din ini, di mana Allah akan berikan hidayah dan taufiq kepada mereka, sehingga melalui merekalah ilmu dan ketaatan kepada Allah itu menjadi tersebar di tengah-tengah manusia.

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Catatan Kaki:
  1. Surat Yusuf: 108. []
  2. Surat al-’Ashr: 1-3. []
  3. Surat al-An’am: 89. []
  4. Surat Muhammad: 38. []
  5. Surat al-Ma’arij: 40-41. []
  6. Surat an-Nisa’: 133. []
  7. Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 8) dan Ahmad (no. 17787). []

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top