Penjelasan Matan Akhsharul-Mukhtasharat – Kitab Thaharah – Definisi Thaharah

[Ini adalah penjelasan dari kami untuk kitab Akhsharul-Mukhtasharat fil-Fiqh ‘ala Madzhabil-Imam Ahmad ibn Hanbal (أخصر المختصرات في الفقه على مذهب الإمام أحمد بن حنبل), karya Syaikh Muhammad ibn Badrid-Din Ibnu Balban al-Hanbaliy rahimahullah. Perkataan beliau dituliskan dengan warna merah.]

Dalam bahasa Arab, thaharah (طهارة) bermakna

النظافة والنزاهة عن الأقذار.

“Suci dan bersih dari kotoran-kotoran.”

Adapun secara syari’at, maka thaharah terdiri atas dua jenis:

Pertama: Thaharah ma’nawiyyah (الطهارة المعنوية) atau thaharah bathinah (الطهارة الباطنة), yaitu suci dari dosa-dosa seperti kesyirikan, kekufuran, kemunafikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan.

Kedua: Thaharah hissiyyah (الطهارة الحسية) atau thaharah zhahirah (الطهارة الظاهرة), yaitu suci dari hadats dan najis.

Thaharah jenis kedua inilah yang akan menjadi fokus para fuqaha’ dalam kitab-kitab fikih mereka. Oleh karena itu, thaharah yang kita maksudkan dalam setiap pembahasan ke depannya adalah thaharah jenis kedua ini.

Definisi dari para fuqaha’ untuk thaharah adalah

ارتفاع الحدث وزوال الخبث وما في معناهما.

“Terangkatnya hadats, hilangnya najis, dan apa yang semakna dengan keduanya.”

Dari definisi ini, kita dapat menyimpulkan bahwa thaharah terbagi menjadi empat kategori:

Kategori Pertama: Terangkatnya hadats, baik itu hadats ashghar atau hadats kecil, yang dapat diangkat dengan melakukan wudhu’, ataupun hadats akbar atau hadats besar, yang dapat diangkat dengan melakukan ghusl (mandi wajib).

Kategori Kedua: Hilangnya najis, baik pada badan, pakaian, dan tempat.

Kategori Ketiga: Apa yang semakna dengan terangkatnya hadats. Contohnya adalah:

Pertama: Tayammum, karena ia sebenarnya tidak mengangkat hadats, tetapi sekadar membolehkan untuk shalat.

Kedua: Ketika seseorang memperbarui wudhu’, maka tidak ada hadats yang terangkat, karena memang dia sudah memiliki wudhu’ dari awal. Oleh karena itu, memperbarui wudhu’ tidak bisa dimasukkan dalam kategori pertama dari thaharah, padahal tentu saja ia dianggap sebagai thaharah oleh syari’at. Itu mengapa memperbarui wudhu’ dimasukkan dalam kategori ketiga dari thaharah ini.

Ketiga: Ketika seseorang melakukan mandi sunnah, seperti mandi Jum’at, dan dia tidak sedang dalam kondisi junub, maka mandinya tersebut bukan dalam rangka mengangkat hadats, sehingga tidak bisa dimasukkan dalam kategori pertama dari thaharah. Itu mengapa mandi sunnah dimasukkan dalam kategori ketiga dari thaharah ini.

Kategori Keempat: Apa yang semakna dengan hilangnya najis. Contohnya adalah istijmar, yaitu istinja’ dengan menggunakan batu dan yang semisalnya. Walaupun ia dapat menghilangkan benda najis yang keluar dari qubul atau dubur, tetap ada bekas najis yang tersisa, yang itu memang tidak bisa dihilangkan dengan sempurna kecuali dengan air. Itu mengapa istijmar tidak dimasukkan dalam kategori kedua dari thaharah, tetapi dimasukkan dalam kategori keempat ini.

Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top